Timpang Jauh Antara Si Miskin dan Kaya: Tapi Kadang Abu-Abu


Di sebuah Mall terbesar di Pusat Kota Semarang, saya mulai berfikir terkait fenomena, yang menurut saya, sangat menarik untuk diperbincangkan. Fenomena sekilas yang muncul dari pantauan pandangan tentang ketimpangan yang begitu jauh antara orang yang kaya dan miskin di Indonesia, sample khususnya di Semarang.

Begini ceritanya.

Sabtu, 4 Mei 2008 lalu, selepas Ashar, bersama Irma, Icca dan Pak Hanafi yang nyetir mobil, kami menuju Semarang untuk mengantarkan Icca (adik Irma) untuk Ujian Masuk Universitas Diponegoro. Walaupun di tengah perjalanan, mobil Starlet tercinta sempat membuat repot, AC tak hidup membuat embun yang tebal di kaca, kaca candela mobil semua macet, lampu depan mobil pun mati, plus ditambah hujan lebat, menambah perjalanan kami ‘makin tak terlupakan’. Tapi, alhamdulillah, kami akhirnya sampai juga di Undip dengan selamat sekitar jam 20.00 wib.

Lupakan soal mobil, biar jadi kenangan kami saja. Sekarang kembali ke topik awal kita.

Saya percaya dan sangat yakin, apabila melihat deretan gedung pertokoan, mall, perkantoran, hingga rumah penduduk yang mewahnya kelas menengah ke atas, semua orang pasti akan berpikir bahwa, sekilas rata-rata penghuni Semarang tidak ada yang berkekurangan (baca: miskin). Mungkin, inilah ciri-ciri kapitalisme dan urbanisasi.

Saya juga makin tambah yakin dan bertanya-tanya pula setelah masuk di Mall, ketika kami bermaksud akan makan Bakso Kumis, banyak orang rela antri untuk mendapatkan tempat. Warung Bakso Kumis ini memang terkenal enak dan laris manis. Nah, dengan naluri jurnalis saya, saya mencoba menyelidik lewat pandangan mata, rupanya, yang antri tak semuanya berpose parlente bak orang kecukupan (baca: berduit). Sebagian besar, sekali lagi sekilas pandang (saya bisa saja salah), di lihat dari cara berpakaian dan gerak-gerik mereka, hampir separuh yang antri adalah orang yang sepertinya berduit pas-pasan.

Semoga saja saya salah menilai hal ini. Tetapi, menarik untuk saya diskusikan di sini adalah, ada ketimpangan yang jauh antara orang miskin di Indonesia dengan yang kaya. Menurut data yang pernah saya baca, di Indonesia ini, jumlah penduduk yang berekonomi kelas menengah dan atas, cukup banyak. Tapi, yang miskin juga tak sedikit lho.

Abu-Abu

Saya juga berpikir, mungkin saja, karena gengsi orang Indonesia yang besar, punya uang pas-pasan pun berani belanja, nongkrong, dan makan di Mall. Bayangkan, semangkok bakso Kumis itu harganya paling rendah 7.500. Minumnya, paling murah harganya 2.000, itupun es teh. Saya pribadi sempat mikir-mikir juga kalau disuruh makan disitu. Untung ada yang bayarin. Hehe…

Saya mengatakan ‘abu-abu’, karena bisa saja, untuk menjaga gengsi, yang sebenarnya berduit pas-pasan atau bahkan yang tak punya duit pun, berusaha semaksimal mungkin untuk bisa makan di Mall. Mereka bisa saja, karena di bayari teman (seperti saya, hehe..), bisa utang, atau, maaf, bisa saja mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan mempertahankan gengsi.

Titik Terang Usaha Bersama

Mungkin hal ini bisa kita cermati dengan seksama. Saya yakin, di kota lain pun sama kejadiannya. Dalam perjalanan pulang menuju Yogyakarta, saya melihat begitu banyak penduduk yang rumahnya terlihat pas-pasan, bahkan tak layak untuk bisa disebut rumah tinggal. Banyak ketimpangan yang terjadi antara si Miskin dan Si Kaya atau Sok Kaya.

Saya setuju bila ada komentar bahwa, kemiskinan di Indonesia dapat diminimalisir, salah satu caranya adalah dengan usaha bersama untuk memaksimalkan zakat, infaq dan shodaqoh. Bila semua orang Islam di Indonesia ini, dari yang mulai berpendapatan yang sudah layak mengeluarkan zakat hingga yang konglomerat, berbondong-bondong menyalurkan zakat, infaq dan shodaqohnya sesuai tuntutan agama, pasti akan ada jalan terbaik bagi keluarga kita, tetangga kita, dan masyarakat sebangsa kita.

Dalam kesempatan ini, saya mengajak pada diri saya sendiri dan pembaca untuk menggugah hati dan mulai bertindak untuk melakukan kebaikan dan ibadah berupa zakat, infaq dan shodaqoh. Alloh swt berjanji, “barang siapa yang mau mengeluarkan sebagian hartanya bagi yang kurang mampu dan di jalan yang benar, Alloh swt akan menggantinya dengan lebih dan lebih banyak lagi”. Amin.

Semoga Alloh swt selalu mencintai kita semua. (misbah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: