Outsourcing: meningkatkan daya saing perusahaan, tapi ditolak pekerja Indonesia


Tulisan kali ini, saya ingin mengangkat tema terkait outsourcing. Hal ini sempat menghangat kembali dan sempat menjadi topik perhatian banyak orang di Indonesia. Mencuatnya outsourcing salah satunya diangkat pada Hari Buruh atau May Day, 1 Mei lalu, sebagai tuntutan kepada pemerintah agar sistem ini dihapus. Kebetulan juga, kuliah malam “Akuntansi Manajemen” yang diampu Drs. Mulyadi, M.Sc., Akt, di FEB UGM, menggangkat tema korelasi outsourcing dengan pengambilan keputusan perusahaan.

Dalam kesempatan yang baik tersebut saya manfaatkan untuk bertanya kepada beliau terkait, mengapa sepertinya outsourcing dalam teori sangat menjanjikan adanya peningkatan daya saing perusahaan tetapi oleh pekerja Indonesia ditolak?

Mulyadi mengatakan, “benar saja pekerja Indonesia menolak adanya outsourcing karena mereka tidak siap untuk persaingan global. Mereka masih manja ingin terus dilindungi pemerintah. Yang melakukan demo kemarin itu para pekerja otot bukan pekerja otak. Mereka merasa kurang mampu bersaing dengan yang lain. Mereka yang pekerja otak sudah pindah ke mana-mana, ke perusahaan yang lebih bonafit, sedangkan yang pekerja otot sulit untuk pindah-pindah karena tidak punya daya saing lebih”.

Adanya persaingan global meningkatkan persaingan di antara pekerja di seluruh dunia. Pekerja Indonesia harus siap bersaing dengan pekerja asal Eropa, Jepang, Cina, Australia, India dan dari seluruh penjuru dunia lainnya.

“Dalam persaingan seperti itu, yang bakal menang adalah knowledge worker atau para pekerja yang mendasarkan pekerjaannya pada pengetahuan (knowledge-based work). Ini harus diantisipasi oleh siapapun juga. Institusi pendidikan harus siap mengambil peluang ini segera. Pemerintah juga harus mempersiapkan kurikulum yang terbaik untuk menjadikan manusia Indonesia berdaya saing tinggi,” Mulyadi memperjelas komentarnya.

Lalu, apa sih sebenarnya outsourcing itu? Berikut sekilas bahasan tentang outsourcing.

Outsourcing

Menurut Morse, Davis, and Hartgraves (2003) dalam Management Accounting: A Strategic Approach, mendefinisikan bahwa outsourcing adalah proses mensubkontrakkan pekerjaan perusahaan yang bukan kompetensi intinya agar perusahaan dapat menghasilkan proses jasa dan produk yang sesuai dengan keinginan konsumen (the best value for customer).

Pada jaman dahulu, sebelum muncul outsourching sekitar tahun 1980-an, seluruh proses value chain dari design, inbound logistic, manufacturing, administrative staf function, marketing, distribution, hingga outbound logistic dikuasai dan dilakukan sendiri oleh satu perusahaan. Hal ini membuat perusahaan tidak terspesialisasi dengan baik product and service-nya, sehingga mempersulit perusahaan untuk memenangkan persaingan.

Lain halnya dengan outsourcing, perusahaan akan dapat melakukan proses value chain di atas dengan lebih terspesialisasi dan sesuai dengan kompetensi intinya. Mereka akan dapat menghilangkan non value added activity atau kegiatan yang tak memberikan nilai tambah bagi konsumen dalam menjalankan proses bisnisnya. Dengan begini, harga jual dapat lebih realistik diterima oleh konsumen. Cost yang dibebankan oleh perusahaan terhadap sebuah product atau service hanya yang sesuai dengan yang dibutuhkan konsumen.

Berbagai manfaat dapat dipetik dari melakukan outsourcing; seperti peningkatan efisiensi, penghematan biaya (cost saving) atau pengurangan biaya modal dan biaya operasional, perusahaan bisa memfokuskan kepada kegiatan utamanya (core business), dan akses kepada sumber daya (resources) kompeten yang tidak dimiliki oleh perusahaan, serta menjadikan perusahaan fleksibel untuk melakukan kegiatan bisnisnya.

Salah satu kunci kesuksesan dari outsource adalah kesepakatan untuk membuat hubungan jangka panjang (long term relationship). Alasannya sangat sederhana, yaitu outsourcer harus memahami proses bisnis dari perusahaan. Perusahaan juga akan menjadi sedikit tergantung kepada outsourcer. Dalam proses outsourcing membutuhkan communication, persuation, dan trust. Perusahaan lain sebelum menyatakan diri bergabung dalam jejaring outsourcing harus bisa meyakinkan perusahaan lain yang akan menjadi patnernya. Apabila salah satu di antara perusahaan yang masuk dalam networking kerja outsourcing tidak sesuai dengan kesepakatan dan persyaratan awal, maka akan dengan sendirinya keluar dari jejaring tersebut.

Sekarang, bagi para pekerja, apa keputusan Anda, apakah bersiap diri untuk menghadapi dinamika outsourcing ini dengan lebih baik? Atau sebaliknya?

Untuk para pengelola perusahaan, apakah Anda siap melakukan outsourcing? Mestinya, tak perlu Anda bertanya dulu, mana perusahaan Indonesia yang sudah sukses memberlakukan outsourcing, tapi Anda bisa melihat mana yang lebih baik untuk masa depan perusahaan Anda?

Selamat mencoba dan berjuang! (Mishbahul Munir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: