awas! siapkan diri untuk disebut ‘penjilat’: sebuah catatan kehumasan


Penjilat. Iya, itulah salah satu julukan yang paling tidak mengenakkan bagi para pegiat kehumasan, public relation, atau kewartawanan. Dengan tugas yang menuntut untuk terus mencari informasi sebanyak mungkin dari segala lini organisasi (formal dan nonformal), baik dari karyawan paling bawah hingga pemimpin tertinggi.

Itulah salah satu poin yang saya sampaikan kepada rekan-rekan peserta pelatihan jurnalistik kehumasan beberapa waktu lalu yang diikuti oleh Humas Kantor PDE Pemkab Kutai Kertanegara (27/11/2008). Sebagai seorang yang menyediakan informasi dari dan untuk seluruh anggota organisasi dan stake holder di luar organisasi, dengan sebaik mungkin dia harus menjalin hubungan dengan siapapun.

Seorang humas, PR, atau wartawan, harus memiliki jiwa yang terbuka, mudah bergaul, dan jeli dalam melihat informasi yang ada. Dia dituntut untuk bisa bergaul dengan siapapun. Nah, mungkin kalau berkomunikasi atau bergaul dengan rekan sesama bawahan, tidak akan jadi masalah, atau resikonya sedikit. Namun, payahnya bila kita harus pula tiap saat mendapatkan informasi dari pimpinan kita. Setiap saat kita harus siap menerima perintah dari pimpinan kita. Setiap saat pula kita harus menyampaikan informasi penting dari pimpinan kita untuk kita share ke publik lewat press release. Terkadang, kapanpun kita harus siap mendampingi sang pimpinan melakukan aktivitasnya agar kita bisa menjadi orang pertama yang menginformasikan apa yang disampaikan pimpinan ke khalayak umum. Bahkan, jam berapapun, ketika pemimpin membutuhkan kita, kita harus siap melayaninya.

Pemimpin, dalam arti luas, bagi seorang humas, PR, atau wartawan, adalah sumber informasi utama untuk publikasi dan promosi sebuah lembaga. Kedekatan dan kelancaran informasi dari pimpinan ke humas dapat menjadi ukuran efektifitas perusahaan dan menjadi cerminan good image bagi stakeholder.

Oleh sebab itu, bagi seorang humas, PR, atau wartawan, sudah selayaknya harus bisa menjaga diri untuk tidak seperti ‘penjilat’. Ini memang sulit, tapi harus kita lakukan karena tanggung jawab dan tugas. Kita harus bisa pula jaga jarak dan jaga kedekatan tapi tetap profesional dalam melaksanakan tugas. Tutup telinga rapat-rapat bila ada ‘komentar miring’ terhadap kita. Tunjukkan saja hasil kerja terbaik yang bisa kita tampilkan. Dan, satu lagi, jangan sampai, ketika sang pemimpin berganti, kita dijauhi oleh pemimpin yang baru. Hal ini sangat mungkin terjadi karena pemimpin yang baru menganggap kita sebagai ‘antek’ pemimpin yang lama.

Selamat berjuang kawan-kawan pegiat kehumasan, PR, dan jurnalis. Semoga sukses selalu. (Mishbahul Munir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: