fatwa haram rokok MUI: yang haram bukan rokoknya, tapi perilakunya dan efek ekopoleksosbudnya tidak diperhitungkan dengan seksama


Saya sempat terkaget mendengar berita hangat 2 terakhir hari ini. Yaitu menyoal keputusan fatwa haram rokok oleh Majelis Ulama Indonesia atau MUI. Sontak saja, pro-kontra langsung menyeruak menyikapi keputusan MUI ini. Berbagai daerah yang berkepentingan secara ekonomi dan sosial, langsung menggelar diskusi tandingan untuk membahas fatwa tersebut. Di Jawa Timur 150 Pondok Pesantren dan didukung beberapa pondok dari Jawa Tengah, secara tegas menolaknya. Tak kalah garang, Asosiasi Pengusaha Tembakau Jawa Tengah juga menggebu-gebu menyampaikan ketidaksetujuan mereka.

Menurut saya, implikasi dari fatwa ini sangat kompleks sekali. Secara sosial, ahli hisap atau perokok di Indonesia ini masih tinggi sekali. Sudah tak bisa dipungkiri atas fakta ini. Secara ekonomi, berapa juta masyarakat petani tembakau dan pekerja pabrik rokok yang terancam dirumahkan. Secara politik, akan terjadi berbagai benturan kepentingan, antara politikus yang ‘dekat’ dengan pengusaha rokok dan yang sedang ‘tak bersahabat’ dengan mereka. Secara kultur, MUI tampak egois sekali. Mereka tidak melihat sejarah dan budaya orang tuanya. Coba kaji dan lihat dengan seksama akan hal ini. Secara kesehatan, tetangga saya hampir sekampung perokok berat, rupanya umur mereka lebih tua dan tahan lama daripada para konglomerat yang katanya kebersihan hidupnya terjaga dan dikeliling AC atau pendingin ruangan tiap helaan nafas mereka. Lalu?

Saya hanya mengajak pembaca untuk berpikir logika. Walaupun saya perokok, bukan berarti saya menolak fatwa ini. Saya sih setuju saja, karena saya juga ingin berhenti merokok dan pernah sukses 6 tahun bersih dari rokok. “Tapi tidak bisa bersih dari lingkungan perokok lho…” Jika diperhatikan dengan seksama, fatwa ini tidak mengharamkan rokoknya, tapi perilaku ketika merokoknya. Yaitu, “diharamkan bagi anak di bawah umur merokok”, “ibu hamil”, “merokok ketika ada anak kecil dan ibu hamil”, dan “merokok ditempat umum”. Jadi, MUI kurang tegas dalam memfatwakan rokok ini. Biar tidak terlihat hanya ‘cari muka’, MUI seharusnya berani mengharamkan rokok yang terbuat dari tembakau dan cengkeh itu.

Bagaimana menurut Anda? —Misbah

2 responses to this post.

  1. “Berbagai daerah yang berkepentingan secara ekonomi dan sosial, langsung menggelar diskusi tandingan untuk membahas fatwa tersebut. Di Jawa Timur 150 Pondok Pesantren dan didukung beberapa pondok dari Jawa Tengah, secara tegas menolaknya. Tak kalah garang, Asosiasi Pengusaha Tembakau Jawa Tengah juga menggebu-gebu menyampaikan ketidaksetujuan mereka”
    Tidak mengejutkan, Mas Misbah. Sekarang ini orang-orang, meskipun itu dari Pondok Pesantren dst, lebih takut disebut melanggar HAM daripada melanggar Allah SWT. Tuhannya sudah bukan Allah SWT lagi, tapi HAM, kepentingan ekonomi, sosial, bangsa, persatuan dan kesatuan dst. Sangat-sangat takut sekali tidak bisa hidup dan menghidupi kehidupannya padahal Allah SWT yang memberikan kehidupan dan kemampuan untuk menghidupi kehidupannya.

    Balas

  2. Pak Irwan, terimakasih sudah berkomentar. Fenomena ini memang menarik untuk disimak. MUI juga sepertinya tidak melihat efek jangka panjang atas fatwanya ini. MUI ingin lebih punya ‘gigi dan jeruji’ di Indonesia, padahal, semua ini sebenarnya sudah diatur ‘tersirat’ oleh Alloh swt. yah, semoga esok kian lebih baik pak. Terimakasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: