Surat Cinta Buat Amin Rais: Jadi Orang Tua yang Sebenarnya, Tahanlah Hasratmu Itu dengan Bijak ya…


Prof. Amin Rais yang saya hormati,

Prof. Amien Rais, apakah Anda siap menjadi orang tua saja?

Prof. Amien Rais, apakah Anda siap menjadi orang tua dan guru kami? (photo by: Radar Jogja)

Prof, saya adalah salah satu fans Anda. Saya selama ini salut dengan perjuangan reformasi yang telah Anda lakukan. Entah itu sebenarnya ikhlas untuk bangsa atau untuk tujuan tertentu. Juga, ide-ide kreatif yang Anda gemborkan selama ini.

Tak lupa, ‘suara’ Anda yang lantang, walaupun terlihat lemah lembut karena Anda orang Jogja, selalu menjadi pendorong dan penyemangat bagi saya yang masih muda ini.

Untuk menunjukkan kekaguman saya, saya selalu berusaha untuk bisa menghadiri berbagai kegiatan dan acara yang Anda hadiri. Terakhir kali adalah ketika Anda hadir dalam diskusi santai di Pengajian Padhang mBulan Mocopat Syafaat di Kasihan Bantul, 17 April 2009 kemarin.

Teriring kekaguman ini pula, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan kepada pak Amin.

Pertama, janganlah banyak bicara lagi. Sudah cukup tugas Anda. Biarkan generasi penerus Anda yang melanjutkan perjuangan Anda. Jika Anda tidak bisa menahan untuk terus cuap-cuap, eman-eman citra Anda sebagai sesepuh intelektual dan spiritual Indonesia. Mending, lumayan, jika isi yang Anda sampaikan itu berisi dan tidak menimbulkan kontradiksi di masyarakat. Baru-baru ini, dengan komentar Anda yang terkesan lintas partai, dan terlihat cari muka, sungguh mengubah pandangan saya pada Anda.

Kedua, jadilah ‘orang tua’ yang cerdas dan benar-benar bisa jadi orang tua sesungguhnya. Anda pasti ingat akan pesan Cak Nun kala pengajian itu. Jika bisa jadi Profesor atau Guru Besar yang benar-benar ‘tua’, Anda akan pasti lebih dihargai dan dikenang kelak oleh rakyat Indonesia sebagai orang tua yang arif dan bijaksana namun penuh perjuangan demi kejayaan bangsa.

Ketiga, sungguh, Indonesia ini tidak akan bisa diubah oleh generasi Anda. Saya yakin seyakin-yakinnya, jika generasi Anda masih kuat mencengkram dengan penuh kuasa dan tidak arif bijaksana tapi malah ‘banyak tingkah’ dengan mencari kaderisasi yang mental dan tindak-tanduknya sama dengan mereka, Indonesia tidak akan berubah. Reformasi, kapanpun tak akan tergapai! Bahkan saat ini hasil reformasi, malah terlihat cenderung amburadul dan menyurukkan Indonesia kepada perpecahan bangsa!

Saat ini, biarlah generasi penerus, generasi kami yang belajar dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjuangan Anda.

Sekali lagi, jadilah orang ‘tua’, ‘guru’ yang benar-benar sejatinya orang tua…

Mohon maaf, sungguh nyuwun maaf Prof atas ketidaksopanan saya ini.

Salam tabik,

Mishbahul Munir, fans Anda.

6 responses to this post.

  1. sip emang gitu, jangan mentang2 sudah tua seenaknya sendiri,..

    maju pola pikir kita

    Balas

  2. Posted by Ridho on 4 Juni 2009 at 04:45

    hehe, banyak sekali para pengagum dan musuh –tidak ada musuh abadi dalam politik– seorang Amien Rais, yang melihat beliau dari posisi anda bung misbah –saya sebut disini posisi konvesional. Nah kebetulan, alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk melihat seorang Amien Rais dari kehidupan sehari2, bahwa beliau sosok yang sederhana, dan ikhlas dalam membangun demi bangsa ini.

    Yang saya baca di media dan yang anda tulis di blog ini memang wajar menjadi persepsi yang beredar di masyarakat tentang Amien Rais, karena pergerakan beliau yang cepat dan kadang “suprising”. Ada satu artikel saya dapat dari suaramerdeka, yang sangat mewakili kesaksian saya sebagai orang yang tau persis kehidupan Amien Rais secara dekat. Kebetulan saya tetangga–bukan tetangga rumah tapi tetangga kamar beliau.

    http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=66148

    selamat membaca

    Misbah says: Mas Ridho, salam kenal dan terimakasih sudah berkenan sharing dengan saya. Saya berpendapat seperti dalam tulisan saya di atas, karena memang saya ini orang jauh, yang hanya bisa melihat dari jauh. Saya sangat berharap, orang seperti Mas Ridho (yang dekat dengan beliau, karena Anda putranya) ini berkenan berbagi kepada siapapun agar orang lain (seperti saya juga) tidak salah tafsir dan sekilas membaca, lalu berpendapat. Namun, sekali lagi, tulisan saya ini adalah bentuk kekaguman saya kepada beliau.

    Selamat berjuang pak Amin. Mohon tetap dengarkan suara orang ‘kecil’ dan tak tau apa-apa ini ya…

    Balas

  3. misbah goblok,,, postingan anda sangat bodoh dan goblok… anda sok pintar menceramahi amin rais, padahal anda tidak kenal dia secara keseluruhan,, kasian bgt

    Misbah says: Mas Firman yang cerdas dan pintar, karena kegoblokan saya itulah saya menulis postingan ini mas. Karena kebodohan saya pula lah saya ingin lebih mengenal pak Amin. Semoga postingan di atas tidak dibaca oleh siapapun (termasuk Prof. Amin) sebagai ceramah ya… Terimakasih mas Firman sudah mengasihani saya… Anda memang Cerdas dan Pintar. Salam kenal ya…

    Balas

  4. sok pintar sok ceramahin orang,, mending ceramahin bokap lo aja dirumah,,, jgn sok ceramahin org yg lebih senior dan berpendidikan kyk amin rais… lo aja msih awam tentang dunia politik,, coba lah kita harus hormati org seperti bpk amin rain yg udah berjasa,,,oke cuyyyy

    Misbah says: Mas Firman yang Cerdas dan Pintar, terimakasih jika Anda melihat ini adalah sebuah ceramah. Semoga hal itu bisa tercermin dengan baik dalam postingan saya ini ya. Puji syukur pada Tuhan, hampir tiap hari saya menceramahi diri saya sendiri dan seluruh keluarga saya (termasuk bokap juga). Karena keawaman sayalah mas, saya memposting tulisan ini. Dan, pastinya, dengan postingan ini pula, hormat tabik saya kepada Prof. Amin. Saya yakin seyakin-yakinnya, mas Firman orang yang cerdas dan pintar, pasti lebih mengenal Prof. Amin ketimbang saya yang nista dan awam ini. Terimakasih ya mas atas masukannya… Salam

    Balas

  5. Posted by tony widarto on 6 Agustus 2010 at 07:17

    mas misbah, semoga tulisan sampeyan ini murni dari hati nurani. melihat orang itu jangan dari luarnya saja, sampeyan fans pak amien tapi tulisan sampeyan mencerminkan ketidaksukaan mas… salam kenal.

    Misbah says: mas Tony, salam kenal juga mas. terimakasih atas pencerahannya ya. ini hanyalah pandangan awam dari saya, pemuda yang penuh kekurangan…

    Balas

  6. Posted by nazifa on 7 Februari 2011 at 16:51

    hahaha.. saya mah ketawa aja… pasti yang nulis gak ngerti apa-apa ya… termasuk gak ngerti etika… saya kasihan…

    Misbah says: Terimakasih mbak Nazifa atas tertawa dan kasihannya. Ini hanyalah ungkapan sebagai penggemar saja. Mohon pesan ini disampaikan jika bertemu beliau ya. Terimakasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: