Hidup dan Cinta


Hidup dan cinta tidak lahir dari teori-teori yang ada. Hidup dan cintalah yang melahirkan berjuta-juta teori. Idealitas lahir dari teori dan olah otak manusia. Prinsip itu sebuah pilihan. Idealitas dan prinsip bukan untuk kehidupan dan cinta”

Itulah kalimat yang muncul begitu saja, mengalir dari hatiku di pagi yang kurang begitu menggembirakan. Suasana hati sedang tak bersahabat dengan apa yang akan aku lakukan hari ini. Ada sebuah keinginan yang begitu kuat untuk selalu berbuat dan melakukan sesuatu yang terbaik bagi hidup ini. Namun, itulah perjalanan hidup. Aku tahu, semua tuntutan dan tuntunan mengatakan dan memerintahkan untuk selalu berpikir, melakukan, dan berbuat yang terbaik.

Manusiawi memang, bila, kadang-kadang, kita merasakan sesuatu ‘ketidakpuasan’ yang mengakibatkan ‘kemalasan’ untuk berbuat. Aku juga tidak setuju bila alasan usia muda menjadi ‘pembenar’. Tak seorang pun di dunia ini, yang anak-anak, remaja, dewasa, hingga tua renta, pasti akan merasakan sebuah ‘kemalasan’. Kemasalan untuk berbuat dan berpikir.

Tidak. Semua ini rupanya ada obatnya. Sang Pencipta melahirkan kemalasan pasti ada ‘alasan’ dan ‘penyembuhnya’. Kembali ke hati nurani. Itulah jawabannya. Apapun masalah kita, apapun persoalan yang kita hadapi, bila kita kembalikan semuanya pada hati nurani, pasti akan menjawab semuanya.

Sekedar contoh: “Kita tak puas dengan pekerjaan kita yang hanya dihargai tak setimpal dengan keringat dan usaha serta pikiran yang kita dedikasikan. Cobalah kita rasakan dengan hati. Kita membutuhkan aktifitas. Kita membutuhkan pekerjaan. Kita membutuhkan penghasilan. Kita membutuhkan aktualisasi diri. Kita membutuhkan ‘uang’ untuk membiayai hidup kita. Kita ibadah membutuhkan ‘tenaga’. Semua itu hanya bisa kita dapatkan, bila, dan hanya jika, kita mau menjalani pekerjaan dengan segala keikhlasan dan kesabaran. Mungkin saja, institusi dimana kita bekerja, saat ini memang sedang dan baru bisa menghargai hasil kerja kita sebesar itu. Siapa tahu, dan kita terus berharap dengan segala dedikasi kita, institusi kita itu bisa menjadi makin maju, terbaik, dan bisa mendapatkan profitabilitas yang tinggi, yang dapat memakmurkan dan mensejahterakan kita semua.”

Semoga dapat diambil hikmahnya. Amin. (Misbah)

One response to this post.

  1. Posted by may on 28 Agustus 2008 at 07:08

    Yang pantas kita harapkan adalah hanyalah Allah, bukan siapa2, bukan bos kita, teman kita bahkan orangtua kita selalipun. karena bila kita berharap pada sesama makhluk akan menimbulkan kekecewaan bila harapkan kita tidak sesuai yang kita inginkan. pengalaman telah mengajari saya, ternyata menyakitkan bila kita meminta kepada oranglain kita berharap akan dikasih, tapi ternyata tidak. dari situ saya gak akan berharap lagi pada siapapun kecuali hanya kepada Allah,dan saya yakin apapun yang terjadi pada diri kita itulah yang terbaik, baik suka maupun duka, dan yang paling penting kita harus selalu Ikhtiar dan berpositif thinking pada Allah SWT.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: