hari 1 KKN: banyak fakta yang tak terduga sebelumnya muncul dalam sosialisasi pemilu 2009


Wow… Surprise sekali. Begitu sangat sibuknya saya di tempat KKN, sampai-sampai saya harus izin tidak hadir kerja layaknya sesuai jam kerja yang telah ditentukan. Saya hanya bisa menyempatkan ke kantor ketika sore hari, itupun jika tidak ada jadwal program kerja. KKN saya kali ini, khusus di Desa Cangkringan, mencakup 24 dusun. Sungguh luar biasa. 10 mahasiswa harus menjangkau semua itu!

Tapi, syukurlah, teman-teman saya ini memang tim yang luar biasa. Dalam sehari kami sudah menjangkau 17 dusun untuk melakukan observasi dan perkenalan ditingkat dusun2 tersebut. Kami juga sudah melaksanakan program sosialisasi pemilu di 2 dusun.

Sungguh, saya sangat terperanjat sekali dan sangat tidak menduga, bahwa Sleman, yang notabene dekat dengan kota pendidikan, Yogyakarta, mungkin hanya 5 persen dari 2 dusun tersebut (Bulaksalak dan Balaran), penduduknya yang tahu mengenai bagaimana harus mencontreng. Mereka lebih banyak tidak tahu dan apatisnya dibanding berkontribusi dalam pemilihan pemimpin bangsa Indonesia ini. Mereka jika ditanya soal contreng dan coblos, mengatakan “lebih mudah yang dulu, yang dipilih sedikit, tinggal coblos, tak perlu pegang bolpen, dan sudah pasti tahu karena tahun-tahun sebelumnya tatacaranya sama”.

“Pokoknya ribet sekali! Pemerintah sepertinya kian tak kenal masyarakatnya sendiri!” Itulah rangkuman diskusi kami selama observasi ke dusun-dusun tersebut. “Saya itu sudah akan 11 kali ini ikut pemilu di Indonesia. Baru kali ini saya sama sekali tidak tahu bagaimana cara dan sah tidaknya suara saya. Pemerintah ini tambah neko-neko. Mereka sepertinya tambah jauh dari rakyatnya. Mereka itu jadi tidak kenal sama sekali dengan masyarakat mereka sendiri. Sudah jelas-jelas, penduduk Indonesia itu nulis dan baca banyak yang tidak bisa, kok pemilunya malah suruh pegang bolpen. Itu pola pikirnya gimana! Memang Indonesia itu kayak Jakarta semua?” begitu tutur salah seorang kepala dusun atau Kadus yang saya temui dengan melampiaskan emosinya lewat kami. (hehe… mungkin biar kami bisa menyampaikan aspirasi beliau kepada yang berwenang kali ya…)

Ini kondisi di Sleman lho… Bayangkan, bagaimana kondisi yang ada di pelosok sumatra, sulawesi, irian sana! Entahlah, apalagi yang akan saya temukan esok di KKN Pemilu ini. Semoga saya bisa berbagi dan bercerita di sini kepada Anda semua, agar Anda semua lebih lengkap informasi mengenai pemilu dari pelosok Yogyakarta, yang letaknya di bawah gunung merapi sana. Salam. (Misbah)

3 responses to this post.

  1. Assaalamu’alaikum, salam kenal dan mampir ya… tukeran link yukkkk

    Misbah says: Aden, salam kenal juga. Saya sudah mampir ke blog Anda. Link blog Anda juga sudah saya link di blog saya, silahkan lihat di “blog wajib dibaca”. Terimakasih.

    Balas

  2. ya… ya… Kita sama2 menuliskan hari2 selama KKN kita. Tapi akhirnya ceritaku tak bisa tuntas krn kesibukan KKN. Nulis diary aja nggak sempat, mesakke tenan!
    Lapangan kami di tengah kota Jogja. Masih agak mesakke juga ketika mereka (masyarakat yang tinggal di kota) dihadapkan pada mekanisme pemilu yg baru. Sungguh tak bisa terbayangkan, gimana kondisinya di pelosok2 nun jauh di sana?
    Tapi memang benar, perubahan mekanisme harus tetap diadakan. Sebab selama ini, tinggal negara Indonesia dan Kenya saja yang masih sangat setia dengan “pencoblosan”. So, kita tak boleh berada pada urutan belakang, donk..
    Tapi sayangnya, masih banyak rakyat Indonesia yang belum siap atas segala bentuk perubahan ini.

    Misbah says: Wulan, gimana KKN-mu? Lancar toh? Kalau aku sih sedang berusaha sekuat tenaga untuk dengan kondisi bagaimanapun tetap menuliskan ide yang ada diotakku. Sudah menjadi obat bagi stressku, jika aku bisa menumpahkan apa yang ada di kepala.
    Soal pencoblosan dan pencontrengan, memang, tetap ada nilai positif dan negatifnya. Namun, sekali lagi, menurutku, sosialisasi dari pemerintah, terutama KPU dan jajaran panitia pemilu lainnya, beserta partai dan calegnya, kurang atau bahkan tidak maksimal. Buktinya adalah di tempat KKN-mu yang di tengah kota, yang notabene masuk dalam wilayah kota pendidikan, Yogyakarta. Yang menurutku, terpenting adalah sosialisasi cara baru untuk perubahan tersebut. Semoga berkenan ya…

    Balas

  3. iya bener, mas. Ada beberapa PPS di lokasi KKN-ku yg kinerjanya masih blm maximal. Blm mampu menyentuh grassroot yg sebenernya paling membutuhkan diadakannya sosialosasi. Ya untungnya, pas ada mahasiswa KKN (walah!) yang berusaha menghubungkan PPK dan PPS dengan masyarakat yg bener2 membutuhkan sosialisasi. Jadilah PPS di lokasi KKN kami yg kinerjanya punya rekor paling sibuk dr lokasi2 sebelahnya, hehe!
    Btw, dirimu ki KKN kemaren to, Mas? Tak kira blm KKN-e, lha kayaknya dulu gak pernah nongol pas pembekalan..

    Misbah says: Wulan, diriku KKN periode sekarang tahap 2, neruskan tahap 1.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: