Pembelajaran Organisasi: Komunikasi yang Hilang dan Koordinasi yang ‘Mengelupas’ dari Pemimpin


“Yah, itulah yang namanya bekerja. Ada proses pelibatan tinggi sebagai syarat untuk menghasilkan kinerja dan profitabilitas terbaik bagi organisasi atau perusahaan,” demikianlah secuil cuplikan kalimat yang saya buat dalam laporan personal yang diminta Bos Besar, dan ‘anehnya’ hanya saya sendiri yang wajib membuat itu. Hehe… Tapi, ya sudahlah, lupakan saja.

Kita bahas soal ‘pelibatan tinggi’ ini.

Pelibatan tinggi ini saya maksudkan sebagai sebuah proses pembelajaran terus menerus antar individu, divisi dan organisasi. Ada sebuah komunikasi komprehensif, terus menerus, dan berkualitas sebagai prasyaratnya. Hasil yang didapatkan adalah sebuah kepercayaan diri yang tinggi dalam bekerja tanpa harus merasa dicurigai dan ‘dikucilkan’. Kinerja dan kualitas merupakan buah keikhlasan yang sempurna dan penyerahan diri yang total terhadap perusahaan. Ada rasa memiliki, tanggung jawab, dan kebersamaan yang benar dan tepat penempatannya.

Hal di atas juga menuntut adanya sebuah koordinasi yang secara menyeluruh menjadi tanggung jawab seorang pemimpin. Koordinasi dan komunikasi adalah syarat mutlak kesuksesan mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Walaupun ada variabel lain yang mempengaruhi, pastinya. Terjemahan dari koordinasi dan komunikasi ini, salah satunya adalah rencana strategis (arti gampangnya: mau kemana dan mau jadi seperti apa perusahaan esok?) yang komprehensif dan realistis yang bisa diterima dan dijalankan oleh seluruh komponen perusahaan.

Jadi, kesimpulannya, organisasi yang mau belajar adalah yang tidak melenyapkan komunikasi dan Koordinasi yang seharusnya melekat pada diri seorang Pemimpin.

Ada pendapat lain? (Misbah)

3 responses to this post.

  1. Posted by Fathul on 8 November 2008 at 10:30

    Hidup bukanlah apa yang sudah kita lakukan pada masa lalu, tetapi apa yang selalu kita lakukan. Kita tidak bisa hidup dan makan masa lalu.

    Kebijakan berbeda bisa jadi karena konteks dan posisi yang berbeda. Kepada yang dapat gaji bulanan-dengan-kontrak bisa jadi dengan yang hanya mendapatkan persentase. Yang terakhir, kalau tidak kerja tidak dapat bagian. Semuanya pilihan dengan segala konsekuensinya termasuk ngantor setiap jam kerja, tahu mana yang seharusnya nomor satu alias prioritas dan mana yang sebetulnya pelangkap.

    Dalam hidup tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Kalau ada yang lebih menarik, kenapa tidak pilih yang itu. Akan sangat bodoh seseorang yang menggadaikan hidupnya kepada sesuatu yang tidak kita percayai.

    Balas

  2. Terimakasih Pak Fathul atas komentarnya.
    Saya setuju, semua kebijakan memang harus disesuaikan dengan proporsi, kebutuhan, dan kepentingan masing-masing, yang, memang sangat mungkin berbeda-beda. Hidup di masa lalu atau sekarang, bagi siapapun, pasti berharap yang terbaik dan yang paling menariklah yang terjadi. Terimakasih.

    Balas

  3. I really enjoyed reading through this write-up!! I most certainly will be coming back to read some more intriguing ideas! Thank you:)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: