Ini Dia, Sejarah Kondom!


ini dia.... wow, warnanya...

ini dia.... wow, warnanya...

Tak sengaja baca membaca, saya menemukan sebuah artikel menarik, yaitu tentang KONDOM. Pasti semuanya tahu kan, apa kondom itu? Yang belum tahu, pasti anak kecil yang belum bisa bicara ‘mimik’… hehe…

Berikut tulisan menarik tersebut:

Mengenal Asal Mula Kondom

Rasanya semua orang sudah tahu alat kontrasepsi bernama kondom. Selain untuk mencegah kehamilan, sekarang fungsi kondom meningkat untuk mencegah penularan penyakit kelamin atau penyakit HIV/AIDS. Tapi, tahukah Anda bagaimana awal mula ditemukannya kondom?

Masih belum jelas dari mana kata “kondom” berasal. Ada yang menduga kata itu berasal dari sebuah kota bernama Condom yang terletak di provinsi Gascony, sebelah barat daya Perancis. Pria-pria dari kota Condom ini terkenal dengan sifatnya yang menyukai seks, kurang sabar, dan gampang marah, kurang lebih seperti karakter tokoh Cyrano de Bergerac dalam drama karya sutradara Edmond Rostrands.

Pendapat lain mengatakan kata kondom diambil dari nama Dr.Condom, seorang dokter asal Inggris yang bergelar Pangeran. Pada pertengahan tahun 1600, ia yang mula-mula mengenalkan corong untuk menutupi penis untuk melindungi King Charles II dari penularan penyakit kelamin.

Menurut Charles Panati, dalam bukunya Sexy Origins and Intimate Things, sarung untuk melindungi penis telah dipakai sejak berabad silam. Sejarah menunjukkan orang-orang Roma, mungkin juga Mesir, menggunakan kulit tipis dari kandung kemih dan usus binatang sebagai “sarung”.

Kondom primitif itu dipakai bukan untuk mencegah kehamilan tapi menghindari penyakit kelamin. Untuk menekan kelahiran, sejak dulu pria selalu mengandalkan kaum perempuan untuk memilih bentuk kontrasepsi.

Adalah Gabriello Fallopia, dokter dari Italia yang hidup di abad ke-17 yang pertama kali menjelaskan dua tabung pipih yang membawa sel telur dari ovarium ke uterus. Ia dikenal sebagai “bapak kondom” karena pada pertengahan tahun 1500 ia membuat sarung linen yang berukuran pas (fit) di bagian penis dan melindungi permukaan kulit. Penemuannya ini diuji coba pada 1000 pria dan sukses.

Kondom di abad 17 berbentuk tebal dan dibuat dari usus binatang, selaput ikan atau bahan linen yang licin. Namun karena kondom dipandang mengurangi kenikmatan seksual dan tidak selalu manjur mencegah penularan penyakit (akibat penggunaan berulang kali tanpa dicuci), kondom pun menjadi tidak populer dan jadi bahan diolok-olok. Seorang bangsawan Perancis bahkan menyebut kondom sebagai “tameng melawan cinta, sarung pelindung dari penyakit”.

Meski begitu, kondom tetap dipakai karena pada masa itu banyak pria yang khawatir tertular penyakit kelamin. A Classical Dictionary of the Vulgar Tongue yang terbit di London tahun 1785 menyebut kondom sebagai “usus kambing kering yang dipakai pria dalam hubungan seks untuk mencegah penularan penyakit”.

ini untuk yg cewek...

ini untuk yg cewek...

Bentuk kondom pun makin lama semakin disesuaikan agar tujuan “aman dan nyaman” tercapai. Setelah era usus kambing, beberapa bahan pun dicoba untuk membuat kondom:

– Kondom karet
Sarung yang dibuat dari karet tervulkanisir muncul di tahun 1870. Masyarakat kemudian hanya menyebut sarung tersebut “karet”. Pada masa itu kondom karet sangat mahal dan tebal. Para penggunanya disarankan untuk mencucinya sebelum dan setelah hubungan seksual. Mereka boleh memakainya sampai karetnya bocor atau pecah.

– Kondom latex
Jauh lebih tipis, steril, dan hanya sekali pakai, kondom generasi terbaru ini mulai diperkenalkan tahun 1930-an. Beberapa kondom pun didesain dalam bentuk lonjong dan efek menggelitik untuk kepuasan wanita. Kondom ini pun sudah memiliki tudung untuk menampung sperma sehingga lebih nyaman bagi pria dan aman untuk wanita.

– Kondom polyuretan
Ini merupakan versi terakhir dari kondom. Bahannya lebih tipis dari latex, lebih kedap dan anti bocor, serta memiliki pelumas. Kondom baru ini dianggap ideal untuk pria dan aman untuk wanita yang alergi terhadap latex.

(sumber: Kompas.com, RABU, 5 AGUSTUS 2009)

artikel lain:

12 Alasan Pakai Kondom

wow, warna warni nih...

wow, warna warni nih...

MENURUT Dr. Nafsiah Mboi, menggunakan kondom untuk mencegah tertularnya penyakit seksual menular (PMS) memang tindakan minus malum, artinya keputusan yang paling baik (meski keputusan itu pun belum ideal baiknya) di antara keputusan lain yang tidak baik.

Namun, lebih dari itu menggunakan kondom ternyata tidaklah menghambat seseorang untuk menikmati orgasme dan nikmatnya seks. “Semua tergantung dari kita. Kita hanya perlu membiasakan diri saja,” jelas Dr. Nafsiah.

Sebab itu, berikut ini ada 12 alasan yang menguatkan kita kenapa harus menggunakan kondom:
1. Perlindungan diri. Bila dipakai dengan benar dan konsisten melindungi diri dari penyakit menular seksual dan HIV
2. Keluarga Berencana. Salah satu pilihan yang aman terpercaya untuk mencegah kehamilan apalagi zaman sekarang Indonesia sedang mengalami baby booming. perencanaan keluarga berencana perlu digalakkan lagi.
3. Sangat paktis. Mudah dibawa.
4. Semua orang bisa pakai dan tidak ada efek samping.
5. Mudah Digunakan. Di tiap kemasan ada petunjuk pemakaiannya.
6. Menyenangkan. Pemakaian kondom bisa jadi bagian dari foreplay.
7. Dapat diandalkan. Setiap potong kondom harus lulus uji elektronis dan memenuhi Standar Mutu Internasional, ISO 4074.
8. Aman. Kondom lateks tidak bepori seperti sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium. Dapat mencegah pertukaran cairan tubuh. Anda tak perlu khawatir akan bocor.
9. Seksi. Bisa tahan lama, sehingga dapat meningkatkan kepuasan dalam bercinta
10. Terjangkau karena harganya murah.
11. Berpelicin.
12. Banyak Pilihan. Ada berbagai bentuk, ukuran dan aroma kondom yang bisa digunakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: