Ketika Cinta Bertashbih: “Cinta Sejati Itu Menyembuhkan, Bukan Menyakitkan”


semoga kita semua bisa menemukan cinta sejati kita hingga akhir hayat kita. amin...

Cerita berawal, beberapa menit ketika usai sholat Jum’at di kampus, aku di telpon oleh nomer yang tidak ku kenal. Tanpa ada perasaan apapun, seperti biasanya ku angkat panggilan itu.

“Halo, Misbah, apa kabar kau!” begitu suara pertama yang keluar dari ponselku.

“Iya, maaf, siapa ya ini?” sahutku.

“Wah, sudah dilupakan aku. Ini Kus, temanmu dulu pas kuliah. Kita sering makelar mobil bareng dulu di TVRI Jogja kalau Minggu. Masa lupa?” jelasnya.

Masyaalloh. Subhanalloh. Lima tahun lewat sudah kami tak pernah bertemu, tatap muka maupun via udara. Akhirnya, kami pun memutuskan bertemu. Ketika kami bertemu dan melepas kangen, kami pun berbagi cerita perjalanan hidup kita selama kami tak bertemu. Yang tak ku sangka dan membuatku miris sekali adalah ketika dia bercerita bahwa dia telah berpisah ranjang dengan istrinya lebih dari 2 tahun. Naudzubillah min dzalik… cobaan macam apa itu?

Dia bilang, istrinya mendiamkannya setelah tahun 2006 proyek bangunan senilai Rp 6 Miliar yang dia kerjakan ambruk total karena musibah gempa yang menimpa Jogja Mei 2006 lalu. Dia pun harus menanggung kerugian Rp 1,3 Miliar. Dia sangat syok. Ketika dia sedang sangat membutuhkan dukungan sang istri, eh, malah istrinya mendiamkannya dengan tanpa penjelasan. Bahkan, hingga bertemu dengan saya itu, dia masih tak tegur sapa dengan istrinya, walaupun masih serumah. Kok bisa ya? Maha Besar Tuhan pencipta manusia.

Sedihnya lagi adalah, ketika dia telah lepas dan bisa melunasi hutangnya setahun lalu pun, sang istri masih mendiamkannya. Istri macam mana pula ya itu?

Saya tak akan melanjutkan cerita soal teman saya ini. Saya akan menceritakan kelanjutan pertemuan saya dengannya itu. Setelah kami ngobrol panjang, dia meminta saya untuk menemani jalan-jalan. “Nonton film yuk. Aku sudah gak pernah nonton lagi sejak istriku diemin aku,” ajaknya. “Nonton apa mas?”. “Nonton Ketika Cinta Bertashbih aja yuk. Kayaknya bagus. Banyak orang cerita-cerita katanya bisa menggugah cinta sejati kita. hehe…” jelasnya sambil tertawa kecil.

Kami pun memutuskan berangkat ke Bioskop XXI Jogja dan beli tiket film Ketika Cinta Bertashbih jam 21.20 waktu Jogja.

Yang anehnya, dia seorang yang terkenal periang dan selalu membuat siapapun bahagia bila di dekatnya, sejak film diputar sudah diam serta sesekali mengelap mata dan mukanya dengan sapu tangan. Setelah kulihat, rupanya dia nangis! Subhanalloh…

Sungguh, hatiku pun turut sedih sekali. Suasana film yang begitu menyentuh ditambah tangisan temanku plus cerita kondisi keluarganya kini, membuat air mataku pun tak terbendung lagi. Air mataku turut berderai… Masyaalloh…

Selama di dalam gedung, kami tak saling bicara. Kami saling membisu, penuh konsentrasi, sesekali menyeka airmata, hingga film usai pukul 23.45 WIB. Setelah keluar, saya mengajaknya mampir dulu ngopi dan makan pisang goreng keju coklat di Beverly, sebuah warung kopi dan jajanan ringan di Sagan, dekat Kampus UGM. Saya pikir, suasana waktu itu tepat untuk memberikan masukan positif atas masalah keluarganya.

Dan, dengan penuh hati-hati, saya pun memberikan masukan: “mas, setelah ini langsung pulang ya. minta maaflah pada istri sampeyan. minta maaf bukan berarti sampeyan salah atau benar. tapi demi cinta sejati kalian berdua dulu yang menggebu-gebu. jangan sampai, cinta yang suci dan tulus itu pudar lenyap hanya karena kegagalan finansial ya mas. maafkan dan berbesar hatilah jika istrimu salah. ingat apa pesan film KCB tadi kan? ‘cinta sejati itu menyembuhkan mas, bukan menyakitkan. apapun yang terjadi, kita harus bertashbih penuh kepasrahan untuk meraih cinta sejati kita ya…”

“insyaalloh yo dab. akan ku coba. doanya saja ya. semoga keluargaku kembali seperti dulu yang penuh kasih sayang dan perhatian. aku berharap bisa menemukan kembali istriku yang sesungguhnya. yang bisa menerimaku apa adanya, walaupun tanpa harta yang melimpah. semoga Alloh swt merenda kembali cinta kami. ” jawabnya.

amiin… doaku mas, semoga 2 putra putri kalian bisa menemukan buah cinta atas kelahiran mereka dari orang tuanya. amin… (Misbah)

One response to this post.

  1. Posted by asepsbg on 9 Juli 2009 at 08:01

    bagus bos….belajr bikin blog nih..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: