Foto Asli vs Olahan Digital (Oldig) atau Photoshoper: Pilihan Fotografer Masa Kini?


Dulu, ketika pertama kali saya belajar foto memfoto, awalnya hanya sekedar untuk pelengkap tulisan atau berita yang saya buat.

Kamu harus foto obyek yang kamu tulis atau yang kamu ceritakan, selain untuk menambah daya tarik tulisanmu, adanya foto pasti menambah kekuatan berita atau cerita yang kamu buat,” begitulah pesan salah seorang Pimpinan Redaksi (Pimred) salah satu majalah keluarga Indonesia yang di sana saya pernah bergabung.

Itu terjadi sekitar awal tahun 2004-an. Semenjak itu, setiap saya menulis berita atau feature (tulisan berita yang bercerita?), saya berusaha memotret obyek yang saya tulis, walaupun dengan kamera seadanya. Rupanya, ketika saya bergabung dengan beberapa majalah dan tabloid, serta beberapa kali menjadi kontributor salah satu koran harian di Jogja, saran dan masukan dari Redakturnya juga sama.

Saya harus belajar memotret sebuah obyek atau moment“, itu intinya.

Nah, dari situlah, di awal tahun 2006, saya memulai benar-benar menyukai fotografi. Namun, setelah saya memiliki kamera, dan bertemu dengan salah seorang mantan fotografer Koran Jawa Pos, ketika dia sempat mengajari saya fotografi, dia berpesan singkat, dan hingga kini masih membekas di hati saya. Pesannya begini:

Jika kamu mau belajar fotografi dengan serius, belajarlah bagaimana memotret dengan alat fotografi yang disebut kamera itu. Jangan sekali-kali pernah mengolah (edit) foto dimanapun. Foto kamu harus murni berasal dari kameramu. Itulah, baru kamu disebut fotografer“.

Pesan yang mulai menjiwai hasil jepretanku hingga saat ini. Sampai saat ini, saya buta akan editing foto. Paling-paling, saya cuman bisa framing, resize, sharpen, dan memberi caption di foto. Sudah, itu saja.

Namun, malam 1 suro lalu, ketika saya berkesempatan bertemu dan memotret bareng dengan seorang fotografer kawakan dari Magelang, Om Heri Wiyanto, ketika berdiskusi beliau berpendapat yang berbeda.

Memang, betul apa yang menjadi prinsip kamu. Bahwa, kalau memang mau jadi fotografer ya harus belajar memotret dengan kamera, bukan dengan mengolah foto jelek menjadi bagus dengan olahan digital di komputer. Tapi, menurutku, sekarang sudah bukan jamannya lagi. Jika kita tidak bisa oldig, konsumen tak mau tahu. Mereka itu hanya mau tahu hasil akhirnya saja,”

Itu pendapat beliau. Beliau pun berkata, bahwa, memang fotografi murni masih berlaku dalam beberapa genre fotografi, beliau mencontohkan seperti fotografi jurnalistik. Aliran fotografi ini membutuhkan kemurnian dan keaslian moment atau obyek yang di foto.

Nah, untuk modeling, jelas sangat berbeda. Editing sangat dibutuhkan di situ. Wajah model butuh dihaluskan dan diberi asesoris untuk keindahannya. Sama dengan prewedding atau wedding photography, konsumen cuman hanya tahu, foto hasil cetak akhirnya bagus. Udah, titik. Jadi, sekarang, keahlian fotografi harus juga diimbangi dengan editing. Kalau tidak, kita pasti ketinggalan dengan yang lain.” kata beliau, membimbingku..

Akhirnya, aku berpikir, saat ini, sudah saatnya aku belajar editing foto. Ya, aku harus belajar.

Bagaimana menurut Anda wahai para suhu fotografi? Mohon masukannya ya… (Mishbahul Munir)

One response to this post.

  1. susah juga ya editing foto?
    tx infonya mas misbach

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: