track record nahdlatul ulama (NU): organisasi keagamaan yang tidak mudah mengucapkan kafir atau mengkafirkan orang atau umat lain


Kamis, 2 April 2009 lalu, saya kebetulan bisa hadir dalam Halaqoh Nasional Nahdlatul Ulama atau NU di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Saya hadir karena tertarik dengan tema yang diangkat, yaitu “etika politik dan visi kebangsaan dalam khittoh NU”. Hadir dalam halaqoh ini tokoh NU, Slamet Effendi Yusuf, Sastro, dan puluhan utusan petinggi NU di berbagai daerah seluruh Indonesia.

Selama halaqoh saya menyimak berbagai hal yang berkaitan dengan NU, mulai dari kelahiran NU, sejarah pencetusan Khittah, dan berbagai momen-momen penting yang mengiringi NU. Organisasi keagamaan Islam terbesar di dunia ini (meminjam istilah para Pembicara), juga tak lepas dari fenomena atau permasalahan yang mengiringi pegiat atau anggotanya. Khususnya dalam bidang politik baru-baru ini. Bertebarannya partai politik yang ‘mengklaim’ atau mengaku lebih NU dibanding partai lain. Tak luput juga, tokoh-tokoh yang mengatasnamakan NU tapi hanya memanfaatkan NU sebagai kendaraan promosi pencalonan dan keikutsertaan politik praktis si tokoh tersebut. Inilah sumber masalah yang terjadi di tubuh NU.

Terlepas dari itu semua, saya mengamati, dari seluruh organisasi keagamaan yang ada di Indonesia ini, baik yang berjuluk jamaah, jam’iyah, lembaga dakwah, madzhab, atau apapun itu, hanya nahdlatul ulama atau NU lah yang belum pernah menyatakan kafir atau mengkafirkan orang atau umat lain. Menurut saya, ini adalah kearifan NU. Kehati-hatian ajaran NU. Dan, implementasi tonggak dasar yang tancapkan berdasarkan Pancasila.

Saya pribadi, sangat benci kepada para pegiat jamaah atau aktivis aliran tertentu yang sangat mudah mengucapkan kata kafir pada siapapun. Dengan sedikit kesalahan minor, siapapun bisa langsung di vonis kafir. Alangkah mudahnya hal ini terjadi. Jika ini terus menerus subur lahir dari para penganut Islam atau para Muslim, Islam akan pecah tercerai berai dan kian tak bertaji di dunia ini. Apakah ini ghiroh rahmatan lil alamin yang ‘kehendaki’ oleh Tuhan?

Saya tidak menyalahkan keyakinan ‘pengkafir’ (yang mudah mengucapkan kafir) tersebut, tapi, jika boleh saya menyarankan, kajilah secara mendalam, identifikasi dan analisislah secara komprehensif, runutlah hukum-hukum atau nash atau dalil yang ada di Qur’an dan Hadits, baru putuskan untuk memfonis kafir pada orang lain. Bahkan, seharusnya, biarlah Tuhan yang memutuskan siapapun kafir atau tidak. Ingat, agama beserta keyakinannya adalah bersifat subyektif sekali antara Tuhan dan hambanya.

Marilah berjabat tangan, saling merangkul, dan menunjukkan hal serta contoh terbaik bagi siapapun dan umat manapun. Kita hanya bertugas menjadi ummat yang terbaik dan paling indah dipandang oleh umat lainnya. Baik buruknya Islam tergantung pada kita sebagai penganutnya.

Bagaimana menurut Anda? —Mishbahul Munir

One response to this post.

  1. ya saya juga sangat setuju, pak misbah artikelnya boleh kan disebarluaskan mudah mudahan ikhlas..

    Misbah says: dengan senang hati dan sangat ikhlas pak Abdul Nasir. Silahkan, semoga bermanfaat. Bila sumber penulis dicantumkan akan lebih baik lagi ya… Trimakasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: