Analisis Change Management pada PT. Holcim Indonesia, Tbk: Hasil Diskusi Kelas Matakuliah Pengelolaan, Pengembangan, dan Perubahan Organisasi


Berikut ini adalah hasil diskusi Pertemuan ke-12 Matakuliah Pengelolaan, Pengembangan, dan Perubahan Organisasi yang diampu Dra. Reni Rosari, MBA., di FEB UGM. Kelompok yang mempresentasikan adalah Leila Khadarsih, Agustina Sapta M., Ervani Devi N., Rheni Maryani, dan Shesharina Ayu dengan mengangkat tema “Change Management pada PT. Holcim Indonesia, Tbk”. Selamat membaca!

Presentasi dimulai dengan sejarah PT. Holcim Indonesia, Tbk., yaitu pada Desember 2001, Holcim Inc, perusahaan semen asal Swiss, mengakuisisi PT Semen Cibinong Tbk dengan membeli 77,33% sahamnya yang diperdagangkan di bursa saham Jakarta. Holcim Inc, adalah perusahaan internasional yang sistemnya sudah berjalan dengan baik di 70 negara di dunia.  Oleh karena itu, nama perusahaan pun diubah, dari PT. Semen Cibinong menjadi PT. Holcim Indonesia, Tbk.

Perubahan nama ini menandai selesainya sebuah tahapan penting dalam perjalanan penanaman modal Holcim Inc., di Indonesia. Perubahan ini juga menjadi faktor utama perubahan identitas pada serangkaian perubahan paradigma, produk, produksi, manajemen, karyawan, marketing sampai pada pembangunan komunitas perusahaan.

Change Management

Karena saat diakuisisi, PT Semen Cibinong Tbk nyaris bangkrut, maka banyak sekali change management yang dilakukan oleh Holcim dari sisi manajemen sumber daya manusia, pemasaran, produksi, serta riset & pengembangan (R & D). PT Holcim Indonesia, Tbk., menancapkan visinya di Indonesia yaitu dengan “Menjadi Perusahaan Indonesia yang memiliki kinerja terbaik dan terpandang di industri semen serta menjadi salah satu perusahaan terbaik di dalam Grup Holcim”.

Bentuk Intervensi

Berdasarkan data-data dan literature yang dikumpulkan oleh kelompok presenter dan peserta di kelas, pada awal perubahan terdapat resisten dari  karyawan yang kerap mempertanyakan “Kalau dengan cara lama kami bisa berjalan, mengapa harus berubah?”

  • Strategic Intervention

Bentuk strategic intervention di PT. Holcim Indoneia, Tbk antara lain: pertama, adanya proses Akuisisi yaitu dengan mengakuisisi  PT Semen Cibinong Tbk karena kepemilikan saham  sebesar 77,33%. Kedua, adanya Culture Change. Terjadi Culture Change karena adanya perbedaan yang mencolok, misalnya kemampuan teknis antara karyawan semen Cibinong dengan Holcim.

Strategic intervention yang ketiga adalah Organization Learning and Knowledge Management. Pada intervensi ini, Holcim melakukan berbagai riset, focus group discussion hingga customer visit, yang melibatkan seluruh lapisan konsumen yang bersentuhan dengan produk-produknya, seperti pemilik rumah, tukang bangunan hingga pemilik toko bangunan. Tujuannya untuk mengetahui kebutuhan riil mereka. Untuk mengetahui kekuatan mereknya, HI menggelar survei indeks ekuitas merek (brand equity index) sebagai salah satu bagian pembelajarannya.

  • Human Process Intervention

Ada bentuk human process intervention yang dilakukan PT. Holcim Indonesia yaitu adanya Training and Development. Proses proses ini, PTHI memberikan pelatihan Ecosim (economic simulation) kepada distributor yaitu  pelatihan kewirausahaan agar mereka bisa menjalankan bisnis sesuai dengan etika dan pengelolaan yang baik. Memberikan pelatihan kepada karyawan dengan topik mengelola keuangan dengan baik. Karyawan yang tidak pernah presentasi dilatih untuk mempresentasikan sesuatu.

  • Human Resources Management Intervention

Sedangkan untuk intervensi ini PT Holcim Indonesia melakukan diantaranya dengan Goal Setting yaitu dengan menetapkan misi untuk membangun sesuatu yang lebih baik. Mengubah nama PT Semen Cibinong Tbk menjadi PT Holcim Indonesia Tbk dengan tujuan untuk menguatkan posisi Holcim di pasar lokal dan ada leverage yang ingin didapat dengan menggunakan nama yang sudah dikenal baik di tingkat global. Bentuk berikutnya adalah Reward System dengan Performance Based Appraisal dan Career planning and Development yaitu karir karyawan semakin jelas dan kemampuannya terus ditingkatkan karena ada program performance based appraisal.

  • Technostructural Intervention

Ada dua bentuk intervensi ini yaitu, Employee Involvement atau lebih melibatkan karyawan dalam setiap pengambilan keputusan, dan Reengineering dengan bentuk: modernisasi pabrik-pabrik yang sudah tua misalnya di Cilacap agar produktivitas dapat lebih ditingkatkan, memperbaiki kapasitas produksi dengan investasi di mesin-mesin baru, serta tidak lagi mengandalkan energi listrik tetapi mulai menggunakan energi alternatif seperti batu bara sampai tempurung kelapa sawit yang mampu menghemat biaya produksi sampai 10%.

Profil dan perkembangan terkini terkait PT Holcim Indonesia Tbk dapat dilihat di sini. (Mishbahul Munir)

One response to this post.

  1. Posted by amin on 9 November 2011 at 16:05

    holcim semenya udah berkualitas.tpi simtem kerja distributor kurang prefesional.itulah coment yg aq dapat dri toko2 bangunan yg ad di wilayah malang.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: