“Gus Dur Mau Dibunuh”


Seorang teman di Milis Guyub Bahasa menulis artikel berjudul “Gus Dur Mau Dibunuh”. Menurut saya artikel ini menarik. Saya tergelitik untuk menyunting tulisan ini di blog saya. Berikut lengkapnya:

Gus Dur Mau Dibunuh.

Itu judul berita di halaman muka surat kabar harian Nonstop yang saya baca di stasiun kereta api Bekasi hari ini (6/6/08). Beritanya berkaitan dengan kerusuhan Monas 1 Juni yang lalu antara kelompok Front Pembela Islam atau FPI dan AKKBB. Tetapi itu tidak penting dalam tulisan ini.

Yang mengherankan dan sekaligus mengagumkan saya adalah soal Gus Dur dalam judul berita itu. Saya pikir hebat benar Gus Dur, kok mau-maunya dibunuh. Untuk apa? Saya pikir ini bukan saja logika wartawan penulis berita itu yang tidak jalan, tetapi juga Gus Dur yang sudah kehilangan nalar.

Zaman sekarang ini orang di mana pun dan siapa pun, dia pastilah mau hidup seribu tahun lagi, dan kalau perlu tidak usah mati sekalian, langsung masuk surga. Kalau begitu, kenapa Gus Dur mau dibunuh?

Gus Dur yang juga Presiden Republik Indonesia keempat itu pastilah orang baik, sebab dia juga seorang kiai haji. Manalah mungkin, dan tentu saja tidak masuk akal jika Gus Dur mau membunuh orang lain.

Ini kalimat menjadi rancu karena kebiasaan orang bertutur dalam kalimat lisan. Ada dua masalah yang membingungkan saya, yakni penggunaan kata “mau” dan kata bentuk pasif “dibunuh”.

Ada kebiasaan orang di pulau Jawa pada umumnya yang suka melesapkan subjek dalam bentuk kalimat pasif berawalan “di”, seakan-akan semua kalimat harus berbentuk pasif. Alih-alih menggunakan kata “goyang” seorang pewara atau penyanyi dangdut di layar teve akan berkata “digoyang”.

Maka berserulah pewara dengan kalimat ini: “Mau digoyang…. .???!!” Tidak jelas apanya yang digoyang. Setelah penyanyinya meliuk-liuk barulah kita mengerti bahwa yang digoyang itu adalah pinggul atau bokongnya. Nah, persoalan “pinggul mau digoyang” itu pun bikin bingung, sebab mana ada pinggul yang memiliki kemauan. Mau itu sama saja dengan suka. Di dalam KBBI “mau” artinya sunguh-sungguh suka hendak; suka akan; sudi.

Yang punya kemauan atau kesukaan itu cuma manusia dan makluk hidup lain yang bernapas. Mau atau suka itu pun haruslah tujuannya untuk menyenangkan dan membahagiakan dirinya. Misalnya saya mau makan. Kambing itu mau kawin. Karena itu Gus Dur Mau Dibunuh atau Gus Dur Mau Membunuh pastilah tidak masuk akal karena pekerjaan itu tidak menyenangkan dirinya (kecuali jika Gus Dur berprofesi sebagai pembunuh bayaran).

Lain soal kalau “Luna Maya mau dicium” maka sayalah yang akan “nyosor” duluan. Itu yang namanya Kang Tendy, Apollo, Uu, atau Pak TDA sekalipun mohon agar menjauh. Nanti saya bunuh kalian. Dengan kata lain, kalian mau saya bunuh kalau ikut-ikutan mau dicium Luna Maya. Hehehe…..

(oleh Umbu Rey/Antara; diunduh dari Milis Guyub Bahasa: guyubbahasa@yahoogroups.com)

One response to this post.

  1. wahhh kamu harus belajar ilmu tata bahasa dulu trus belajar ilmu MANTIK dan BALAGOH serta ilmu BAYAN

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: