Inilah Email Curhat yang Memenjarakan Prita Mulyasari!


Ini dia surel (surat elektronik) atau email Prita Mulyasari yang memenjarakannya di Lembaga Pemasyarakatan. Kini, kasus Prita ini mulai menyita perhatian masyarakat Indonesia, mulai ibu-ibu di kampung pelosok hingga Megawati, capres yang berpasangan dengan Prabowo itu. Ini email lengkapnya:

RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF

Prita Mulyasari Suara Pembaca

Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International.

Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus. Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat.

Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?).

Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah.

Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.

Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri. dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000. Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og (Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan. Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah. Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali.

Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua.

Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang. Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum. Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut?

Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik. Saya dirugikan secara kesehatan.

Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan. Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis.

Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini. Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam, Prita Mulyasari Alam Sutera

Gimana pendapat teman-teman atas kasus ini?

Untuk memberi dukungan via facebook silahkan klik di DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN. Untuk menyampaikan keluhan, komentar dan notasi ke Rumah Sakit Omni International langsung, silahkan bubuhkan di Guest Book Website RS Omni International.

28 responses to this post.

  1. Posted by dody on 3 Juni 2009 at 08:55

    Salam Kenal Ya,
    Saya turut prihatin dengan kasus ini, Maksud hati ingin menyampaikan keluhan tapi malah berujung di Bui, kita berharap kasus ini cepat selesai sebab kasihan 2 buah hatinya yang masih kecil-kecil….

    Balas

  2. Sungguh mengherankan… Keluhan seseorang atas pelayanan yang dirasanya kurang memuaskan kok bisa menjerumuskannya ke dalam penjara?

    Padalah, jika disimak tulisan ibu Prita di atas, sy tidak melihat adanya pencemaran nama baik RS. yang katanya berstandar internasional itu, apalagi mencemarkan nama baik orang perorang. Jangan-jangan ada ‘permainan’ dibalik penahanan ibu Prita.

    Saya berharap agar kasus ini segera di meja hijaukan, dan penyidang dapat bersikap adil. Sehingga jelas terlihat siapa yang benar dan siapa yang salah.

    Balas

  3. Posted by tukang minyak on 3 Juni 2009 at 09:50

    hajar bleh…..

    Balas

  4. Posted by sigit on 3 Juni 2009 at 09:56

    seharusnya RS Omni menerima keluhan/kritik dg lapang dada dan segera mengecek kebenaran data, perbaikan SDM, Manajemen dll demi meningkatkan pelayanan kpd masyarakat.

    Smoga kasus ini tdk terjadi di RS lainnya
    karena biaya RS tidaklah murah (terutama bagi masyarakat menengah kebawah)

    Smoga kasus ini menjadi cerminan bagi RS lainnya utk meningkatkan Kinerja & meningkatkan Pelayanan Terbaik kpd masyarakat

    Wassalam,

    Balas

  5. Posted by Ita on 3 Juni 2009 at 09:56

    Sungguh menakutkan…

    niatnya sembuh…. malah jadi kelinci percobaan..

    niatnya curhat…. malah disalahkan!

    smg Ibu tidak tertipu lagi! Kita sbg pasien emg musti kudu hati-hati, saya juga pernah jadi kelinci percobaan perawat magang, untung cuma salah cari nadi untuk suntik bius total.. sampai 3x suntik gagal terus… tp untung bius bekerja tidak salah sasaran.

    Balas

  6. Prihatin sekali. Sejak kapan masyarakat tidak boleh mengeluh menyangkut haknya sebagai konsumen. Mestinya ini disikapi dengan baik oleh pihak RS.Omni . Berita di tv tadi sore cukup melegakan, banyak dukungan diberikan kepada ibu dua anak ini. Statusnyapun sudah dibebaskan menjadi tahanan kota. Mudah-mudahan betul-betul selesai dengan baik.

    Balas

  7. Solidaritas Anti Kriminalisasi Pasien
    oleh RS OMNI International Alam Sutera

    Kasihan saja tidak cukup. Apakah yang sudah Anda lakukan untuk menggalang anti kriminalisasi pasien oleh RS OMNI International Alam Sutera ? Atau Anda hanya membaca dan menonton kasus itu di Media Cetak dan Televisi ?
    Jika Anda peduli, namun tidak tahu caranya mengekspresikan kepedulian Anda, berikut ini adalah langkah praktis untuk menyampaikan aspirasi Anda :
    1. Kirim Email kekecewaan dan kutukan Anda, kepada :
    info@omnihealthcare.co.id dan info@omni-hospitals.com (RS OMNI International Alam Sutera)
    mph@cbn.net.id (Pengacara RS OMNI International Alam Sutera dari Risma Situmorang, Heribertus & Partners).
    2. Anda juga bisa menyampaikan kekecewaan dan kutukan Anda secara langsung kepada nomor telpon : 021-53128555 (hunting). Jangan hanya berbicara sama operatornya, tetapi kalau bisa dengan para manajemen RS OMNI International Alam Sutera, yaitu Sukendro (Direktur Utama), Dina (Direktur), atau Anda juga bisa menghubungi semua nama petugas yang disebutkan dalam surat keluhan Prita Mulyasari.
    3. Cara lainnya adalah dengan mengirimkan fax dukungan yang sama ke nomor : 021- 53128666.
    Marilah kita semua melakukan langkah nyata sebagai rasa solidaritas dan tangggungjawab sosial personal. Agar kasus kriminalisasi terhadap pasien yang dilakukan oleh RS Internasional merupakan yang pertama dan yang terakhir. Lakukan apa yang bisa dilakukan, sekarang juga. Terima kasih atas kepedulian Anda.
    Wassalam,

    BARATA NAGARIA
    Solidaritas Anti Kriminalisasi Pasien Indonesia (SAKPI)
    Web, http://anti-kriminal.blogspot.com
    Email : barata.nagaria@yahoo.co.id

    Balas

  8. Posted by amr on 3 Juni 2009 at 11:49

    Tidak ada yang salah dari email ibu Prita, seharusnya pihak rumah sakitlah yang arogan.

    Amran Simanjuntak

    Balas

  9. Aneh bin ajaib …
    Emang seperti apasih RS Omni itu?
    Duit sih duit, tapi kesehatan orang khan lebih penting.

    Balas

  10. Posted by koplak on 4 Juni 2009 at 01:57

    wah dokternya bajingan semua tuh ,,, mereka lupa atau amnesia yah dulu ketika ingin jadi dokter ingin bisa menyembuhkan orang sakit atau menyakiti orang sakit…. dasar dokter gendeng ueeedaaaaaaaaaaaaannnnn …..

    Balas

  11. Posted by ekojuli on 4 Juni 2009 at 03:21

    Sudah mulai sidang nih hari ini (4 juni 2009).

    BAGAIMANA KALAU OMNI MENANG? Simak ulasannya disini:

    http://ekojuli.wordpress.com/2009/06/04/kasus-prita-mulyasari-2-kalau-omni-menang-apa-yang-terjadi/

    Balas

  12. Posted by Heru on 4 Juni 2009 at 04:05

    MEMILUKAN DAN AMAT SANGAT PRIHATIN …. NURANI SUDAH MULAI TERKIKIS … FUNGSI SOSIAL DAN KEMANUSIAAN TERKALAHKAN OLEH KEUNTUNGAN SELANGIT … JELATA SAKIT LEBIH BAIK MATI DARIPADA MENINGGALKAN WARISAN HUTANG BERTUMPUK… AKU SAMPAIKAN KEPADA ANAKKU “NAK.. HINDARILAH BERURUSAN DENGAN HUKUM DAN RS… UNTUK ITU BAIK-BAIKLAH DAN JAGALAH KESEHATANMU SEBAB BAPAKMU TAK MAMPU”

    Balas

  13. makanya dokter2 itu hidupnya kaya semua wong pada jualan obat,bukan menyembuhkan malah tambah sakit.MULAI SEKARANG PROFESI DOKTER KITA UBAH JADI SALES MARKETING AJA,KHAN ENAK,TRANSPARAN DARI DARIPADA BERKEDOK DOKTER. SETUJU TIDAK???????????

    Balas

  14. Posted by Margaret on 4 Juni 2009 at 12:16

    Salam kenal mbak Prita…
    Saya turut prihatin dgn kejadian yg menimpa, mbak Prita & keluarga tentunya.
    Sungguh “IRONIS”…sebuah RS yg memiliki kewajiban, peran & fungsi sbg sst lembaga pelayanan kesehatan justru bertindak sprt ini…
    apakah nyawa seorg manusia, sungguh2 dpt dikalahkan dgn uang/materi ??!!
    Lalu,jika berbicara mengenai “profesi”…bgmnkah akan janji & sumpah mereka para “DOKTER/PERAWAT” yg telah mereka ucapkan ?? Apkh semuanya itu dpt dipahami sbg fondasi profesionalitas mereka ataukah hanya ungkapan kata yg terdengar begitu bijaksana ???!!!

    Balas

  15. Posted by patar on 5 Juni 2009 at 02:58

    jika itu benar buktikan bahwa yang tertulis itu benar
    pimpinan tertinggi kita tau JUJUR itu BENAR ……..

    Balas

  16. Posted by vivin on 6 Juni 2009 at 01:24

    curhat ko ga boleh aneh…………….!

    Balas

  17. Posted by Ardy on 6 Juni 2009 at 06:16

    Insya Allah Tuhan akan membenarkan yang salah
    dan memberi jalan bagi yang membutuhkan
    doa doa pasti akan tersampaikan kepada yang maha esa
    mengalah lah demi kepentingan pribadi mu
    semoga masalah ini cepat selesai
    dan kami akan pasti mendukung perjuangan kamu
    wass.

    Balas

  18. Posted by joni on 6 Juni 2009 at 14:33

    Dukungan utk Ibu Prita…
    Manurut Sy bu..Kalo yg ibu katakan itu tidak benar barulah Ibu Layak dipenjara.. Tp kalo itu benar adanya yang dialami ibu.. Jangan mau diajak damai oleh pihak OMNI.. Tuntut Balik Bu… Minta yang lebih besar 1
    Triliun kek.. kalo berhasil (semoga berhasil) trus sebagian gunakan untuk mensejahterakan orang miskin dan gak punya pekerjaan atau mensekolahkan anak yatim…

    Maju terus bu melawan kesombongan rumah sakit yg tak punya nurani..sekali lagi.. Jangan Mau Damai…

    Balas

  19. Dalam ajaran Islam, kalau jual beli buah saja harus diberitahu mana yang bagus mana yang busuk…Gak boleh dibasahi untuk nambah timbangan…Lha ni nyawa orang kok…PARAH!

    Balas

  20. Menurut saya email bu Prita biasa saja hanya keluhan sebagai seorang pasien yang merasa ditipu dan dirugikan. bukan email pencemaran nama baik seperti dituduhkan oleh penuntut umum…bagaimana bisa dipenjara ya? aneh sungguh aneh…..semoga di indonesia masih ada tuhan yang bisa memberi keadilan………………terus berjuang bu Prita….kami mendukung mu…dan selalu berdoa untuk kemenangan mu.

    Balas

  21. Posted by keadilan on 8 Juni 2009 at 06:57

    wah kalo gini konsumer gak berani berpendapat.takut dipenjara.kapan majunya ni negara kalo kebebasan untuk berpendapat dan komplain demi peembenahan RS disalahkan.setelah menbaca isi mail mbk. prita saya prihatin sekali.cb bayangkn kalo ini terjadi pd diri anda.sungguh tragis.Mau tau jalan tengahnya….tlng data rumah sakit juga dicek.dilakukan inspeksi mendadak dari pemerintah.mencari data tg pasien.pasti ada arsip.ungkap terus.mgkin dengan kasus seperti ini bisa menjadi langkah awal pemerintah untuk meminimalis adanya mal peraktik yang merugikan pasien.Tolong pemerintah tanggap dengan hal ini.buat tim telusur.seperti layaknya ada KPK untuk nerantas korupsi, tentunya ada tim untuk memberantas Mal praktik, termasuk juga kasus aborsi,manipulasi data lab, dan kasus-kasus penyimpangan yang terjadi di RS.Ini penting demi tegaknya hukum di indonesia.

    Balas

  22. Ternyata Rumah sakit Omni Internasional bukan lah rumah sakit Internsional….pernayataan ini diungkap oleh menkes RI Siti Fadilah Supari yang dikutip dari Koran Tempo. baca di: http://yepiye.wordpress.com/2009/06/06/menkes-rumah-sakit-omni-bukan-rumah-sakit-international/#comment-3522 mereka hanya menambah embel-embel internasional dibelakangnya untuk kepentingan komersial. orang yang menyadari pentingnya kesehatan selalu mencari yang terbaik untuk pemeliharaan, pengobatan dan pelayanan kesehatan dan tidak segan untuk mengeluarkan biayanya. ternyata teori ini dipakai oleh RS OMNI Internasional(gadungan, red) untuk mengkomersialisasi rumah sakit nya. dan ibu Prita adalah salah satu dari sekian Ribu Pasien yang telah terperangkap Oleh kebohongan Publik yang dipakai oleh RS ini (baca email Bu Prita, Kenapa dia Memilih RS ini untk berobat)dengan embel-embel Internasionalnya. ini merupakan kebohongan publik yang juga patut dituntut balik…..oleh bu prita atau pun kita sebagai publik yang telah dibohongi….(sepele kelihatanya namun jika kita pikir secara mendalam….ini perkara yang serius)

    Balas

  23. HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

    Balas

  24. Posted by ikun on 9 Juni 2009 at 09:38

    wong dokter kebangeten bagettt….! (maaf) lha banyak info n kasus-kasus orang mau dadi dokter le sekolah we nyogok ratusan juta. yo ngono kuwi hasile.. ra mbejaji blass!!!
    aku biyen lg radangku kumat parah, prikso neng dokter… disuruh nunggu sekitar se-jam rasane wes tenggoroane gak karuan, semelet koyo disileti..tambah demam ra karuan. akhire aku nesu-nesu! pak dokter ki niat dadi dokter ora to??? dadi dokter kok sak enake udele dewe!!! nek pasiene mati disik mergo salahmu piye jal?? nyawa ga isok diijol je!
    trus nek dikritik rumongso dokter, keminter ora lembah manah nesu-nesu. jare pinter kok ra berjiwa besar!

    pokokke dukungan penuh buat bu prita!!!

    Balas

  25. Posted by Torres on 10 Juni 2009 at 06:57

    Jangan kapok dan trauma kirim email bu Prita…
    Ibu benar kok….

    Untuk pemerintah, DPR, atau siapapun yg berwenang,
    akan dibiarkan teruskah mereka beroperasi?
    akan dibiarkan mereka mencari kelinci percobaan lagi?
    Saran saya seh TUTUP Saja tuh RS…

    Inilah cermin RS RS kita di Indonesia….
    Jadi tak salah dong orang berbondong bondong berobat ke tempat Ponari,
    walaupun tdk dijamin sembuh tapi mereka tak akan memenjarakan pasiennya…

    Curhat saja kok digugat dan dipenjara…
    Sungguh Aneh..!!

    Balas

  26. Posted by ijas on 12 Juni 2009 at 16:53

    Yupz Bls aja

    Balas

  27. Posted by Rheda on 14 Juni 2009 at 06:00

    Saya turut prihatin dengan kasus ini..

    Sebenarnya tidak hanya RS Omni ini yang suka kurang ajar sama pasian maen suntik2 aja… Kebetulan saya pernah menemani teman saya yang didiagnosa oleh dokter kena demam berdarah dan harus diopname di rumah sakit di bekasi. Rumah sakitnya masih terhitung baru. Si suster di rumah sakit yang baru tersebut memang maen suntik aja. Kalo ditanya suntikan apa, bilangnya suntikan penurun demam…. tapi ngomongnya pas dia lagi nyuntik… bukan sebelum nyuntik. Ketemu dokternya juga cuma sekali…sisanya yang ngontrol dokter jaga.

    Saya mengerti kalo dokter2 itu pada sibuk sehingga menyerahkan kerjaan kepada dokter jaga. Tapi tetap saja… karena profesi mereka itu seharusnya menolong orang, ya tolong dong jaga martabat profesi. Pendidikan perawat sekarang2 ini juga tak lebih sekedar dari pendidikan formalitas, karena pada prakteknya mereka tidak sepintar, secerdas dan punya kepedulian yang tinggi akan pasien seperti perawat2 jaman orang tua kita.

    Moga2 Ibu Prita diberkati Tuhan untuk diterangi jalannya dalam menghadapi masalah ini. Kita seharusnya ikut berterima kasih juga pada beliau, karena dengan kasus ini kita belajar untuk semakin kritis terhadap pelayanan RS.

    Misbah says: Rheda, saya juga mengucapkan turut prihatin atas kejadian yang menimpa teman Anda. Semoga tidak akan berulang kepada yang lain ya… Untuk kasus Prita, kita lihat saja, apa yang bisa diperbuat pihak yang berwenang untuk menyelesaikannya ya… Semoga putusan yang terbaik untuk Prita. Terimakasih dan salam kenal.

    Balas

  28. kalau punya usul ” gimana kalau kita mengusulkan ke DPR dan Depkes, dicabut aja ijin dari RS.OMNI INTERNATIONAL.” gak usah buka praktek lagi, kalau tidak bisa lebih baik dokter-dokter yang terlibat dalam kasus prita itu dicabut ijin prakteknya, kalau tetap gak bisa semua ya lebih baik dokter-dokternya kita santet aja, biar nyahok lo….!!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: