Kerusuhan Monas: Aksi Brutal FPI atas AKK-BB Bentuk Reaksi yang Berubah Menjadi Isu Agama


Rasanya, kasus kerusuhan 1 Juni 2008 yang terjadi di Monas terlihat berlarut-larut. Media terlihat sudah agak berkurang (tapi masih terus di sorot) dalam intensitas pemberitaannya, karena mungkin ada isu yang lebih menarik seperti kasus Suap BLBI oleh Artalita Suryani dan Jaksa Urip Tri Gunawan, Hak Angket kenaikan BBM di Dewan Perwakilan Rakyat, kerusuhan demo anarkis mahasiswa di DPR yang terjadi beberapa waktu lalu, adanya tersangka baru dalam kasus terbunuhnya Munir, dan masih banyak lagi.

Foto FPI dalam aksinya...Namun, bila kasus yang terjadi antara Front Pembela Islam atau FPI dan AKK-BB atau Aliansi Kebangsaan
Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
itu tetap tidak segera diselesaikan, maka akan makin memperkeruh kerukunan Indonesia. Isu ini bisa makin ‘ganas’ karena sudah masuk isu agama. Bentuk penyelesaiannya di antaranya adalah, siapapun dia, apabila terbukti bersalah harus segera di hukum, baik dari pihak FPI mau AKK-BB atau mungkin ada pihak yang lain lagi. Karena menurut FPI, mereka menduga ada pihak AKK-BB yang berpistol. FPI menunjukkan foto itu kepada penyidik Polri.

Setelah pembuktian pelaku dan hukumannya, satu hal yang terpenting yaitu adanya sosialisasi bukti, fakta, atau sesuatu apa yang sebenarnya terjadi. Sosialisasi ini bisa dilakukan oleh Polri yang menyelidiki kasusnya, atau bisa lebih baik lagi apabila didampingi oleh perwakilan pihak FPI dan AKK-BB, bahkan tokoh-tokoh yang punya celotehan yang membuat ‘pekak’ telinga.

Mengapa hal ini penting, karena, menurut saya, apabila tanpa penyelesaian di atas, maka masyarakat akan tetap dibuat bingung, apa sebenarnya yang terjadi? Terlalu banyak pihak yang mempunyai komentar dan celetukan yang berseliweran dan saling bertentangan. Seperti Gus Dur atau Abdurrahman Wahid yang siap bubarkan FPI. Ada juga FPI yang siap melawan atau menggugat balik bila pimpinannya di hukum. Dan masih banyak lagi. Semua ini makin membuat masyarakat ‘mumet’!

Ada juga pendapat dari Emha Ainun Najib dalam pengajian Padhang Bulannya tanggal 17 Juni lalu yang saya ikuti di Yogyakarta. Beliau mengatakan bahwa, tak berselang lama setelah kejadian terjadi, Cak Nun langsung menelpon Habib Riziek (FPI). Alasan Habib mengapa terjadi kerusuhan itu adalah karena ada orang yang diduga anggota AKK-BB yang mengolok-ngolok atau melontarkan kalimat bahwa “FPI itu kafir karena suka kekerasan”. Walaupun ketika unjuk rasa antara FPI dan AKK-BB di tempat yang berbeda, ketika mendengar itu, FPI menjadi berang dan marah, akhirnya terjadilah kerusuhan itu.

Entah mana yang benar, yang pasti, sudah sepatutnya pemerintah dan berbagai pihak yang berwenang untuk segera melakukan beberapa hal di atas agar kasus yang sudah menjadi SARA itu segera redam. Soal Ahmadiyah pun bisa mendapatkan kejelasan atas statusnya karena alasan inilah kasus kerusuhan itu terjadi.

Bagaimana menurut Anda? (Mishbahul Munir)

Silahkan lihat sejarah aksi FPI dalam link ini: maulanusantara.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: