Koherensi antara Prestasi Siswa dalam Seni Musik, Gaya Hidup, dan Pendidikan Akademik: Studi terhadap Aktivitas Siswa yang Menekuni Seni Musik di Kota Yogyakarta


Penelitian ini dilakukan oleh Dhinar Arga Dumadi dan Deasy Arina Sari. Keduanya adalah siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta. Karya ilmiah ini ditetapkan menjadi Juara I dalam Lomba Karya Ilmiah Siswa SMA atau MA se-Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, periode tahun 2007. Berikut ringkasan penelitiannya.

Penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: pertama, mengetahui latar belakang siswa di Yogyakarta dalam menekuni bidang seni musik. Kedua, mengetahui aktivitas musik dan pendidikan (akademik) siswa di Yogyakarta yang menekuni bidang seni musik. Ketiga, mengetahui prestasi siswa di Yogyakarta yang menekuni bidang seni musik. Keempat, mengetahui hambatan dan solusi menekuni bidang akademik dan musik sekaligus. Dan, kelima, mengetahui pengaruh seni musik terhadap siswa di Yogyakarta yang menekuninya.

Dhinar dan Deasy dalam pengumpulan data, mereka memberikan angket kepada resonden untuk diisi, wawancara terhadap informan yang dipilih secara acak, observasi, dan studi pustaka. Setelah data-data terkumpul kemudian dianalisis dengan analisis data deskriptif kualitatif dan kuantitatif.

Dari hasil kuisioner yang dibagikan pada 20 siswa SMA yang menekuni dan berprestasi di bidang musik, serta 2 orang informan ahli, simpulan yang dapat diperoleh dari analisis hasil penelitian tersebut antara lain, pertama, ada dua faktor yang mendorong siswa menekuni bidang seni musik, yaitu: lingkungan (60%) dan dorongan pribadi (40%). Mayoritas siswa mulai menekuni bidang seni musik sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (55%) dan langkah awal yang mereka lakukan adalah dengan melakukan latihan musik (75%) atau mengikuti berbagai kompetisi (25%).

Kedua, siswa yang menekuni bidang akademik dan seni musik sekaligus harus menjalankan aktivitas yang mencakup kedua bidang tersebut, di antaranya adalah kursus musik, lomba, pentas, kursus akademik, dan belajar (akademik). Aktivitas antara kedua bidang tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.

Ketiga, banyak siswa yang menekuni bidang seni musik, tidak hanya memiliki prestasi di bidang seni musik saja, melainkan juga mendapatkan prestasi di bidang akademik. Pernyataan ini semakin kuat dengan adanya fakta bahwa beberapa (10%) siswa pelaku seni musik juga mencapai keberhasilan di sekolah, prestasi sedang (55%), dan selebihnya prestasinya buruk. Hebatnya, sebanyak 65% pernah memenangkan lomba akademik, baik tingkat internal SMA hingga ada yang tingkat nasional. Semua responden (100%) mendapatkan dukungan dari keluarga untuk melakukan aktivitas seni musik. Hanya saja ada beberapa siswa yang diberikan batasan-batasan (yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori larangan) oleh orang tua dalam menjalankan aktivitas seni musik.

Keempat, mayoritas siswa (menemukan hambatan karena menekuni dua bidang sekaligus, di antaranya adalah masalah pembagian waktu dan stamina, namun mereka mengaku dapat mengatasi hambatan tersebut. Kelima, Menekuni bidang seni musik memberikan dampak bagi beberapa responden. Beberapa responden menyatakan bahwa menekuni dunia musik membawa dampak positif pada pendidikan akademik (70%), penampilan (60%), dan tingkah laku (85%) mereka. Sebanyak 95% responden menyatakan dirinya tidak menganut gaya hidup glamour.

Walaupun mereka disibukkan dengan kegiatan bermusik, 65% siswa mengatakan kegiatan akademik masih menjadi prioritas mereka, 20% seimbang antara akademik dan musik, serta selebihnya (15%) memang berkonsentrasi di bidang musik.

Penelitian lainnya

Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada “miring”. Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.

Penelitian lain juga menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80% dengan musik.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian, Sri Hermawati Dwi Arini menyatakan bahwa musik memberikan banyak manfaat kepada manusia atau siswa seperti merangsang pikiran memperbaiki konsentrasi dan ingatan, meningkatkan aspek kognitif, membangun kecerdasan emosional, dan lain-lain. Musik juga dapat menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri, yang berarti menyeimbangkan perkembangan aspek intelektual dan emosional. Siswa yang mendapatkan pendidikan musik jika kelak dewasa akan menjadi manusia yang berpikiran logis, sekaligus cerdas, kreatif, dan mampu mengambil keputusan, serta mempunyai empati. Namun demikian, menurutnya pendidikan formal di Indonesia tidak menekankan keseimbangan antara aspek intelektual dan emosi. Karenanya ia menyarankan agar pendidikan musik ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

Bermain musik dapat meningkatkan kerja otak dan menajamkan pendengaran dari semua bunyi, termasuk kata. “Akrab dengan musik berpotensi membantu aktivitas lain seperti membaca atau mengenali perbedaan kecil nada suara, atau mendengarkan bunyi lebih baik di ruang yang berisik,” demikian ungkap Nina Kraus, ahli saraf di Northwestern University, Amerika Serikat.

Ini hasil temuan terbaru setelah meminta dua puluh sukarelawan dewasa untuk menyimak film yang mereka tonton. Ada film Men in Black, The Incredibles, dan Best in Show yang menjadi favorit mereka.
Ketika menonton, mereka mendengar kata Mandarin seperti ‘mi’ dalam percakapan di latar belakang. Mandarin adalah nada bahasa, dengan kata tunggal yang memiliki arti yang berbeda, tergantung nada pengucapannya. Mi berarti ‘mengedip’ jika diucapkan dengan nada datar, ‘membuat bingung’ jika diucapkan dengan nada meninggi, dan ‘nasi’ jika diucapkan dengan nada menurun.

Peneliti mencatat respon saraf dari otak para sukarelawan selama eksperimen. Setengah dari mereka pernah mendapat kursus alat musik selama enam tahun, dan mulai kursus sebelum berumur 12 tahun. Lainnya, hanya memiliki pengalaman kursus tiga tahun. Semuanya tak memahami bahasa Mandarin.

“Mereka yang memiliki pengalaman kursus alat musik enam tahun jauh lebih baik dalam mengikuti tiga nada yang berbeda dibandingkan dengan yang kursus tiga tahun,” ujar ahli saraf Patrick Wong dari Northwestern University. Peneliti juga menemukan adanya perubahan dalam sel otak mereka.

Iwan Hanjuang, guru seni musik SMA 13 dan SMA 75 Jakarta juga mengakui adanya hubungan antara prestasi di sekolah dengan kegemaran bermain musik. Selama 32 tahun mengajar seni musik di sekolah, ia melihat korelasi antara keduanya berjalin erat.

Bagimana menurut Anda? Ada pendapat lain? (disarikan oleh Mishbahul Munir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: