Tambah Hot: Pakar Ekonomi Saling Tuding Antek Asing, Penganut Neoliberalis, dan Tidak Pro Rakyat!


benarkah kita bisa lepas dari neoliberalisme global?

benarkah kita bisa lepas dari neoliberalisme global?

Indonesia, hari atau minggu-minggu akhir ini sedang lupa akan masalah lain. Hampir semua hanya membicarakan soal perekonomian semata.

Banyak pakar ekonom saling tuding bahwa sana itu antek asing, penganut neoliberalisme, dan tidak pro rakyat. Apalagi ditambah dengan kian memanasnya persaingan capres-cawapres Pilpres Juli mendatang. Tak lupa pula, para politikus pun kian menambah suram arti, makna, dan hakikat neoliberalisme yang sesungguhnya.

Yah, maklumlah, yang bicara politikus, jadi unsur akademisnya sudah jauh ditinggalkan. Sehingga asal jeplak dan jiplak saja, yang penting pesaing politik hancur dan tercemar namanya. Saling label ini sungguh menyedihkan bagi saya, seorang mahasiswa fakultas ekonomi. Para politikus itu tidak nambah mencerdaskan kita, namun nambah menyesatkan sekali.

Telah banyak sekali literatur yang mengupas terkait neoliberalisme ini, dari yang mulai jurnal internasional, wikipedia, hingga blogger yang seperti saya ini. Berikut ini sekelumit cuplikan sejarah dan arti neoliberalisme dari wikipedia:

Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal mengacu pada filosofi ekonomi-politik akhir-abad keduapuluhan, sebenarnya merupakan redefinisi dan kelanjutan dari liberalisme klasik yang dipengaruhi oleh teori perekonomian neoklasik yang mengurangi atau menolak penghambatan oleh pemerintah dalam ekonomi domestik karena akan mengarah pada penciptaan Distorsi dan High Cost Economy yang kemudian akan berujung pada tindakan koruptif. [1] Paham ini memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas [2] merobohkan hambatan untuk perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan dari meningkatkan standar hidup masyarakat atau rakyat sebuah negara dan modernisasi melalui peningkatan efisiensi perdagangan dan mengalirnya investasi. [3]

Untuk selengkapnya dapat dilihat di link: Neoliberalisme.

Nah, saya tidak akan mengupas akan hal ini. Saya lebih cenderung melihat mengenai isu yang diangkat ini. Seolah, dengan hanya melempar isu politik dengan bidang ekonomi ini, para Capres-Cawapres itu akan mendapatkan simpatik dari masyarakat.

perdagangan yang hanya bermodal angka tanpa barang riil, itulah pereng kehancuran ekonomi dunia...

perdagangan yang hanya bermodal angka tanpa barang riil, itulah pereng kehancuran ekonomi dunia...

Mungkin, alasan tim sukses mereka, pertama adalah kini dunia termasuk Indonesia sedang menghadapi imbas dari krisis global, jadi tepat, jika isu ekonomi yang diangkat.

Kedua, ada unsur politis, bahwa untuk menumbangkan dan menggagalkan SBY untuk terpilih kembali, maka isu yang diangkat lebih tepat adalah wakilnya yang punya background ekonom. Nah, kebetulan saja, biografi Prof. Boediono adalah alumni dari perguruan tinggi yang lebih banyak menganut neoliberalisme tersebut. Walaupun toh, Amerika saja, gagal menjalankan asas ekonomi ini.

Pendapat saya yang paling penting adalah, pertama, diluar isu ekonomi, masih terdapat banyak sekali yang menarik untuk diangkat, di antaranya, moral remaja dan bangsa Indonesia yang sudah rusak-rusakan, sistem dan penyelenggaraan pendidikan yang jauh dari harapan rakyat, atau keamanan dan pertahanan Indonesia yang kian hari kian dihina oleh negeri jiran kita.

Kedua, saya sangat yakin, tidak ada salah satu calonpun dari pasangan capres-cawapres yang akan maju, lepas dan bersih dari bau asas ekonomi neoliberalisme ini. Mau bukti, silahkan lihat dan cermati sendiri polah tingkah serta gaya hidup mereka ya…

Ketiga, ekonomi dan politik Indonesia tidak bisa lepas dari campur tangan bangsa asing. Informasi yang saya dapat dari teman-teman pekerja informasi khusus (intelijen) semua pencalonan pasangan itu tak luput dari pesanan asing dari beberapa negara yang punya kontribusi dan kepentingan besar akan Indonesia.

Keempat, rakyat hanya bukti bahwa siapapun yang terpilih kelak bisa membawa Indonesia kian sejahtera dalam segala lini, ekonomi, budaya, pendidikan, keamanan, dan lain sebagainya.

Percaya atau tidak, mari kita buktikan saja, siapa yang menang Juli esok, dan hasilnya dalam 5 tahun mendatang. Apa kira-kira perubahan yang akan mereka perbuat bagi bangsa Indonesia? Atau malah bakal kian menghancurkan Indonesia? Hanya Tuhan yang bisa membuktikan dan meyakinkan kita.

Gimana pendapat rekan-rekan? –Munir Misbah–

One response to this post.

  1. Mishbahul Munir: Tambah Hot: Pakar Ekonomi Saling Tuding Antek Asing, Penganut Neoliberalis, dan Tidak Pro Rakyat!…

    Pendapat saya yang paling penting adalah, pertama, diluar isu ekonomi, masih terdapat banyak sekali yang menarik untuk diangkat, di antaranya, moral remaja dan bangsa Indonesia yang sudah rusak-rusakan, sistem dan penyelenggaraan pendidikan yang jauh …

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: