pantauan terakhir sosialisasi pemilu di Sleman Yogyakarta: masih banyak daerah yang tidak tersentuh sosialisasi contreng/centang dan para caleg


Hari ini, 6 April 2009, semua bentuk sosialisasi pemilu 2009 sudah tidak diperbolehkan. Sekarang sudah masa tenang. Nah, tadi malam, kami tim KKN-PPM UGM Tahap 2 yang bertugas untuk sosialisasi contreng atau centang melakukan sosialisasi terakhir di Dusun Jomblangan, Desa Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Dalam sosialisasi kami selama seminggu ini (30 Maret sampai 5 April 2009), kami menemukan fakta bahwa, di Desa Cangkringan yang terdiri dari 24 Dusun, hampir 30% persen belum tersentuh sosialisasi atau kampanye para peserta pemilu baik dari pihak partai politik maupun para calon legislatifnya. Bahkan, ada satu Dusun yang menyatakan sama sekali tidak mengenal Calon DPD (Dewan Perwakilan Daerah) mereka untuk Propinsi DI Yogyakarta. Padahal, di Propinsi DI Yogyakarta terdapat 12 calon DPD. Untuk Caleg wilayah Daerah Pilihan (Dapil) Sleman 2 terdapat 72 caleg yang akan memperebutkan 9 kursi di DPRD Kabupaten Sleman.

Selain itu, walaupun masyarakat Desa Cangkringan, secara menyeluruh telah kami berikan sosialisasi terkait tata cara pemilihan dan pencontrengan, masih kami temukan penduduk yang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. “Hambatan mereka lebih banyak disebabkan oleh banyaknya partai politik peserta pemilu dan caleg yang menjadi utusan parpol tersebut. Kemudian, sistem baru yaitu sistem contreng atau centang masih membingungkan bagi mereka. Jadi, menurut kami, untuk pemilu ke depan, pemerintah perlu mempertimbangkan dengan seksama sistem yang akan dipilih. Masyarakat Indonesia itu bukan saja yang ada di Jakarta yang notabene berpendidikan. Kebijakan apapun yang diambil pemerintah harus melihat juga rakyat pelosok secara keseluruhan. Banyak masyarakat kita yang pegang bolpen saja gemetar, kok pemilunya malah nyontreng!” tutur salah seorang Anggota KPPS Desa Cangkringan, Nono, yang selalu mendampingi sosialisasi yang dilakukan oleh mahasiswa KKN PPM UGM.

Untuk menanggapi hal ini, saya pribadi sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh pak Nono di atas. Pemerintah seharusnya bisa lebih arif dan seksama mengambil sebuah kebijakan. Sistem contreng atau centang perlu dievaluasi kembali. Sedangkan, untuk para peserta pemilu atau parpol dan calegnya, sosialisasi atau kampanye Anda harus serius dan menyeluruh. Kampanye Anda harus memberikan pendidikan pada masyarakat. Bukan malah foya-foya, geber-geber knalpot, hambur-hambur kaos dan spanduk, bahkan sebar uang yang tak seberapa itu. Berikan contoh atau tauladan terbaik bagi masyarakat yang awam dengan kalian dan dunia politik.

Semoga bermanfaat! –Munir–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: