tolong! jangan enggan belajar bersama dan beri kami motivasi: catatan bagi guru, dosen, atau pengajar pendidik Indonesia


“Ilmu itu, bila kita sering dan mau dengan ikhlas mengajarkannya kepada orang lain, maka kian sering kita belajar dan makin hebat kita menguasai ilmu tersebut”.

Begitulah sebuah kalimat bijak yang pernah saya dengar selama ini. Dan, ini pula berlaku bagi siapapun yang merasa dirinya adalah seorang pelatih, pendidik, pengajar, guru, dosen, atau siapapun yang ingin selalu berbagi ilmu dengan siapapun.

Banyak fenomena di Indonesia, bahwa, ketika seseorang yang pandai dalam penguasaan sebuah ilmu atau keahlian, dia sulit untuk menularkan atau mengajarkannya pada yang lain. Sebagai ilustrasi, seorang dosen cerdik pandai, yang dibuktikan dengan karya tulis dan buku-buku best sellernya, IPK kuliahnya dulu yang hampir mendekati 4.00, tidak sedikit yang sulit mengkomunikasikannya pada mahasiswanya. Seolah-olah, ilmu yang beliau miliki hanya milik beliau sendiri. Ketika sedang mengajar di kelas, beliau seperti sedang belajar sendiri. Bicara tidak jelas. Pegang mikrofon ogah-ogahan. Memandang siswanya juga terasa enggan. Memberi kesempatan bertanya pun sepertinya diharamkan. Tapi sukanya memberikan soal latihan atau kuis yang tidak pernah mahasiswanya kuasai.

Di sini, yang menjadi permasalahan utama adalah keahlian komunikasi dan memotivasi yang dimiliki oleh dosen tersebut. Bisa saja, dulu ketika diterima menjadi guru atau dosen, ia tidak dinilai dalam hal itu, tapi hanya dilihat dari kepintaran akademis dan IPK tingginya. Mungkin, dia cerdas dalam menyelesaikan soal-soal tes keilmuannya. Kuliahnya cepat selesai. Atau hanya dilihat dari perguruan tinggi mana dia lulus? Tetapi, ketika dalam proses group discussion test atau wawancara atau presentasi, dia tidak begitu diperhatikan.

Seharusnya, hal ini juga diperhatikan oleh pihak pengelola sekolah atau perguruan tinggi yang ingin mendapatkan staf pengajar yang handal. Tidak sekedar IPK yang diatas rata-rata, tetapi keahlian komunikasi dan memotivasi juga sangat penting untuk menjadi nominasi penilaian dalam memutuskan menerimanya.

Saya ingat, seorang kolega yang sekarang menjadi ‘orang hebat’ pernah mengatakan, “saya itu IPK cuman 3,2 mas, tidak cumlaude. tapi dulu saya dipaksa dan diasah oleh aktivitas yang begitu padat ketika aktif di ekstrakurikuler semasa kuliah, sehingga mau tidak mau, saya harus bisa berbicara, berdiskusi, memotivasi, dan berkomunikasi dengan orang lain. saya juga harus bisa bicara di depan banyak orang agar saya dihargai oleh yang lain”.

Bagaimana menurut Anda? (Mishbahul Munir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: