Etika Bisnis: Mengapa Harus Diajarkan?


Menarik untuk disimak mendiskusikan terkait ‘etika bisnis’. Ini juga menjadi matakuliah baru di Fakultas Ekonomika dan Bisnis atau FEB UGM khususnya di Jurusan Manajemen. Saya dan teman-teman seangkatan yang masuk 2007/2008 merupakan angkatan pertama yang mendapat kewajiban mengambil matakuliah ini.

Awalnya saya dan beberapa teman sempat bertanya-tanya, mengapa matakuliah seperti ini harus ada dan diajarkan di kelas. Apakah tidak cukup saja sebagai bahan bacaan orang umum? Apakah semua orang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga harus diajari etika? Pasti semua orang tau dong mana pandangan, pemikiran, dan perilaku atau perbuatan yang etis dan tidak etis?

Ibu Tur Nastiti, SE., MBA., yang mengampu kami, rupanya juga sempat berpikiran yang sama ketika mengantarkan kuliah pada pertemuan pertama kali di awal semester. Tetapi, di balik itu semua ada maksud baik dari FEB UGM menambahkan matakuliah ’etika bisnis’ dalam kurikulumnya. Munculnya matakuliah ini, dikarenakan banyaknya pelanggaran etika dalam proses bisnis persaingan global saat ini. Terjadinya korupsi yang tinggi di Indonesia juga salah satu penyebabnya yang diakibatkan karena tidak adanya awareness dari pelaku bisnis akan etika bisnis yang baik. Mereka sepertinya kurang begitu paham dan tidak mau tahu soal etika hanya karena untuk mengejar keuntungan semata, terutama keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Oleh karena itulah ada pemikiran untuk memberikan pengajaran ’etika berbisnis’ kepada mahasiswa FEB UGM yang nantinya diharapkan menjadi pelaku bisnis masa depan yang paham dan siap berbisnis secara etis.

Dan betul, setelah saya melewati pertemuan yang ke-13 pada malam tanggal 14 Mei 2008, saya baru merasakan manfaat dan dapat menyimpulkan pentingnya matakuliah ini. Manfaatnya, bagi saya dan disetujui oleh beberapa teman, adalah kita menjadi lebih paham sejauh mana etika itu berlaku. Etika itu milik siapa, siapa yang membuat, siapa yang diuntungkan, siapa yang harus menjalankan, dan siapa yang menjustifikasi etis atau tidak etis suatu proses bisnis. Sejauh mana peran pemerintah dalam sistem bisnis suatu negara? Bagaimana etika bisnis berlaku di pasar global?

Saya juga jadi sedikit paham, mana perbedaan etika dan moral. Kami diajak untuk mendiskusikan berbagai hal yang berkait dengan etika. Mulai dari etika di pasar, etika dan lingkungan, etika produksi dan pemasaran, diskriminasi dalam pekerjaan, sampai mendiskusikan hak-hak pihak lain sebelum kita menilai etika dalam sesuatu hal. Kita juga diajarkan prinsip-prinsip etis dalam berbisnis atau jenis standar moral apa untuk menilai etika.

Satu hal lagi, yang menurut saya juga penting saya sampaikan di sini adalah, kita juga dirangsang untuk bisa menjadi whistle blower (atau peniup peluit) apabila terjadi sesuatu tindak pelanggaran etika di lingkungan kita.

Selamat belajar etika dan mari bertindak yang beretika! Atau Anda punya pendapat lain? (misbah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: