Posts Tagged ‘Portofolio’

jadi photographer vs photoshoper: belajar fotografi harus terjun langsung lapangan agar tahu terjalnya medan

Seorang teman berdiskusi dengan saya. Kami berdua bersepakat bahwa sama-sama pemula. Kami sharing berbagai hal mengenai fotografi dan photoshop. Awalnya dia tanya “mas, jepretan sampean itu diapain aja di photoshop?” Jawabku, “aku pengen jadi photographer bos, bukan photoshopers”. Hehe… Canda kami pun mengalir.

Memang, banyak fotografer profesional yang saya kenal, pasti membekali diri mereka dengan keahlian editing, retouch, dan lain sebagai dengan Baca lebih lanjut

metode belajar dan mengasah pola pikir dengan memanfaatkan pola dasar jurnalistik (5w+1h)

Memang, proses belajar itu tidak ada hentinya. Saya sendiri, ketika sedang belajar bersama dengan teman-teman unit kegiatan siswa Jurnalistik di MA Sunan Pandanaran, setiap hari Ahad atau Minggu sore, selalu menemukan sesuatu yang saya rasakan baru dan bermanfaat. Nah, pada Minggu ini, setelah minggu lalu kami 1 bus bersama-sama melakukan kunjungan ke tempat produksi kalimat dan media harian Kedaulatan Rakyat di Jalan Mangkubumi dan Jalan Adisucipto, saya merasakan 1 manfaat yang luar biasa ketika saya menerapkan pola belajar, khususnya pola pikir, yang menfaatkan pola dasar jurnalistik, yaitu 5W+1H. Rumus yang sangat terkenal itu adalah singkatan dari What, When, Where, Why, Who, and How.

Jadi, begini ceritanya, sebelum berangkat berkunjung ke KR, minggu sebel Baca lebih lanjut

awas! siapkan diri untuk disebut ‘penjilat’: sebuah catatan kehumasan

Penjilat. Iya, itulah salah satu julukan yang paling tidak mengenakkan bagi para pegiat kehumasan, public relation, atau kewartawanan. Dengan tugas yang menuntut untuk terus mencari informasi sebanyak mungkin dari segala lini organisasi (formal dan nonformal), baik dari karyawan paling bawah hingga pemimpin tertinggi.

Itulah salah satu poin yang saya sampaikan kepada rekan-rekan peserta pelatihan jurnalistik kehumasan beberapa waktu lalu yang diikuti oleh Humas Kantor PDE Pemkab Kutai Kertanegara (27/11/2008). Sebagai seorang yang menyediakan informasi dari dan untuk seluruh anggota organisasi dan stake holder di luar organisasi, dengan sebaik mungkin dia harus menjalin hubungan dengan siapapun.

Seorang humas, PR, atau wartawan, harus memiliki jiwa yang terbuka, mudah bergaul, dan jeli dalam melihat informasi yang ada. Dia dituntut untuk bisa bergaul dengan siapapun. Nah, mungkin kalau berkomunikasi atau bergaul dengan rekan sesama bawahan, tidak akan jadi masalah, atau resikonya sedikit. Namun, payahnya bila kita harus pula tiap saat mendapatkan informasi dari pimpinan kita. Setiap saat kita harus siap menerima perintah dari pimpinan kita. Setiap saat pula kita harus menyampaikan informasi penting dari pimpinan kita untuk kita share ke publik lewat press release. Terkadang, kapanpun kita harus siap mendampingi sang pimpinan melakukan aktivitasnya agar kita bisa menjadi orang pertama yang menginformasikan apa yang disampaikan pimpinan ke khalayak umum. Bahkan, jam berapapun, ketika pemimpin membutuhkan kita, kita harus siap melayaninya.

Pemimpin, dalam arti luas, bagi seorang humas, PR, atau wartawan, adalah sumber informasi utama untuk publikasi dan promosi sebuah lembaga. Kedekatan dan kelancaran informasi dari pimpinan ke humas dapat menjadi ukuran efektifitas perusahaan dan menjadi cerminan good image bagi stakeholder.

Oleh sebab itu, bagi seorang humas, PR, atau wartawan, sudah selayaknya harus bisa menjaga diri untuk tidak seperti ‘penjilat’. Ini memang sulit, tapi harus kita lakukan karena tanggung jawab dan tugas. Kita harus bisa pula jaga jarak dan jaga kedekatan tapi tetap profesional dalam melaksanakan tugas. Tutup telinga rapat-rapat bila ada ‘komentar miring’ terhadap kita. Tunjukkan saja hasil kerja terbaik yang bisa kita tampilkan. Dan, satu lagi, jangan sampai, ketika sang pemimpin berganti, kita dijauhi oleh pemimpin yang baru. Hal ini sangat mungkin terjadi karena pemimpin yang baru menganggap kita sebagai ‘antek’ pemimpin yang lama.

Selamat berjuang kawan-kawan pegiat kehumasan, PR, dan jurnalis. Semoga sukses selalu. (Mishbahul Munir)

Kebagian Dokumentasi dan Publikasi dalam SNATI 2008: Dipresentasikan 119 Makalah Hasil Penelitian dari Akademisi dan Praktisi

Sudah selama 4 kali penyelenggaraan Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi atau SNATI, walaupun bukan Ketua Panitia, saya selalu menjadi kontak person atau pelaksana paling sibuk. Gimana tidak? mulai dari penyebaran undangan, penjaga gawang komunikasi dengan peserta baik via email maupun pertelpon, mengedit dan me-layout paper yang masuk hingga jadi prosiding/proceedings, hingga mengatur koordinasi dengan panitia mahasiswa, sampai komunikasi pasca hari H bila ada peserta yang komplain karena ada yang kurang berkenan atau ucapan terimakasih dan bangga karena SNATI dirasakan menjadi ajang yang menyenangkan dengan pelayanan yang tak kalah dengan “hotel bintang 5″.

Prof. Mauridhi Hery Purnomo (ITS), Prof. Soekartawi (Unibraw), Fathul Wahid (Dekan FTI UII), Prof. Ahmad Fadzil B Mohamad Hani (Petronas Malaysia), dan Asistennya.Untuk pelaksanaan yang ke-5 ini yaitu tanggal 21 Juni 2008, karena bertepatan dengan ujian saya di FEB UGM (tanggal 2-14 Juni 2008), maka saya tidak bisa berkontribusi maksimal terutama dalam persiapannya. Saya hanya bisa membantu dokumentasi foto dan publikasi dengan mengundang teman-teman wartawan media massa yang perwakilannya atau memang kantor pusatnya di Yogyakarta. Untuk fotografi saya dibantu oleh Aji, mahasiswa yang juga teman saya di klub fotografi.

Hasilnya, alhamdulillah, semua media memuat berita kami. Yang cukup menggembirakan karena beritanya cukup besar dan komprehensif, antara lain: Kompas, Kedaulatan Rakyat, dan Republika. Saya ucapkan terimakasih kepada Mbak Amanda (Kompas), Mbak Ninik atau Fadmi Sustiwi (KR), dan Heri Purwata (Republika). Tak lupa, saya juga mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan: Pak Asril (Suara Merdeka), Philipus Jehamus (Bernas), Arin (Unisi FM), dan Mbak Sulastri (RRI), yang telah berkenan meliput dan memuat kegiatan kami.

Oh ya, berikut statistik jumlah peserta SNATI tiap tahun mulai 2004 hingga 2008.

Tahun     Makalah masuk      Makalah diterima masuk prosiding
2004             75                          69
2005             132                        122
2006             178                        146
2007             181                        168
2008             198                        119

Sedangkan, untuk peserta non makalah sebagai berikut: 11 peserta (tahun 2004), 88 (2005), 62 (2006), 49 (2007), dan 53 untuk tahun 2008. Terimakasih kepada seluruh peserta, panitia, dan seluruh pihak yang telah membantu keberlangsungan SNATI. Semoga bermanfaat. (Misbah)