prediksi pemilu legislatif 2009: pemenangnya tetap seorang ‘vigur’ berkharisma dan berani


Setelah melihat sekian banyak gaya, pola tingkah, gerak gerik, dan cara publikasi para calon legislatif atau caleg menjelang Pemilu 2009, saya mempunyai prediksi siapa yang akan menjadi pemenangnya.

Pertama, seorang caleg yang sudah menjadi vigur atau tokoh sosial yang punya basis massa kuat. Figur disini seperti kiayi, ustad, pendeta, guru, dokter, artis, orang terkaya di daerah, dan pemegang status sosial tinggi lainnya. Dia dikenal karena telah lama menjadi ‘pelayan’ masyarakat dan berkecimpung serta dekat dengan masyarakat di sekitarnya.

Kedua, memiliki kharisma yang kuat bagi masyarakat lingkungannya. Orang yang sekali sudah kena cela, baik karena ulah polahnya sendiri atau dibuat-buat orang lain, dijamin dia akan dibenci oleh masyarakat dan tidak akan dipilih. Kharisma ini terkait erat dengan track record seseorang. Inilah Indonesia. Bangsa Indonesia masih membutuhkan seorang vigur yang kharismatik.

Ketiga, bisa menunjukkan keberaniannya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan melawan ketidakadilan di masyarakat. Terhadap korupsi, dia bisa dengan tepat memberikan contoh atau menyampaikan dan membuktikan bahwa dia siap dan akan memberantas korupsi. Terhadap penderitaan rakyat, dia dengan sigap merangkul dan mengangkat masyarakatnya dari penderitaan hidup, kemelaratan, kemiskinan, kebuta-hurufan, dan kehidupan sulit rakyat lainnya. Tipe ketiga ini, harus bisa menghilangkan sifat plintat-plintut. Dia harus bisa menunjukkan ketegasan dan cinta kasih (begitu kata Mario Teguh, seorang motivator).

Keempat, bisa membuktikan dan dipegang janjinya. Ini peluang besar bagi caleg yang baru. Dia bisa tebar sebanyak-banyak janji yang realistis, yang memang dia akan dan dapat dia lakukan. Bagi caleg ‘tua’ atau yang dulu pernah terpilih, orang akan melihat seberapa hebat dia merealisasikan janji-janjinya dulu.

Kelima, yang punya dana atau uang yang banyak. Ini tidak bisa dipungkiri, salah satu status sosial yang akan dipandang masyarakat Indonesia dari seorang caleg adalah kekayaannya. “Aku gak lihat dia titel gelarnya berapa panjang, kuliahnya dimana, atau anaknya siapa. Tapi yang penting, berapa uang yang bisa dia kasih ke aku” begitu kata para tetanggaku dan teman-temanku. Entah apapun caranya dia akan membagikan ‘uang’ itu. Yang terpenting masyarakat pemilihnya bisa langsung merasakan implementasi dana itu. Bisa dibelikan aspal jalan kampung, amplop bagi-bagi duit, makan-makan syukuran tiap hari bergiliran, membelikan lampu penerangan di kampung-kampung, dan lain sebagainya.

Bagaimana menurut Anda? Ada yang perlu ditambahkan? —Misbah

tulisan ini saya dedikasikan untuk Djarum Black Blog Competition with keyword Black Community, Blackinnovationawards, and Blackinnovationawards goes to campus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: