Amin Rais dan MH Ainun Najib: Indonesia Butuh Pemimpin yang Bermental Berani untuk Keluar dari Masalah Bangsa dan Tidak Jadi “Emprit”


Pada kesempatan Maiyah Padhang Bulan tanggal 17 Ramadhan ini di Bantul Yogyakarta di Rumah Cak Nun, hadir tamu istimewa yaitu Prof. Dr. Amin Rais, MA., mantan Pimpinan Muhammadiyah dan mantan Ketua MPR RI. Menurut saya, ini adalah salah satu daya tarik pengajian ini yaitu selalu memberikan suprise atau kejutan-kejutan tiap bulannya. Tamu yang dihadirkan selalu baru dan sangat menarik.

Malam itu, Amin Rais didampingi Harwanto Dahlan yang merupakan salah satu aktivis Muhammadiyah Yogyakarta. Amin menyampaikan berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia. Dia menjelaskan berdasarkan seperti apa yang dia sampaikan di buku yang dia tulis baru-baru ini, yang berjudul “Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!“.

Setelah panjang lebar sekitar 2 jam Amin memaparkan pemikirannya malam itu, diskusi pun digelar. Ada 6 jamaah yang diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan. Kebetulan, saya adalah salah satunya. Saya mempertanyakan perihal realitas bahwa pemimpin Indonesia sebenarnya telah mengetahui dengan jelas apa permasalahan yang ada di Indonesia, terus mengapa penyelesaiannya terasa sulit sekali? Seharusnya, apabila identifikasi masalah telah jelas, maka eksekusi penyelesaiannya pun seharusnya lebih mudah. Tak sedikit, formasi Menteri yang membantu presiden pun adalah para guru besar dari UGM yang juga berarti ‘teman’ Amin Rais.

Amin dan Cak Nun menjawab pertanyaan saya dengan singkat, bahwa yang belum ada pada pemimpin bangsa ini adalah yang bermental pemberani. Yaitu berani mengambil keputusan terbaik yang tujuannya adalah untuk mensejahterakan rakyat Indonesia. Mereka tidak bermental irlander. Bila tindakan atau perbuatan atau keputusan negara lain merugikan atau ada indikasi menyengsarakan rakyat Indonesia, maka pemimpin tersebut harus berani menentang. Para investor asing yang telah menguasai sebagian besar perusahaan Indonesia harus dikaji ulang kontrak kerjasamanya. “Semua itu bisa dan hukum membolehkannya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berbuat bagi bangsa Indonesia”, demikian tutur Amin Rais.

Pada kesempatan itu pula, Cak Nun meminta Amin Rais untuk tidak ikut-ikutan ‘berebut kelereng’ pada Pemilu 2009. “Pak Amin, alangkah baiknya bila panjenengan tetap menjadi orang tua saja. Pak Amin dengan beberapa sesepuh indipenden dan masih berpikir jernih demi kemajuan Indonesia lebih baik membuat semacam presidium atau dewan perkumpulan sesepuh yang berfungsi untuk terus memonitor, mengingatkan, dan menegur pemerintah apabila tidak pada jalurnya,” ujar Cak Nun menanggapi pencalonan Amin Rais pada Pemilu 2009. (Mishbahul Munir)

About these ads

2 responses to this post.

  1. thank u fr comming my web….. gmn komentar anda tentang pamimpin negara ini kedepan?

    Balas

  2. terimakasih juga pak Lutfi atas komentarnya.
    terkait pemimpin Indonesia kedepan, saya setuju dengan yang disampaikan oleh Prof. Amin Rais dan Cak Nun, bahwa harus bermental berani melawan ketidakbenaran, seperti KKN, politik ‘tak baik’ dari luar negeri, dan lain sebagainya.
    Nah, untuk PEMILU 2009, seperti yang tulis di artikel terbaru, bakal makin tidak baik, karena akan banyak pemodal dunia yang membackup kampanye politisi Indonesia. Tentunya, dengan janji2 yang sudah dapat kita prediksikan.
    Terus, bagaimana menurut Anda sendiri?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 16.675 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: