Mempersiapkan Seminar Nasional dan Event Internasional: Pentingnya Kaderisasi, Belajar Bersama, dan Continous Learning


“Seorang teman malam ini ketibanan atau ketimpa tugas banyak. Untuk mempersiapkan sebuah seminar berskala nasional, selain butuh waktu yang agak lumayan panjang, deadline pun harus selesai esok hari karena sudah dikejar-kejar percetakan.”

Ilustrasi di atas mengingatkan saya ketika hal itu pernah terjadi pada saya. Untuk mempersiapkan semua umbo rampe sebuah kegiatan besar, dengan tujuan untuk mempertahankan image yang baik, biasanya saya sendiri telah melakukan lembur dini. Ini saya lakukan karena berdasarkan pengalaman tahun pertama melaksanakan kegiatan tersebut, pasti akan banyak menyita waktu, tenaga, dan pikiran yang amat sangat banyak.

Karena kebutuhan persiapan yang begitu hebat, akhirnya saya mempersiapkan sejak dini tugas-tugas yang khusus dibebankan kepada saya. Biasanya untuk seminar, saya selalu kebagian menyebarkan undangan baik lewat pos maupun email atau surat elektronik. Setelah itu, editing dan layouting paper yang telah lolos review dari Komite Program, juga menjadi tanggung jawab saya. Sampai prosiding siap dibagikan juga saya yang mengawal. Oh ya, koordinasi dengan panitia yang melibatkan panitia teknis, kalau di perguruan tinggi biasa melibatkan tidak kurang dari 50 mahasiswa, juga dilimpahkan kepada saya untuk koordinasi mereka sampai mereka tahu pekerjaan mereka masing-masing.

Ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil ketika menjadi panitia berbagai event nasional bahkan internasional:

  1. Terkait kaderisasi. Biasanya, karena sumber daya manusia yang terbatas, kita melupakan untuk melakukan sharing ilmu kepada yang lain. Jangan sampai ketika kita tidak ada, pekerjaan pun tak ada yang mengerjakan. Sebaiknya, ketika melakukan tugas, jangan dilakukan sendiri. Buatlah tim yang tanggung jawab dan pekerjaannya sama. Pengalaman saya, karena hanya saya yang bisa mengerjakan, akhirnya, ya, saya terus yang diminta untuk mengerjakan pekerjaan tertentu tersebut.
  2. Belajar bersama. Jangan juga dilupakan, poin penting dari kaderisasi adalah adanya proses belajar bersama untuk mengerjakan sesuatu hal secara bersama. Jadi, ketika yang biasa mengerjakan sedang berhalangan, masih ada cadangan personel lain yang bisa mengerjakan. Jangan sampai tergantung hanya pada orang tertentu.
  3. Continous Learning. Pengalaman saya, panitia yang tidak diberikan tanggung jawab untuk mengerjakan pekerjaan A, biasanya tidak mau mengerjakan tugas B, atau C. Ini tidak baik. Seharusnya, apabila ada waktu, semua anggota tim harus bisa terus belajar akan keahlian yang lain. Jangan sampai cuek ketika kita melihat teman kita sedang mengerjakan sesuatu, sedangkan kita sedang tidak ada pekerjaan. Coba tawarkan diri untuk membantu. Ya, itung-itung diniatkan untuk terus belajar, apapun yang bisa kita pelajari, kiranya yang bermanfaat bagi kita.

Demikian, semoga bermanfaat. Ada komentar untuk diskusi? (Mishbahul Munir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: