Ulama, Ustadz, Kiyai = Makelar?


ulama, ustadz, kiyai sama dengan makelar?

ulama, ustadz, kiyai sama dengan makelar?

Tahukah Anda persamaan antara ulama, ustad, atau kiyai dengan makelar? Makelar ya, bukan rentenir lho…

Selama ini yang kita pahami, seorang ulama, ustadz atau kiyai adalah orang yang sangat terpuji, diberi kelebihan khusus untuk memahami segala macam soal agama, dan diberi hidayah khusus dari Tuhan untuk menyampaikan tetek-bengek dan kebaikan kepada ummat.

Dalam sebuah diskusi ringan suatu malam, saya ngobrol sambil ngopi dengan teman-teman di sebuah pemancingan yang sudah sepi yang letaknya dekat dengan sungai. Saya melempar sebuah pertanyaan yang menurut saya menggelitik dan patut dibincangkan malam itu. Yaitu mengenai perbedaan dan persamaan antara Ulama, Ustadz, Kyai dengan Makelar?

Seorang teman menjawab begini, “Ya sama aja. Coba kita lihat, mereka itu sama-sama menyampaikan sesuatu yang tidak semuanya ia mengerti dengan pasti dan mengambil keuntungan dari kegiatan tersebut. Katakanlah seorang ustadz, apa pernah dia paham dengan benar ayat yang dia sampaikan? Apa dia tahu apa maksud dari ayat tersebut dari yang ’diinginkan’ Tuhan? Sama juga kan dengan makelar, baru kali itu dia lihat seekor sapi, tapi dia langsung berani menyampaikan dan menjualkannya kepada pembeli kan?”

Teman lain juga menambahkan, ”Iya sih. Mereka juga ada kecenderungan untuk melebih-lebihkan apa yang dia tahu agar dia untung. Seorang kiyai, dalam menafsirkan sebuah ayat pasti menambahkan pendapat pribadinya. Dia ingin menunjukkan kepada ummat bahwa dia lebih tahu. Keuntungannya adalah agar dia dihormati dan dihargai. Begitu juga dengan makelar, kambing yang sebenarnya tidak sempurna, dia baik-baikkan di depan calon pembeli agar dia mau membeli, dan untunglah dia jika transaksi itu deal!”

Kami semua sempat mengangguk bersama-sama dan menghisap rokok untuk memberikan jeda dalam diskusi.

Mendadak salah satu anggota diskusi nyeletuk, ”Cuman bedanya adalah yang diurusi, yang diributkan, yang dibisniskan, dan yang dilebih-lebihkan oleh seorang ulama adalah semua yang berkaitan dengan religiusitas (ad-din) manusia. Sedangkan, untuk makelar adalah barang dagangan (trading goods), bisa berupa kambing, sapi, ayam, bahkan anjing.”

Saya pun menimpali, ”Ujung-ujungnya mereka semua berharap kemakmuran kehidupan dari proses bisnis mereka. Yah, gampangnya duitlah! Cuman, kalau seorang cerdik pandai keagamaan dalihnya macam-macam, untuk mendapatkan uang pakai istilah shodaqoh, infaq, iuran rutin anggota, uang pembangunan lah, dan lain sebagainya. Kalau makelar lebih to the point yaitu uang dan keuntungan!”

Singkatnya, diskusi malam itu yang usai hingga jam 3 dini hari menyimpulkan bahwa, antara ulama, intelektual muslim, ustadz, kiyai, dan nama pemimpin keagamaan atau tokoh agama lain, seperti pendeta dll, tak ada bedanya dengan makelar, si tukang pengganda keuntungan. Si kapitalis itu! –Munir–

Gimana pendapat Anda?

5 responses to this post.

  1. Posted by ......Mr Bas on 6 Juni 2009 at 00:33

    tidak semua omm…tapi emang banyak yang melakukannya begitu.salam

    Balas

  2. Insya Allah masih ada yang lurus, kok Pak.

    Balas

  3. sulit rasa nya di jaman skrg ini untk menghindar dri sifat duniawi,smuanya sudah tertu2p oleh harta dan tahta,seorang ulama lpa akn glarnya karna harta,seorang yg berpangkt lupa hanya karna wanita,dn banyak kasus yg terjdi di jman yg modern ini.betul filsafah sunan kali jogo tiga sifat yang dpt menghancurkan ahlak,dan dunia,1.harta 2.tahta 3 wanita,skrg sdah sampai pda masa nya.

    Balas

  4. Posted by suroso on 24 Maret 2010 at 04:15

    Ini kayaknya orang-orang yg diskusinya yg perlu di cek. Masak diskusinya di pinggir kali, malam hari lagi and sambil ngrokok.

    Balas

  5. Posted by Sugeng Wahyudi on 17 Januari 2014 at 03:42

    Kalo diskusi itu benar-benar terjadi dipinggir kali dan tengah malam yang sunyi, serta memperoleh kesimpulan sedemikian rupa. Maka hatiku sedih, mosok kiyai disetarakan, bahkan disamakan dengan makelar.
    Ini tentu sebuah diskusi sembarangan dan sembrono, sehingga menghasilkan kesimpulan sembarangan dan sembrono, yang sangat bisa membahayakan kehidupan.
    Memang masih ada orang yang bekerja tidak dengan keikhalasn yang murni, sehingga campuran keduniaannya terlihat kental, sehingga saya tak terlalu menyalahkan diskusi yang entah benar adanya atau khayalan belaka, dan hal ini saya jadikan sebagai bahan otokritik terhadap kelompok makelar, kiyai, pendeta, pastur, ustadz, maupun pedande dan lainnya sekalipun,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: