Cadar, Celana Ngatung, dan Jenggot Bukan Ciri-ciri Teroris!!!?


jika memang cadar sungguh dapat menutupi kecantikan dan keanggunan sejati. alangkah indahnya...

jika memang cadar sungguh dapat menutupi kecantikan dan keanggunan sejati. alangkah indahnya...

Fenomena terorisme yang sedang memanas di Indonesia, sontak membuat segala komponen masyarakat turut gerah. Pemerintah mulai merapatkan segala hukum, perangkat dan aparat untuk mengatasi dan mengantisipasinya. Bahkan cenderung yang penting aman, semua cara dilakukan, tanpa pandang bulu.

Isu terorisme juga nyrempet personifikasi sebuah kelompok aliran keagamaan tertentu. Tudingan dan sindiran mulai dihembuskan kepada mereka. Ciri-ciri fisik, kegiatan keagamaan, hingga cara berpakaian pun mulai di ulik-ulik. Entah siapa yang memulai, itulah yang terjadi. Ciri seperti cadar, celana ngatung, dan jenggot seolah menjadi momok mengerikan bagi masyarakat jika memang pelekatan label teroris secara sengaja disepakati umum oleh masyarakat sendiri.

Nah, untuk sekedar sharing saja, saya pada Kamis, 10 September 2009, mendapatkan sebuah pesan melalui facebook.com dari seorang member/anggota group Anti Israil. Berikut isinya:

Ketahuilah wahai kaum muslimin, memakai cadar bagi wanita muslimah, mengangkat celana hingga tidak menutupi mata kaki, dan membiarkan jenggot tumbuh bagi seorang laki-laki muslim adalah kewajiban agama dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan terorisme, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti bukti-buktinya -insya Allah- dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta penjelasan para ulama umat.

Benar bahwa sebagian teroris juga mengamalkan kewajiban-kewajiban di atas, namun apakah setiap yang mengamalkannya dituduh teroris? Kalau begitu, bersiaplah menjadi bangsa yang teramat dangkal pemahamannya. Maka inilah keterangan ringkas yang insya Allah dapat meluruskan kesalahpahaman.

Pertama: Dasar Kewajiban Menggunakan Cadar bagi Muslimah

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Perhatikanlah, ayat ini memerintahkan para wanita untuk menutup seluruh tubuh mereka, tanpa kecuali. Berkata Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasatul Fadhilah, hlm. 51 karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah).

Istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang mulia: ‘Aisyah radhiyallahu’anha dan para wanita di zamannya juga menggunakan cadar, sebagaimana penuturan ‘Aisyah radhiyallahu ’anha berikut: “Para pengendara (laki-laki) melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Maka jika mereka telah dekat kepada kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah. dan lain-lain).

Kedua: Dasar kewajiban mengangkat celana hingga tidak menutupi mata kaki bagi laki-laki Muslim

Banyak sekali dalil yang melarang isbal (memanjangkan pakaian sampai menutupi mata kaki), di antaranya sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu: “Bagian kain sarung yang terletak di bawah kedua mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Al-Bukhori, no. 5787).

Dan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha: “Bagian kain sarung yang terletak di bawah mata kaki berada di dalam neraka.” (HR. Ahmad, 6/59,257).

Ketiga: Dasar Kewajiban Membiarkan Jenggot Tumbuh bagi Laki-laki Muslim

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan jenggot.” (HR. Muslim no. 624).

Juga dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Berbedalah dengan orang-orang musyrik; potonglah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 625).

Dan masih banyak hadits lain yang menunjukkan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk membiarkan jenggot tumbuh, sedangkan perintah hukum asalnya adalah wajib sepanjang tidak ada dalil yang memalingkannya dari hukum asal.

Demikianlah penjelasan ringkas dari kami, semoga setelah mengetahui ini kita lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi orang-orang yang mengamalkan sejumlah kewajiban di atas. Tentu sangat tidak bijaksana apabila kita mengeneralisir setiap orang yang tampak kesungguhannya dalam menjalankan agama sebagai teroris atau bagian dari jaringan teroris, bahkan minimal ada dua risiko berbahaya apabila seorang mencela dan membenci satu kewajiban agama atau membenci orang-orang yang mengamalkannya (disebabkan karena amalan tersebut).

Bagaiman menurut Anda? Misbah

2 responses to this post.

  1. teroris jadi isu rasis dan SARA ya sekarang, piufff

    Balas

  2. jadi inget temen saya pernah batal berangkat ke USA gara-gara tertahan di keimigrasian. Penyebabnya krn dituduh punya “ciri-ciri” layaknya teroris. Pdahal jengkot udah dipotong ga ada lah tampang2 osama bin laden. Tapi diperkarakan karena 2 hal :
    1. Nama nya timur tengah banget
    2. Jidat hitam
    parah yah….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: