Menyoal Kemampuan Tata Tulis dan Layout Paper Para Peneliti di Prosiding Seminar maupun Jurnal


ini hanya sekedar review dari pengalaman saya selama menjadi editor dan layouter beberapa jurnal maupun prosiding..

Pertama, tak banyak para penulis artikel ilmiah yang bisa menulis dengan tata tulis yang baik dan benar. Kalangan yang lebih banyak menulis tulisan ilmiah adalah dari kalangan mahasiswa, dosen, maupun peneliti bukan akademisi (seperti lembaga peneliti independen, lembaga pemerintahan, atau perusahaan). Tata tulis ini termasuk pula penggunaan tanda baca. Banyak sekali tanda baca yang digunakan tidak pada tempatnya, seperti tanda koma (,), titik dua (:), tanda sambung-ulang (-), dan lain sebagainya.

Kedua, soal penggunaan bahasa (terutama Indonesia) yang baik dan benar. Hingga saat ini, para penulis artikel ilmiah inilah yang banyak mempengaruhi bahasa Indonesia dengan bahasa serapan yang belum baku. Mungkin, bagi mereka bahasa serapan tersebut sudah biasa digunakan dalam kehidupan ‘ilmiah’ mereka. Namun, mereka asal pakai dan serap tanpa mau susah untuk mencari padanan kata tersebut di Kamus Bahasa Indonesia yang pernah ada. Sehingga, inilah yang menjadi penyebab kian banyaknya bahasa ‘asing’ yang masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Ketiga, mayoritas penulis artikel ilmiah tidak bisa membuat tata letak (layout) makalah (paper) yang baik dan sesuai standar yang ada. Sebagai contoh, sebuah jurnal telah mensyaratkan sebuah template bahwa untuk dapat diterima dan dimuat di jurnal tersebut makalah haruslah dibuat sama dengan template tersebut. Begitu juga, sebuah Seminar yang memberikan template dengan tujuan paper lebih seragam dan standar juga tidak banyak dituruti.

Itulah beberapa komentar saya pribadi sebagai seorang yang biasa bekerja untuk melakukan editing and layouting makalah-makalah di jurnal ilmiah maupun seminar. Berdasarkan pengalaman saya,  sepertinya mereka para peneliti tidak mau ambil pusing dengan laporan hasil penelitian mereka. “Yang terpenting adalah hasil penelitiannya”, mungkin begitu jika mereka ditanyai alasannya.

Usulan saya, pertama, soal tata letak (layout), mungkin perlu diadakan sebuah pelatihan khusus yang mengupas dan mengajarkan hal ini. Bagaimana cara mendalami beberapa software yang biasa digunakan untuk menulis sebuah artikel ilmiah, seperti Microsoft Word, Pagemaker, atau program lainnya.

Di sini bisa diajarkan di antaranya; membuat numbering yang benar, insert table yang tepat ukuran dan kebutuhan, editing picture dari sisi ukuran dan kualitas agar tepat guna (tidak kekecilan dan blur), bagaimana membuat template yang baku agar memudahkan peneliti dalam  setiap menulis laporan atau makalahnya (seperti menyusun daftar pustaka/references, memilih kata kunci/keywords yang pas, dll). Juga, soal bagaimana menentukan margin, kolom, header, dan footer.

Kedua,  mengenai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Alangkah baiknya jika seorang penulis memerhatikan tata bahasa yang digunakannya. Jika bahasa Indonesia yang digunakan, maka sudah semestinya mereka menaati aturan atau tata bahasa yang ada. Misalnya, tidak asal serap sebuah bahasa asing, tanpa memberikan tanda khusus (seperti miring, tebal, atau “diberi tanda kutip”). Sama halnya, jika bahasa Inggris yang dipilih, maka grammer harus diperhatikan dengan seksama.

Inilah review awal saya dari puluhan jurnal dan prosiding seminar yang pernah saya kerjakan. Ini hanyalah sekedar pendapat dari saya yang masih harus banyak belajar lagi. Atau, jika Anda berpendapat lain, ya silahkan saja.

Oh iya, perlu diketahui, banyak para reviewer proposal yang akan didanai (hibah) sebuah lembaga juga tertarik dari sebuah penampilan makalah ‘yang menarik’ dan ‘yang baik’.

Semoga berkenan dan bermanfaat! –Misbah Munir–

One response to this post.

  1. Posted by purwo subekti on 3 Juni 2010 at 12:42

    askum mas, slm sejahtera, ok tuh komen di atas, maaf mu tanya: kalau makalah yang sudah di muat di prosiding, apa bisa di muat lagi di jurnal? mohon pencerahan, kalu bisa sumber pendukung, trim wslm.

    Misbah says: Salam kenal Pak Purwo Subekti. Menjawab pertanyaan Pak Purwo, jika tulisannya sama persis, sangat jelas sekali sebuah makalah yang sudah dimuat di prosiding, tidak boleh dimuat di jurnal lagi. Prosiding atau jurnal merupakan bentuk dari media publikasi hasil penelitian atau karya ilmiah lainnya. Sehingga, jika memang ingin sebuah tema tulisan bisa dimuat di prosiding maupun di jurnal, seharusnya tetap ada pembedanya, baik bisa berbentuk penelitian replikasi, studi kasus yang berbeda, metodologi yang berbeda, dan lain sebagainya.

    Untuk sumber pendukung pendapat ini, silahkan Bapak cari di buku-buku metodologi penelitian, pasti ada disitu. Salah satu yang perlu kita cermati adalah, ada kalimat seperti ini dalam setiap jurnal “Artikel atau karya ilmiah belum pernah dipublikasikan”.

    Semoga cukup menjawab pertanyaan Bapak ya…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: