Penggagas Unas Memang Biadab!??


apakah para pengambil kebijakan Unas ini tak pernah mendengar tangis mereka?

“Wah, biadab tenan. Gak berperikemanusiaan sekali para penggagas UN (Unas = ujian nasional) itu. Mereka mempertahankan untuk terus dilaksanakannya unas tapi tak bisa menjelaskan apa manfaatnya bagi siswa. Mereka juga tak pernah berhitung kerugian psikologis para siswa didik, guru, orang tua, dan pihak sekolah sebagai institusi. Pemerintah itu gak punya otak!”

Begitulah sumpah serapah yang ‘muncrat’  dari mulut seorang ibu yang saya temui di rumahnya di dusun Balangan, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta di sela-sela wawancara ringan. Dia juga mendadak lesu dan menunjukkan paras sedih ketika melihat putra tersayangnya yang duduk di sampingnya, padahal tak jeda seusai ia berkata-kata menggebu.

Sang Ibu menuturkan, dia sangat mengutuk para pengambil kebijakan dari pemerintah yang sembarangan memberlakukan unas kepada semua siswa sekolah di Indonesia. Si Idam (bukan nama sebenarnya), anaknya, kini masih menderita stress berat. Tidak mau makan, badan lusuh dan kurus, pandangan matanya kosong, dan suka bicara atau nangis tanpa sebab. Dia gagal dalam unas tahun 2008 lalu untuk tingkat SLTA dan tak sempat turut ujian paket seperti anak lainnya. “Dia drop dan malu buanget mas. Sehabis hari pengumuman hingga seminggu kami mencari Idam kemana-mana. Tanya sana-sini teman dia gak ada yang tau. Sampai kami temukan dia di jalanan kota sudah begini kondisinya,” suara serak dibarengi tetes air mata yang tak henti dari sang Ibu.

“Mereka pikir, orang-orang Indonesia itu kayak mereka semua apa? Anaknya yang idiot pun di sekolahkan di sekolah favorit dan berbayar mahal. Lha, kalau kami yang di pelosok ini, mau dan bisa apa?” keluhnya.

Memang, beberapa hari terakhir ini adalah masa-masa genting bagi semua orang yang punya kaitan dengan pengumuman kelulusan hasil unas ini. Tadi malam (23 Juni 2009) saya sendiri ngilu dan perih hati saya ketika melihat tayangan televisi yang memperlihatkan ada anak SMP yang pingsan, nangis tak henti-hentinya karena dia tak lulus. Ditayangkan juga  seorang ibu yang bingung dan linglung karena melihat anaknya histeris karena gagal lulus.

Duh, Tuhan, apa pula ini? Tak lihatkah mereka para pejabat dan pengambil kebijakan pendidikan di Indonesia ini akan realita yang terjadi di masyarakat? Pantaskah seorang Ibu sampai mengungkapkan ‘Biadab!’ hanya gara-gara unas? –Misbah Munir–

3 responses to this post.

  1. Posted by ekojuli on 24 Juni 2009 at 07:58

    bener2 ide konyol???

    http://idekonyol.wordpress.com

    Balas

  2. Posted by rio on 24 Juni 2009 at 08:19

    hayoolahh.. standarnisasi itu perlu..bukan buat sapa2 juga tp buat kemajuan negara ini kedepannya. buat yang blum lulus UN jgn sertamerta salahkan kebijakannya coba liat ke diri sendiri juga apa kita udah maksimal menghadapi kompetisi??.. dan kembali berusaha lagi(masih ada ujian susulan, jgn takut dicap sebagai pecundang krn tiap usaha pasti dihargai!!) dan tolong peran orangtua, guru, teman bisa trs menyemangati jgn malah diberat2kan apalagi dimarahin bahkan diledekin dan berhenti menyalahkan orang lain, smua orang pernah gagal dalam hidup.. dengan begitu kita bisa lebih baik lagi nanti.

    ps: jgn pernah takut gagal.. klopun gagal itu cman keberhasilan yg tertunda!! semangat selalu!

    Balas

  3. Posted by suwartojunior on 4 Mei 2010 at 13:50

    butuh satu ibu untuk merawat seorang bayi, tapi di butuhkan satu bangsa untuk membesarkan seorang remaja. …..Betapa kontroversinya UN tapi kita membutuhkan sebuah standarisasi ujian. guru , murid, dan orang tua sudah terlalu lama dibuat malas dengan sistem test yg lemah dan penuh kecurangan serta kelalaian . betapa menyedihkan bangsa ini ditengah persaingan global yg sangat kompetitif, bahkan saya temukan garam, keripik singkong, baut, dan banyak produck ‘remeh’ lainnya masih di impor dari negara lain. karena bagsa ini terlalu malas belajar, karena bangsa ini terlalu banyak mengeluh, karena bangsa ini terlalu manja, karena bangsa in terlalu mudah lupa. dan biarlah UN membuat 1000 orang menangis dan membiarkan 1000 lainnya menjadi lebih pintar, biarlah UN membuat 1000 guru mengeluh dan membiarkan 1000 lainnya berusaha lebih kreatif dan bekerja keras untuk siswanya, biarlah seribu orang tua memaki dan mencaci agar 200 juta sisanya menyiapkan anak-anak mereka agar lebih siap…from gurugelo8@gmail.com

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: