Kebaikan Seorang Dosen: “Bisa Memberi Nilai A, Kenapa Harus A- apalagi E”?


“Ada sesuatu yang tak bernilai materi ketika saya bisa memberikan nilai A kepada mahasiswa saya. Saya yakin, mahasiswa yang dapat A, bahagianya pasti tak ketulungan. Bila dia bahagia, doa-doa yang baik pasti diberikan kepada saya. Nah, doa yang baik-baik itulah yang tak mudah kita dapatkan di dunia ini. Senyum saja bernilai ibadah, apalagi kebahagian karena nilai A?”

Demikian yang disampaikan oleh Wakhid Slamet Ciptono, Drs., M.B.A., M.P.M., ketika memberikan kuliah Manajemen Operasi di FEB UGM yang saya ikuti. Alasan yang sangat logis menurut saya. Selain kebahagiaan dan doa kebaikan, mahasiswa pun merasa mendapatkan dorongan semangat yang luar biasa. Pengalaman saya sendiri, ketika diawal semester Pak Wakhid menyampaikan demikian, saya merasa perlu menghormati beliau dengan niat tulus seperti itu. Motivasi saya untuk makin giat belajar matakuliah yang beliau ampu juga kian meningkat. Dan, alhamdulillah, sampai akhir pertemuan 23 Mei 2008, saya belum pernah tak masuk kuliah. Tugas pun, dengan berbagai cara dan jeri payah tak terhingga, walaupun tiap pertemuan ada tugas, dapat saya kerjakan sebaik mungkin dan mendapatkan nilai tak pernah kurang dari 90.

Untuk membangkitkan semangat dan komitmen teman-teman sekelas, metode pengajaran beliau pun dibuat semenarik mungkin. Sebagai contoh, penyampaian materi dibuat sesimpel mungkin tapi mahasiswa paham, mahasiswa di kelas pun tak segan bertanya ke beliau karena tak ada image takut atas beliau yang ada cuman segan, tiap akhir kuliah beliau selalu memberikan kuis yang barusan beliau ajarkan. Cara lain yang beliau gunakan adalah ketika ujian tengah semester, mahasiswa diminta untuk membuat ringkasan materi selama sebelum ujian maksimal 8 halaman folio. Ringkasan tersebut sebagai bahan belajar dan silahkan dibuka ketika ujian.

Ketika akhir kuliah, saya mencoba menengok absensi temen-temen se kelas. Dan, hebatnya, hanya 2 orang teman yang tidak masuk 2 kali. Itupun mungkin karena ada halangan yang tak bisa ditinggal.

Dari cerita ini saya hanya ingin mengajak siapapun untuk memberikan yang terbaik bagi siapapun dan mendorong diri sendiri serta orang lain untuk berbuat baik. Bagaimana menurut Anda?

Terimakasih kepada Pak Wakhid, semoga Beliau selalu diberikan kesehatan dan cepat menjadi guru besar FEB UGM. Amin. (Misbah)

3 responses to this post.

  1. Posted by ech on 18 November 2011 at 23:21

    yupzzz

    Balas

  2. Posted by satria on 15 Mei 2012 at 06:53

    Pak wakhid emang tiada banding….

    Balas

  3. Posted by alisubhan on 13 Juni 2012 at 01:04

    Pak wakhid memang beda dg model umum fosen mengajar. Terimakasih for all

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: