Jogja, Kota Pelajar’, Menyimpan 1.388 Siswa SD Miskin dan 1.058 Siswa SLTP Miskin!


yah, semoga Tuhan memberikan pemimpin bangsa yang bisa mengentaskan saudara kita yang kurang mampu ini...

Walah-weleh, kaget juga saya membaca berita hari ini. Rupanya, Kota Jogja (bukan di tingkat Provinsi), masih menyimpan kemiskinan yang lumayan tinggi. Kota yang menyatakan dirinya sebagai ‘Kota Pelajar’ itu, memiliki 2.446 keluarga pemegang KMS (Kartu Menuju Sejahtera). Untuk masyarakat yang tercatat sebagai keluarga miskin (gakin) terdapat sebanyak 26.525 keluarga (data Dinas Kesejahteraan Sosial Kota Yogyakarta, 2007). Ini yang tercatat di Dinas, semoga saja tidak ada yang terlewat ya…

Nah, lalu apa sih KMS itu sebenarnya?

KMS berfungsi sebagai identitas layanan bagi program jaminan pendidikan dan kesehatan. KMS bisa digunakan untuk penyaluran beasiswa bagi siswa tidak mampu dan layanan jaminan kesehatan (askeskin), serta berfungsi memudahkan pembagian beras (raskin). Sesuai kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta, KMS diperuntukkan bagi gakin ber-KTP Kota Yogyakarta sesuai dengan daftar gakin hasil verifikasi dan updating data gakin tahun 2007.

Proses verifikasi data gakin di lapangan untuk mengetahui keluarga masuk dalam suatu kategori, diantaranya: kategori fakir miskin (keluarga menuju sejahtera 1), miskin (keluarga menuju sejahtera 2), hampir miskin (keluarga sejahtera 3) dan tidak miskin (keluarga sejahtera). (Misbahul Munir)

Berikut ini berita terbaru mengenai Kota Pelajar yang banyak Pelajar Miskinnya ini:

Ada Ribuan Siswa Miskin di Yogya

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Jumlah warga kurang mampu pemegang Kartu Menuju Sejahtara atau KMS di Kota Yogyakarta yang telah mendatakan diri untuk bisa masuk di sekolah negeri hingga Kamis (25/6) siang, mencapai 1.706 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 986 lulusan SD dan 720 lulusan SMP.

Kepala Unit Pelayanan Teknis Pengelola Jaminan Pendidikan Daerah Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta HM Mawardi Dalga mengemukakan jumlah orangtua murid pemegang KMS yang memiliki anak duduk di bangku kelas 6 SD mencapai 1.187 orang, sedang kelas 9 SMP/ MTS sebanyak 889 orang.

Lulusan SD akan menggunakan KMS untuk memasuki SMP/MTS, sedang lulusan SMP/MTS menggunakan KMS untuk masuk ke SMA/SMK/MA. Keberadaan KMS dipakai untuk mendapatkan jaminan pendidikan dari Pemerintah Kota. Masih ada 201 pemegang KMS untuk SD dan 169 untuk SMP yang belum melakukan data diri. Mereka masih punya waktu dua hari sampai Sabtu besok, ujarnya.

Meski masih ada kesempatan waktu, Mawardi berharap hari ini semua pemegang KMS sudah bisa mendatakan diri. Sehingga besok pihaknya bisa mengumumkan rentang nilai (perengkingan). Rentang nilai ini sebaiknya dipakai sebagai bahan pertimbangan para orangtua untuk memilih sekolah yang tepat bagi anaknya. Jangan sampai anak yang nilainya tidak terlalu bagus dipaksakan masuk ke sekolah favorit.

Setelah rentang nilai diumumkan, pada 29 dan 30 Juni dilakukan pendaftaran peserta didik baru (PPDB) dengan sistem on line. PPDB bagi pemegang KMS dijadwalkan lebih awal dibanding non-KMS. Tanggal 1 Juli dilakukan pengumuman siswa baru, siapa saja yang diterima dan tidak. Hari itu juga dilakukan daftar ulang, ujarnya.

Keluhan

Disinggung mengenai keluhan dari calon siswa, Mawardi mengungkapkan sebagian orangtua mengeluhkan KMS yang dicabut oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) sehingga tidak bisa mendatakan diri secepatnya. Ada puluhan orang yang mengeluhkan pencabutan itu.

Dinas Pendidikan sendiri tidak bisa berbuat banyak karena kebijakan siapa yang berhak mendapat KMS ada pada Dinsosnakertrans. Alasan pencabutan, (Dinsosnakertrans) bilang sudah tidak sesuai dengan parameter (kemiskinan). Sedang, yang bersangkutan (orangtua) bilang kami masih tetap miskin, kata Mawardi.

Pujiati orangtua calon siswa asal Baciro menuturkan dirinya mendengar ada tetangga yang KMS-nya dicabut. Namun, ia tidak tahu apakah tetangganya itu menghadapi kesulitan yang sama. “Saya masih memiliki KMS, meski BLT (bantuan langsung tunai) jatah saya telah dicabut,” ujarnya. (Sumber Kompas.com, Kamis, 25 Juni 2009 | 20:32 WIB; Laporan wartawan KOMPAS Defri Werdiono)

One response to this post.

  1. weleh weleh baru ngerti aku…. Info yang sangat menarik, trim’s

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: