Apakah Kita Harus Sukses Sendiri?


Hari ini aku begitu bahagia. Saya diberi kesempatan untuk berbicara di depan temen-temen sekelas. Acara yang sebenarnya memang saya usulkan ini digelar di Rumah Makan Sedang Ayu, tempatnya tak jauh dari lokasi Candi Prambanan. Hmm, saya bahagia, pertama, karena ide saya untuk berkumpul dan diskusi untuk kelas Manajemen Program Swadaya Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM terealisir (11 Mei 2008, dari pukul 11.00 WIB hingga 16.00 WIB). Alasan kedua, karena saya bisa berbuat sesuai untuk teman-teman kelas saya dan pastinya dengan harapan bermanfaat bagi kami.

Dalam kesempatan tersebut, saya mengawali diskusi dengan menyampaikan tujuan diadakannya makan-makan plus diskusi tersebut. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah karena ada perasaan kurang kondusif di kelas kami. Perasaan ini rupanya diamini oleh hampir semua temen-temen sekelas. Terasa ada gap-gap yang tak produktif di kelas kami. Selain menimbulkan ketidaknyamanan, hal ini juga akan menjadikan suasana belajar tidak begitu kondusif. Akan terjadi persaingan yang tak sehat di antara kami. Yang pintar kumpul dengan temen-temen yang ‘merasa’ pintar. Yang tak begitu pintar, seperti saya ini, jadinya tak punya teman ketika di kelas.

Suasana ini juga membuat visi FEB UGM menjadi terhambat. Visi itu menyebutkan “kami harus bisa menjadi pemain dan bila perlu pemenang dalam persaingan global”. Bunyinya begini visi itu: “meeting the international challenges”. Apa korelasi visi ini dengan kenyataan kami di kelas? Jelas, ini ada pautannya. Suasana kelas yang cenderung ‘negatif’ pasti akan mempengaruhi kami untuk menjadi pembelajar yang baik, yang nilainya bagus dan sesuai standar yang diharapkan oleh petinggi FEB UGM. Salah satu faktor pendukung sukses atau tidaknya proses belajar yang baik, menurut saya, adalah persaingan yang positif dan sehat di kelas.

Nah, dalam kesempatan ini, saya mencoba menggugah hati temen-temen di kelas untuk mencoba belajar, membantu belajar, dan berkontribusi seimbang dalam kelas. “Temen-temen rela bila ada salah satu di antara kita ada yang harus mengulang, hanya gara-gara kita cuek dan sok pintar dengan dia? Apakah temen-temen tidak bahagia, apabila dengan kontribusi positif kita kepada salah satu temen kita yang jelas-jelas tak begitu pintar nantinya bisa lulus tepat waktu bersama kita dan mendapatkan nilai yang tak beda jauh bagusnya dengan kita? Apakah temen-temen tidak bahagia, mendengar teman kita yang kurang pintar tadi sebulan setelah lulus langsung mendapatkan pekerjaan yang layak?”, itu pertanyaan-pertanyaan gugahan hati yang saya sampaikan kepada mereka.

“Apakah tak bisa, siapa yang biasanya pintar bicara atau aktif di kelas, kemudian setelah pertemuan ini kita berikan kesempatan kepada teman kita yang tak bisa ngomong untuk bicara? Mungkinkah bila perlu kita kasih dia pertanyaan untuk dia tanyakan? Bisakah bila ketika teman kita ngomong kita lebih menghargainya, bukan bersikap sok pintar atau menghina teman kita yang tanya, seperti yang selama ini terjadi? Mungkinkah bila kita dorong dan beri motivasi temen kita, seperti saya ini, yang malas belajar untuk giat bersama-sama dan yang tak biasa bicara di kelas kita ajarkan dan buat kondisi yang membuat dia berani berdiskusi? Bisakah kita maju dan berprestasi bersama untuk mencapai kesuksesan bersama? Mencapai visi FEB UGM bersama pula?” ini renungan yang saya coba sodorkan kepada mereka.

Poin kedua yang saya sampaikan kepada teman-teman adalah menanyakan, apakah forum diskusi seperti ini layak dilanjutkan terus? Bagaimana ke depan bentuk pertemuan kita agar semua bisa nyaman dan berkomitmen terus? Saya menanyakan hal ini, bermaksud untuk tidak ingin memaksakan ide saya kepada mereka. Siapa tahu, di antara kami memang ada yang kurang setuju.

Dan, hmmm, alhamdulillah, hanya 2 orang teman yang masih agak ragu-ragu. Itupun karena alasan teknis dan kesibukan mereka saja. Teman pertama mengatakan, “Saya agak ragu-ragu untuk menyetujui hal ini. Alasan saya, bila terus dilaksanakan di tempat yang mahal seperti ini, saya jelas gak kuat urun rembug patungan membayar makannya. Alasan saya berikutnya, waktu yang kurang begitu tepat karena hari Sabtu dan Minggu biasanya saya harus pulang ke Solo. Saya rutin pulang tiap minggu je“.

Teman kedua mengatakan, “Saya sebenarnya setuju aja sih, cuman, karena kesibukan saja, perlu dicari format dan waktu yang lebih tepat untuk melanjutkan kegiatan seperti ini. Ya, maklum aja, saya harus mondar-mandir ke luar kota”. Perlu pembaca tahu, teman kedua ini adalah Owner-nya Butik Pesta 42 yang ada di Mall Ambarukmo Plaza dan Ramai Mall.

Yah, secara umum, garis besarnya teman-teman setuju dengan maksud diadakannya kegiatan diskusi ini. Bahkan, untuk pertemuan berikutnya, Rio, Cahyo, Dina dan Adit, menawarkan diri, untuk bulan depan mereka yang akan traktir. Mereka berempat berulangtahun di bulan Juni bersamaan. “Trims dab, saya tunggu traktirannya. Semoga kita semua bisa membuat andil untuk membuatmu bahagia di hari kelahiranmu”.

Kebersamaan dan Komitmen

Sebelum mengakhiri pertemuan kami pada hari itu, saya menyampaikan beberapa kesimpulan hasil diskusi dan masukan dari teman-teman semua. Di antaranya: perlu dibangun pikiran positif (khusnudzon, positif thingking) di antara kami, mengawali hari esok dengan saling memaafkan, perlu saling paham bahwa semua orang mempunyai tipe yang pasti berbeda di antara kami, dan ada harap positif untuk menjadi lebih baik dengan adanya forum informal yang kami bangun.

Sukses selalu buat kita semua ya, kawan! Caa yooo… (Misbah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: