Eksekusi Amrozi CS: Pembunuhan Pembunuh dan Polah Pemberitaan Media


Sungguh, Indonesia ini sudah ‘busuk‘ (meminjam istilah Guru Besar Filsafat, Frans Magnis). Semua serba salah kaprah. Apalagi medianya, wah, ngawur dan kelewat batas dalam melakukan peliputan sebuah kasus.

Kasus yang terhangat dan paling heboh tahun ini, yaitu soal eksekusi (lebih tepatnya: pembunuhan) Amrozi CS. Mereka diputuskan bersalah sebagai ‘pembunuh’ dengan alat pembunuh massal yang biasa disebut bom itu. Jadi, mereka juga akhirnya ‘dibunuh’ dengan alat pembunuh berbentuk ‘peluru’.

Saya tidak akan memperdebatkan tepat atau tidaknya mereka dieksekusi. Saya juga tidak akan memperdebatkan hukum agama dalam menilai hukuman ‘penembakan’ terhadap Amrozi CS yang dilakukan para penembak jitu polisi itu. Apalagi menyebut Imam Samudra CS sebagai ‘pahlawan’ dan pejuang agama atau bangsa, jelas lah tidak. Bahkan, tak terpikirkan sedikitpun bagi saya untuk menyebut Amrozi CS sebagai teroris.

Yang menjadi pemikiran saya adalah apa makna dibalik kejadian ini semua? Tuhan mau berbicara atau menyampaikan apa sih kepada kita? Jawaban ini belum saya dapatkan hingga saat ini. Yang jelas, salah satu ayat dalam Al-Qur’an menyebutkan: “bahwa tugas kita sebagai ummat Muhammad saw adalah menjadi manusia atau ummat yang terbaik di mata atau bagi siapapun”. Jadi, Islam itu terlihat dalam diri kita berbentuk akhlak atau kesalehan kita di dunia ini.

Entah benar atau tidak, hanya Alloh swt yang mengetahuinya.

Yang kedua, menyoal pemberitaan media massa, mulai cetak, elektronik maupun yang berbasis teknologi informasi. Saya setuju dengan salah satu artikel opini di Kompas beberapa waktu lalu, bahwa media massa saat ini sedang membabi-buta dalam pemberitaan. Etika teknis (seperti proses peliputan, penulisan, dan unsur-unsur dalam jurnalistik) mungkin memang mereka pegang. Tetapi, pemaknaan bagi manusia atau masyarakat sudah mereka lupakan, bahkan dihilangkan. Mereka, dengan pengaruh yang kuat dari kapitalisasi media, hanya mengikuti begitu saja arus ‘kemenarikan’. Asal mediaku dibaca orang, dibeli orang, dilihat pemirsa, itu yang terpenting bagi mereka.

Inilah Indonesia. (Abah)

2 responses to this post.

  1. Yup, harusnya ummat Islam meunjukkan bahwa Islam itu hadir untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin, bukan justru menebar kerusakan atau kekerasan. Islam itu, kan indah. Cinta damai.
    Di jaman sekarang ini, media apa sih yg bnr2 netral dan menyampaikan apa adanya, gak hiperbolis? Jumlahnya jg bs diitung. Yg lainnya dah terbeli oleh berbagai kepentingan dan ngikuti arus ‘market demand’ (walah bahasane, hehe!)

    Balas

  2. Posted by fendi bin laden on 9 Desember 2008 at 00:50

    HANCURKAN KEDZOLIMAN SEKARANG JUGA. AMROZI, CS., SELAMAT JALAN SAUDARAKU.
    KAMI AKAN TERUSKAN PELAWANAN TERHADAP MUSUH2 ALLOH.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: