Posts Tagged ‘Cak Nun’

WS Rendra, Si Burung Merak Itu Telah Tiada, Menyusul Karibnya Mbah Surip

karya-karyamu akan terus kami resapi dan teladani...

karya-karyamu akan terus kami resapi dan teladani...

Seperti sudah janjian, kini WS Rendra yang terkenal dengan syair-syairnya yang fenomenal, mengikuti jejak kehidupan selanjutnya bersama Mbah Surip. Baru berselang 2 hari, Si Burung Merak menyusulnya.

Sungguh, penyair yang sudah resmi masuk Islam ini sangat saya kagumi. Banyak sekali kata-katanya menjadi inspirasi dan semangatku. Dia bisa mengalunkan sebuah nuansa kesyahduan, kegetiran, hingga perjuangan. Berkali-kali saya bertemu beliau, beliau pun tak enggan ngobrol bersama kami, fans beliau. Terakhir, saya bertemu beliau sebelum beliau sakit, ketika beliau turut persiapan pementasan Tikungan Iblis yang dikomandoi oleh Cak Nun beserta Kyai Kanjeng.

Sungguh, Baca lebih lanjut

syarat utama dan satu-satunya syarat menjadi calon presiden (capres) dan wapres: sungguh-sungguh manusia

Tadi malam, alhamdulillah saya bisa hadir kembali dalam pengajian mocopat syafaat padhang mbulan yang diasuh Cak Nun atau Emha Ainun Najib di Kasihan, Bantul, Yogyakarta, periode 17 April 2009.

Satu hal terpenting yang saya rangkum dalam diskusi kami malam yang penuh cinta tersebut adalah mensyaratkan satu syarat tunggal bagi calon presiden atau capres dan wakilnya, yaitu bisa menjadi dan sungguh-sungguh manusia. “Maksudnya kalau asal jadi manusia, ya kita semua bisa. Sehat jasmani, hidung lengkap, berpendidikan minimal kuliahan, mata melek, hidung tidak tuli akan bau, telinga masih waras, dll, bukan itu maksudnya. Gampang banget kalau cuman itu. Pertanyaannya, apakah kita paham dan bisa menjadi sungguh manusia?” itulah celetuk dan salah satu guyonan kita malam itu.

Yang dimaksudkan ‘manusia’, adalah makhluk paling sempurna dijagad alam semesta ini. Baca lebih lanjut

dari mocopat syafaat padhang mbulan 17 maret 2009: petuah dan pagelaran syukuran pernikahan Noe dan Ucie

Sangat beruntung sekali saya bulan Maret 2009 ini bisa menyempatkan diri untuk menghadiri jamaah maiyah pengajian padhang mbulan mocopat syafat di rumah Cak Nun yang terletak di Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Gimana tidak beruntung? Malam itu didedikasikan pula untuk syukuran walimahan resepsi pernikahan Noe dan Ucie yang telah berlangsung 19 Februari 2009 lalu. Noe yang merupakan putra Emha Ainun Najib juga vokalis Band Letto ini punya nama asli dan lengkap: Sabrang Mowo Damar Panuluh. Sedangkan Ucie, istrinya, punya nama lengkap Fauzia Fajar Putri, seorang gadis dari Sulawesi.

Pengajian Padhang mBulan Januari dan Februari karena beragam kesibukan yang tidak bisa saya tinggal membuat saya tidak bisa menghadiri. Sungguh saya sangat kangen sekali. Dan, alhamdulillah, bulan ini saya bisa hadir. Kangen saya pun tambah meluap dan bisa terobati. Malam itu benar-benar sangat berbeda dari biasanya. Selain ada syukuran pernikahan tadi, ada 4 band terkenal yang turut manggung dalam satu panggung (Letto, Kandela, Kiayi Kanjeng, dan satu lagi lupa), juga mendiskusikan sesuatu yang selama ini menjadi teka-teki dalam benak saya. Baca lebih lanjut

Ketekunan Beribadah dan Keeratan Kekeluargaan: Penyelamat Indonesia pada 2012

“Saya yakin, pada tahun 2012, Indonesia tidak akan apa-apa. Akan aman dari adzab atau cobaan yang maha dahsyat dari Alloh swt. Alasannya ada dua. Pertama, masih banyak orang Indonesia yang serius dan tekun dalam beribadah. Dan yang kedua, saya melihat di dunia ini yang tidak terkalahkan dari Indonesia adalah keeratan nilai-nilai kekeluargaan yang masih sangat tinggi sekali,”

caknunIni yang dikatakan Emha Ainun Najib atau Cak Nun, dalam pengajian Maiyah di Kasihan, Bantul, Yogyakarta, 17 Desember 2008 lalu. Soal ibadah orang Indonesia, dia melihat, walaupun setelah sholat banyak yang langsung melakukan maksiat, mereka paling serius dan khusuk dibanding negara lain. “Walaupun setelah sholat, sejam kemudian mereka mabuk. Itu biasa di Indonesia. Tapi mereka ketika beribadah sangat serius. Mereka tahu akan dosa dan kemaksiatan yang mereka perbuat. Saya tidak melihat hal ini di negara lain, bahkan di Makkah Arab Saudi sekalipun”, tutur Cak Nun.

Di Indonesia pula, tidak ada tandingannya soal kekeluargaan. “Preman sekelas Macan (preman kelas kakap Jogja), ketika curhat dengan saya saja, dia mengatakan, ‘cak, walaupun saya preman dan sudah membunuh puluhan orang, saya mohon didoakan khusus kepada anak saya agar dia tidak seperti saya kelak, ya‘. Jadi, walaupun preman, soal keluarga dia masih berhitung berjuta kali. Inilah yang saya katakan tidak ada di belahan dunia manapun”, jelasnya.

“Jadi tenang saja, walaupun belum jelas apa yang bakal terjadi untuk tahun 2012, untuk Indonesia, saya yakin Alloh swt akan berbicara lain dan akan mengamankan ummatnya semua. Amin”, ujar Cak Nun ketika menanggapi salah satu pertanyaan dari jamaah Maiyah yang mengulas tentang ‘ramalan’ tahun 2012. (Misbah)