fenomena dukun cilik Ponari dari Jombang: bukti kegagalan layanan kesehatan Indonesia


Ponari, si dukun cilik dari Jombang sontak terkenal. Membludaknya pasien, menurut saya, lebih dikarenakan adanya pemberitaan gencar oleh media massa gara-gara ada pasien yang mati akibat antri desak-desakan. Dia langsung mendunia gara-gara media massa itu. Maka berduyun-duyunlah masyarakat yang membutuhkan kesembuhan dengan biaya murah dan menjanjikan itu.

Saya melihat fenomena ini, diakibatkan oleh adanya budaya masyarakat Indonesia yang mayoritas masih sangat percaya dengan dunia supranatural atau yang berbau klenik itu. Menangnya Ponari adalah karena dia bisa menawarkan dan memberikan sugesti yang sangat hebat akan adanya kesembuhan jika orang berobat ke dia. Banyak pakar dan ahli mengatakan, sumber kesembuhan terbesar adalah dari psikologis pasien yang berasal dari sugesti dan kepercayaannya.

Nah, mengapa orang Indonesia lebih cenderung kepada yang berbau tak berwujud ini? Jawabannya adalah karena lembaga kesehatan gagal memberikan dan memuaskan masyarakat dalam hal kebutuhan layanan kesehatannya. Orang manapun selain membutuhkan kesembuhan, juga membutuhkan layanan yang cepat, murah, terbukti, dan yang lebih meyakinkan. Kita lihat lembaga kesehatan di Indonesia, baik itu tenaga kesehatannya (dokter dkk) maupun institusinya (rumah sakit dkk), selain cenderung harganya mahal, track recordnya juga banyak yang buruk. Sudah membayar mahal, jaminan untuk sembuh pun hanya pepesan kosong. Sudah begitu, terkadang layanannya sering menyakitkan hati. Jika dokter ada malpraktiknya. Dukun apa pernah? Kan, lebih banyak berita media massa yang memberitakan malpraktik dokter daripada kegagalan dukun toh?

Negara juga bisa dinilai masih gagal memberikan layanan kesehatan yang memadai dan terbaik bagi masyarakat Indonesia. Jika begini, saya yakin, akan kian banyak Ponari-Ponari dikemudian hari, karena bisnis spritual dan supranatural adalah bisnis yang sangat prospek, menjanjikan, dan tidak bakal merugi. Bagaimana menurut Anda? —misbah munir

5 responses to this post.

  1. Posted by an nur on 15 Februari 2009 at 09:51

    Sebenarnya ini sindiran dari Tuhan. Silih berganti, pemimpin terpilih yang waktu kampanye menjanjikan pengobatan gratis ternyata ingkar. Akhirnya Tuhan tanpa kampanye malah memberikan pengobatan gratis melalui Ponari. Tapi dasar ndableg, mereka yang dulu janji malah nutup kuping. Alih2 menyadari kesalahannya, mereka malah menggandeng tenaga ahli untuk mengingkari keberadaan Ponari dan menyudutkan masyarakat. Ck Ck Ck…

    Balas

  2. Posted by redrosesuri on 15 Februari 2009 at 15:32

    Gimana mau dibilang dukun malpraktek? wong kode etik dan standar praktek dukun kan gak ada. Kalau dokter kan ada kode etik, UU praktek kedokteran dan standar pelayanan medis, jadi bisa diukur malpraktek atau nggak.
    Kalau dukun mah istilahnya cabul atau gak cabul, gitu aja!

    Balas

  3. @ An Nur, terimakasih sudah berkomentar di blog saya. Saya setuju dengan Anda, dengan fenomena ini pemerintah seharusnya bisa melihat dengan lebih arif dan segera berbenah diri, terutama bagi para pemimpin yg menjanjikan pengobatan gratis tersebut.

    @ Redsosesuri, sangat berbeda makna antara cabul dan malpraktik. Malpraktik adalah kesalahan dia ketika proses mengobati. Cabul diluar proses pengobatan. Yg cabul itu hanya memanfaatkan kelemahan dan ketidakberdayaan pasien. Dokter pun bisa kalau mau kok. Salam.

    Balas

  4. tak ada kasih dalam hidup dari para pemimpin kita..

    Balas

  5. Ketika pelayanan kesehatan buruk dan tak kunjung menyembuhkan luka yang dalam, hanya mendung yang menemani pilu dan getir ini, aku hanya bisa parah bersujud di langit-langit pengharapan.
    Hari-hari aku lewati terasa bagai malam tak berkesudahan tanpa adanya suatu kesembuhan. Sementara, mahalnya biaya kesehatan semakin menekan dan menghimpit kehidupanku. Aku hanya bisa terbaring lemas di bawah bayang di tengah terik matahari. Berhari-hari, hingga berminggu-minggu aku menderita sakit, berbagai obat kugunakan, namun tiada satupun yang membawa kesembuhan. Aku meraung-raung kesakitan. Hingga akhirnya dewata mengilhamkan kepadaku, Ku dengar sayup-sayup suara-Nya bahwa hanya batu bertuahlah yang sanggup mengobati lukaku.
    Karena di dorong oleh rasa ingin mendapatkan kesembuhan, walaupun di luar akal sehat, bergegas aku mematuhi, menuju tempat itu …………
    ………………………..
    ………………………..
    Itulah kisah malang hidupku, bermunajat mendapat kesembuhan di tengah buruknya pelayanan kesehatan dan mahalnya ongkos pengobatan.

    sumber:http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: