metode belajar dan mengasah pola pikir dengan memanfaatkan pola dasar jurnalistik (5w+1h)


Memang, proses belajar itu tidak ada hentinya. Saya sendiri, ketika sedang belajar bersama dengan teman-teman unit kegiatan siswa Jurnalistik di MA Sunan Pandanaran, setiap hari Ahad atau Minggu sore, selalu menemukan sesuatu yang saya rasakan baru dan bermanfaat. Nah, pada Minggu ini, setelah minggu lalu kami 1 bus bersama-sama melakukan kunjungan ke tempat produksi kalimat dan media harian Kedaulatan Rakyat di Jalan Mangkubumi dan Jalan Adisucipto, saya merasakan 1 manfaat yang luar biasa ketika saya menerapkan pola belajar, khususnya pola pikir, yang menfaatkan pola dasar jurnalistik, yaitu 5W+1H. Rumus yang sangat terkenal itu adalah singkatan dari What, When, Where, Why, Who, and How.

Jadi, begini ceritanya, sebelum berangkat berkunjung ke KR, minggu sebelumnya saya memberikan pembekalan kepada seluruh anggota Jurnalis yang turut. Inti dari pembekalan itu adalah agar mereka bisa memanfaatkan momen dan tempat yang tepat belajar pada ahlinya. Mereka saya ajak dan pancing untuk melontarkan sebanyak mungkin pertanyaan cerdas ketika di KR nantinya. Saya membekali mereka untuk selalu mendasarkan pertanyaan mereka pada rumus jurnalis di atas.

Ketika itu, saya mencontohkan, bagaimana proses suatu berita sampai layak tampil di sebuah halaman di KR. Kita bisa bertanya, misalkan, (What) berita seperti apa saja sih yang layak muat di setiap kolom atau halaman di KR? Lalu, (When) kapan seorang wartawan harus menyelesaikan sebuah berita untuk disetor ke Redaktur masing-masing? (Where) dimana para wartawan mengerjakan produksi beritanya, di kantor atau bisa dimana saja? Atau, bisa saja, dimana seorang wartawan mendapat berita yang menarik yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan KR? (Why) pertanyaan ini bisa banyak sudut pandangnya. Misal, mengapa para wartawan harus setor berita ke Redaktur terlebih dahulu, tidakkah lebih baik langsung saja atau modal percaya para para wartawan? dan lain sebagainya. (Who) Siapa saja wartawan yang boleh menulis atau mencari berita untuk kolom atau halaman tertentu? Untuk kondisi tidak biasa, apakah siapa saja boleh menulis? (How) Bagaimana seorang Redaktur mengoreksi berita yang sudah diterimanya? Apakah dibaca keseluruhan atau seperlunya saja? Dan, 5W+1H ini bisa terus dikembangkan dari sudut pandang yang sangat kaya lagi.

Apa hasil dari pembekalan ini? Wouw, waktu yang diberikan KR untuk kunjungan seharusnya hanya 1 jam, molor jadi 2,5 jam. Mbak Suci, Humas PT KR, sampai mengatakan, “baru kali ini saya melihat kunjungan yang begitu antusias dan pertanyaannya membuat saya puyeng”. Hampir tak menduga saya hasilnya bisa seperti itu.

Nah, kemudian, proses ini saya bayangkan dalam setiap proses pendidikan di kelas antara siswa atau mahasiswa dengan guru atau dosen mereka. Jika seorang dosen menyampaikan suatu studi kasus atau teori tertentu, bagaimana kalau ada salah seorang mahasiswa yang bertanya dengan metode 5W+1H ini? Apa ya kira-kira efeknya? Siap tidak ya para pendidik kita di Indonesia ini? Saya pikir, pasti belajar akan menarik dan kian hidup.

Bagaimana menurut Anda? —Misbah Munir

4 responses to this post.

  1. Apakah link shodiq.com belum masuk blogroll di sini?

    Misbah says: Pak Shodiq, sudah saya masukkan. Terimakasih telah memasukkan nama dan link blog saya di blog Anda. Salam.

    Balas

  2. artikel yang baik sekali. saya mau nanya: apakah 5w+1h dapat juga dikenakan di semua macam tulisan. contoh ketika kita menulis yang berjudul “penurunan harga minyak”. saya agak binggung bagaimana mengembangkan whennya padahal kita sudah tahun when-nya cuma pada saat ini saja.

    Misbah says: terimakasih mas Forlan. 5w+1h sebenarnya bisa diaplikasikan pada tulisan apapun, baik berita, opini, maupun artikel lainnya. dengan 5w+1h sebuah tulisan akan kian komprehensif atau lengkap. untuk judul “penurunan harga minyak” whennya ya “saat ini” itu. Namun, perlu diingat, bahwa tulisan opini tidak menuntut 5w+1h harus digunakan keseluruhan. Kita bisa saja menggunakan secukupnya sesuai kebutuhan kita. berikut saya berikan contoh sebuah berita yang menggunakan 5w+1h untuk kasus penurunan harga minyak:

    “(when) Senin, 2 Maret 2009, (who) Pemerintah yang dimpinan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (what) kembali menurunkan harga minyak. Kebijakan ini diambil setelah melalui berbagai kajian berkaitan adanya kenaikan harga minyak mentah perbarel di dunia. (why) Tujuan adanya penurunan harga minyak ini, menurut Juru Bicara Istana, Andi Mallarangeng, agar dapat mendongkrak hasil pemilu partai demokrat baik di pemilu legislatif maupun presiden dan wakil presiden esok.
    (how) Dengan adanya penurunan ini, Pertamina sebagai BUMN yang memonopoli perminyakan diminta untuk memikirkan teknis pelaksanaan penurunan harga ini. ‘Implementasi ini akan dilakukan secara bertahap. (where) Tahap awal penurunan harga minyak hanya akan dilakukan di Kabupaten Banten. Kedua, di Sidoarjo. Ketiga, baru ke seluruh Indonesia’, ujar Bambang selaku Direktur PT Pertamina.”

    Nah, setelah ketika mengungkapkan berbagai fakta di atas, dalam sebuah opini atau kita ingin mengomentari kasus tersebut di blog kita, di paragraf berikutnya kita tinggal mengungkapkan apa yang menjadi pemikiran kita. Atau, penyusunannya bisa kita bolak-balik, opini pribadi kita terlebih dahulu di paragraf pertama baru kemudian ungkapkan fakta pada berikutnya. Itu tinggal gaya kita saja. Semoga bermanfaat mas.

    Balas

  3. Posted by suyatno on 6 Maret 2011 at 14:17

    makasih terhadap anda yang membuat blokini,dengan adanya metode ini saya bisa mengerjan tugas sekolah saya.

    Balas

  4. artikel nya bagus! bisa beri contoh berita kebakaran 5w 1h yg cocok untk dibwakan oleh reporter! misalny langsung dri kejadian tersebut?

    Misbah POETRAFOTO: ini contohnya mbak: “telah terjadi kebakaran (what) di perumahan A (where). kebakaran terjadi sejak pukul 19.00 WIB (when). kebakaran ini terjadi diduga muncul dari ledakan sebuah kompor gas dari seorang penduduk (how & why). polisi dan tim kebakaran bersama penduduk setempat saat ini masih dalam proses memadamkan api secara bergotong royong (who)”.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: