dari mocopat syafaat padhang mbulan 17 maret 2009: petuah dan pagelaran syukuran pernikahan Noe dan Ucie


Sangat beruntung sekali saya bulan Maret 2009 ini bisa menyempatkan diri untuk menghadiri jamaah maiyah pengajian padhang mbulan mocopat syafat di rumah Cak Nun yang terletak di Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Gimana tidak beruntung? Malam itu didedikasikan pula untuk syukuran walimahan resepsi pernikahan Noe dan Ucie yang telah berlangsung 19 Februari 2009 lalu. Noe yang merupakan putra Emha Ainun Najib juga vokalis Band Letto ini punya nama asli dan lengkap: Sabrang Mowo Damar Panuluh. Sedangkan Ucie, istrinya, punya nama lengkap Fauzia Fajar Putri, seorang gadis dari Sulawesi.

Pengajian Padhang mBulan Januari dan Februari karena beragam kesibukan yang tidak bisa saya tinggal membuat saya tidak bisa menghadiri. Sungguh saya sangat kangen sekali. Dan, alhamdulillah, bulan ini saya bisa hadir. Kangen saya pun tambah meluap dan bisa terobati. Malam itu benar-benar sangat berbeda dari biasanya. Selain ada syukuran pernikahan tadi, ada 4 band terkenal yang turut manggung dalam satu panggung (Letto, Kandela, Kiayi Kanjeng, dan satu lagi lupa), juga mendiskusikan sesuatu yang selama ini menjadi teka-teki dalam benak saya.

Hadir pula menambah kian berbobot pengajian adalah pengamat politik luar negeri UMY Harwanto Dahlan, penyair Mustafa W Hasyim, sang pemuja cinta Kiyai Budi, pakar kejawen dan guru besar filsafat Prof. Damarjati Supadjar, seluruh pembesar dan perwakilan jamaah maiyah dari seluruh daerah di Indonesia (seperti Malang, Surabaya, Jombang, Jakarta). Ada juga mbak Novia Kolopaking, istri cak Nun.

Noe Letto dan Ucie, istrinya

Suatu diskusi yang sangat menarik adalah ketika terjadi dialog antara Cak Nun dan Noe, anaknya. Salah satu tema yang sangat saya tunggu-tunggu adalah, ketika mereka mendiskusikan relevansi teori fisika dan matematika dalam menerjemahkan keunikan dan kehebatan masyarakat ‘Jawa’. Bagaimana seorang yang ahli dan sesepuh Jawa, untuk memetik buah kelapa, tinggal menjentikkan jari, pohon kelapa akan menunduk ke bawah sejajar dengan kepala orang sehingga beliau tinggal memetik, kemudian kelapa kembali tegak. Bagaimana dan mengapa banyak orang Indonesia melakukan Topo atau Tapa atau Menyepi berhari-hari, ada tapa geni, tapa brata, tapa pendem, dsb. Kejadian-kejadian ini bisa diterjemahkan dengan menggunakan teori relativitas dan konektivitas.

Terdapat koneksi antar energi yang ada sehingga semua bisa terjadi sesuai keinginan manusia. Orang bertapa, dalam teori retivisme adalah untuk melambatkan waktu sehingga dia bisa menyesuaikan diri dengan dimensi yang lain, sehingga mencapai dimensi cahaya, yaitu dimensi malaikat. Itulah kenapa seorang tertentu bisa mustajab doanya karena dia bisa masuk dalam dimensi malaikat yang akan langsung membawa doanya kepada Tuhan.

Dan, diskusi lain yang tak kalah menarik adalah mengenai hiruk-pikuk pemilu 2009, kasak-kusuk politik, ekonomi dan sosial kemasyarakatan Indonesia. Pokoknya, bagi saya, malam itu sangat luar biasa dan menambah begitu banyak pengetahuan saya.

Terimakasih pada semua jamaah maiyah Indonesia, semoga Tuhan dan Muhammad selalu memberikan dan menunjukkan kita untuk selalu mempererat cinta dan paseduluran kita. Amin. —munir

Artikel ini saya dedikasikan untuk Djarum Black Blog Competition with keyword Black Motor Community and Black Community.

6 responses to this post.

  1. Posted by abu mundzir on 21 Maret 2009 at 06:35

    Bismillah, di “download ebook islami” blog ini ada download ensiklopedi fatwa syaikh al-Albani, nah di ebook itu ada fatwa haramnya musik, sedangkan di postingan ini antum menghadiri dan sepertinya bersyukur karena bisa hadir di pesta pernikahan “pemusik” yang tentu dihiasi juga oleh “musik”. Sungguh amat besar kebencian di sisi allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan (QS. ash-shaf 61:3). dan ada sebuah hadits terkenal yang ingin ana sampaikan pada antum “agama seseorang itu di lihat dari temannya”. maka berhati-hatilah saudaraku dalam bergaul dan berbuat, ingat al-ilmu qobla qoul wal ‘amal…jazakumullah khoir.

    Saudaramu,
    Abu Mundzir al-Falimbanji

    Misbah says: Abu Mundzir, terimakasih atas ingatan dan komentarnya. Di blog ini, saya ingin berbagi apapun pada pembaca. Berbagai ilmu dan pendapat yang mengharamkan musik, dan berbagi kecintaan saya akan musik. Saya menampilkan fatwa syaikh al-Albani, bukan berarti saya setuju atau mengikutinya. Itu hanya untuk media belajar saya pribadi, dan, jika pembaca juga ingin belajar bersama.
    Soal musik, saya belum bisa meninggalkan atau menutup telinga saya akan keindahannya. Apalagi mencari alasan untuk tidak menikmatinya. Yah, mungkin itu pilihan buat siapapun. Namun, terimakasih telah berkenan berbagi di blog ini. Salam.

    Balas

  2. Posted by oedi on 23 Maret 2009 at 06:38

    “Sebagai makhluk yg hina dina namun diberikan kemampuan untuk berpikir dan memutuskan ini, maka sebaiknya kita senantiasa mendengarkan kata-kata Tuhan itu tidak hanya dari Al-Qur`an melainkan lewat nada yang dihembuskan bersama yang hadir di alam semesta, karena itu juga merupakan Sunnatullah hidup dan kehidupan”

    Misbah says: Oedi, mantab sekali. Memang, jika kita peka dan bisa hadir bersama alam, musik yang sangat indah bisa kita dengar dari alunan kongkongan kodok, kerik jangkrik, kicau burung, bahkan gonggongan anjing. Tuhan memperkenankan kita hidup di dunia ini memang seias dan seasri bersama alam semesta. Nah, keindahan musik adalah bagian dari alam semesta. Sunggung indah…

    Balas

  3. Posted by Munzir Madjid on 28 Maret 2009 at 23:08

    untuk @Abu Mundzir: mohon maaf, saya tidak akan berkomentar tentang ‘musik yang engkau anggap haram.’
    cuma sekedar ‘mencubit.’
    ente menggunakan computer yang made in orang kafir
    ente memanggil google, yahoo atau portal-portal bikinan orang kafir
    listrik yang ente pakai penemuan orang kafir
    baju ente, sorban ente, televisi ente, kulkas ente; semua sudah terkontiminasi oleh produk kafir
    namun ente tenang-tenang saja
    salon dan speeker yang ente pakai untuk ngaji, tidak ada yang produk islam….!!!
    internet yang engkau pakai untuk menyerang saudaramu jelas-jelas produk kafir

    ketika diminta bersyahadat, tiba-tiba saridin lari ke arah pohon kelapa
    naik menapaki pohon kelapa terus sampai ke dedaunan
    lalu meluncur ke bawah melalui blarak kelapa menjatuhkan diri ke tanah
    saridin bersyahadat, bukan membaca syahadat
    siapapun anda; mari bersyahadat dahulu yang benar!!!

    Misbah says: Munzir Madjid, terimakasih atas komentar dan seruannya. ‘Cubitan’ Anda kepada @Abu Mundzir, sangat menarik. Menurut saya, saya telah dengan yakin dan meyakini bahwa ada Tuhan bagi alam semesta ini. Saya telah bersaksi atas alam semesta ciptaan Tuhan seru sekalian alam. Dan, adanya ‘musik’ juga bagian daripada alam. Kemudian, atas semua ‘produk kafir’ yang Anda maksud, mereka semua juga bagian daripada alam. Bahkan, negatif dan positifnya apapun dunia ini, juga bagian daripada alam. Sekali lagi, terimakasih Munzir Madjid dan Abu Mundzir atas komentarnya.

    Balas

  4. Posted by Abu Muntir al-Falimbanci on 6 Oktober 2009 at 18:59

    Menghakimi halal dan haram bukankah itu wilayah Allah? Bukankah lebih baik kita berusaha mencermati dari berbagai sisi dari pada menghakimi segala sesuatu secara membabi buta? Mungkinkah Yang Maha Bijaksana mengharamkan org yg memuji namaNya dgn di-iringi lagu dan musik? Bukankah lebih menyentuh hati jika kita menebar pesona indahnya Islam tanpa menimbulkan kebencian? Saya kira Dia membaca tertawa melihat ini semua sambil berkata “Dah jangan ribut!!, Minum susu, sikat gigi terus bo2.. besok masuk pagi!!” CMIIW..

    Misbah says: Malah sebenarnya, Tuhan itu tak pernah ambil pusing dengan kehidupan manusia. Komunikasi Tuhan dan manusia telah putus sejak manusia telah jatuh dosa!

    Balas

  5. salam maiyah kang misbah, dari bang bang wetan….dan ta’ lupa salam FN’ers :)

    Misbah says: terimakasih kang Arief. Salam Maiyah dan FN’ers!

    Balas

  6. Posted by erwin on 3 Mei 2012 at 16:24

    assalamualaikum wr.wb.

    salam kenal kang misbah… membaca tentang Maiyah dengan kyai kanjeng mengingatkan dan menggugah kerinduan saya pada jama’ah tersebut. selama kurang lebih 2 tahun (2001 – feb.2004) saya menjadi pendengar setia dalam jamah tersebut. semoga teman2 jamah Maiyah diberi kesempatan untuk datang ke Metro-Lampung. salam ukuwah.

    wassalamualaikum wr wb.

    Misbah POETRAFOTO says: waalaikumsalam, salam kenal juga kang Erwin. insyaalloh saya sampaikan jika saya ada kesempatan sowan lagi ke maiyahan ya. semoga Cak Nun dan rombongan berkenan kesana. amiiin amiiin… :)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: