kasus Budha Bar: disebabkan suhu politik yang kian memanas ditambah kebutaan akan etika bisnis dan tidak teliti mengatur strategi bisnis multinasional


Beberapa hari terakhir ini, kasus Budha Bar yang ada di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, kian hangat dibicarakan oleh banyak orang dan di-blowup habis-habisan oleh media massa Indonesia. Bar yang ramai dikunjungi oleh para turis manca ini merupakan usaha franchise atau waralaba dari Perancis.

Sebenarnya kasus seperti ini tidak seharusnya diributkan. Seorang pengusaha kaya yang ingin menginvestasikan uangnya agar bisa mutar dan berlipatganda, salah satunya adalah dengan cara mendirikan usaha lewat membeli waralaba yang sudah mapan di belahan dunia ini. Kita mengetahui banyak sekali perusahaan raksasa yang menjual waralaba atau franchise bisnisnya di Indonesia, beberapa di antaranya yang terkenal di Indonesia adalah Mc Donald, Kentucky Fried Chicken (KFC), Indomaret, Alfamart, termasuk Budha Bar tersebut. Itu hal yang biasa bagi strategi bisnis dimanapun berada. Namun, khusus di Indonesia ini penduduk bangsanya sangat sensitif dengan yang berbau SARA. Apalagi yang sudah menyinggung soal keyakinan dan kepercayaan keagamaan. Sebenarnya Budha Bar ini juga sudah lama ada di Bali dan sangat ramai pengunjungnya hingga gini.

Cuman, jika saya analisis, mengapa hal ini jadi kian memanas, ada 2 penyebab utamanya. Pertama, si pemilik bisnis atau pembeli waralaba tidak dengan jernih memperhitungkan dan berpikir etika bisnis khusus untuk Indonesia. Sebuah bisnis jika ingin langgeng dan tidak menuai masalah seharusnya memperhitungkan dengan teliti dan seksama akan etika sosial bangsa Indonesia. Seorang pengusaha harus memiliki strategi yang jitu sebelum memutuskan berbisnis multinasional. Salah satu faktor terpentingnya adalah strategi pemilihan penamaan akan bisnisnya.

Kedua, penyebab utama berikutnya adalah ada dugaan bahwa pemilik waralaba Budha Bar di Jakarta ini adalah Puan Maharani, salah satu anak dari Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden RI dan petinggi partai PDIP. Pemilik lainnya adalah Reni Sutiyoso, anak Sutiyoso. Menurut saya, ini ada kaitannya dengan suhu politik yang kian memanas. Para lawan politik Mega dan keluarga serta kroninya mulai mencari cara apapun agar Mega gagal dalam pemilu legislatif dan eksekutif mendatang. Buktinya, yang di Bali juga tenang-tenang saja kok. Yah, inilah politik.

Jadi, solusinya adalah pemilik usaha itu menghilangkan atau mengganti berbagai aksesoris yang berbau agama. Kemudian, mengganti nama usahanya dengan nama yang tidak mengandung SARA. kita lihat saja perkembangan berikutnya ya… Bagaimana menurut Anda? —Mishbahul Munir

tulisan ini saya dedikasikan untuk Djarum Black Blog Competition with keyword Black Community, Blackinnovationawards, and Blackinnovationawards goes to campus.

3 responses to this post.

  1. ya memang ini berbau politik apalagi skrng lg pemilu, segala mcm cara di lakukan tuk mncari nama. tetapi di blk smua itu ada benarnya agar lbh hati2 tuk menamakan sesuatu agar tidak melenceng dari agama, mklum lah kita orang timur jadi mesti sadar diri sama masyarakat kita sndri. ya mdh2an ada jln kluar yg sama2 enak spy ga ada keributan ky gni.

    Misbah says: Teddy, terimakasih telah urun saran di blog saya. Saya setuju dengan pendapat Anda. Salam kenal.

    Balas

  2. Posted by Ita on 5 April 2009 at 09:22

    Saya yakin tidak hanya umat Buddhis saja yang akan marah apabila nama agamanya dipakai untuk nama tempat hiburan malam. ini benar2 adalah penistaan. Saya berharap pemerintah daerah segara menindak lanjuti hal ini. Tidak hanya umat Buddha yang ternista bahkan citra Indonesia yang sarat akan nilai budaya timur juga bisa rusak. tks

    Misbah says: Ita, semoga masukan kita semua menjadikan kehidupan beragama di Indonesia kian baik dan indah ya. salam kenal.

    Balas

  3. Posted by Facebook Buddha Indonesia on 9 September 2009 at 20:32

    WAHWAHWAH…….SALUT…..MAU MUNTAH BACA TULISAN ELO….–Mishbahul Munir–
    ENAK AJE ELO NGOMONG ini ada kaitannya dengan suhu politik yang kian memanas…

    ELO ORANG PDI????
    ELO ORANG SUTIOSO????

    LAGI NYARI MUKE NEH!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    ELO ADA AGAMA???
    ELO ADA IDOLA?????

    GIMANE KALO MEREKA DIJADIKAN ORNAMEN SEBUAH BAR?????????????????

    TOLOOOOOOOOOOOOOOL……………………

    Misbah says: Terimakasih… terimakasih saudaraku… Saya bukan siapa-siapa. Cuman orang tolol kok. Santai aja ya… Smoga Anda selalu diberi kecerdasan untuk melihat ketololan orang lain. amin…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: