Posts Tagged ‘sahabat’

Pagi yang Menggembirakan Bersama Sahabat Lama

Pagi ini aku membuktikan satu hal. Yaitu, sangat mudah untuk mendapatkan kondisi positif dalam diri kita. Hanya cukup dengan bertemu atau mendapatkan diri dalam kondisi suasana yang baru. Baru dalam arti benar-benar baru, atau sesuatu yang baru setelah lama kita tak bertemu atau melakukannya.

Jadi, begini ceritanya. Karena semalam jam 03.00 dini hari baru bisa memejamkan mata, akhirnya bangun pun kesiangan. Matahari mulai terasa menyengat sinarnya di kulit kita. Badan pun terasa sedikit pegal-pegal dan kurang fit karena kurang istirahat.

Usai menyelesaikan rutinitas pagi, saya mencoba pergi untuk sarapan di sebuah warung soto dekat rumah. Usai memesan dan duduk di salah satu sudut meja, saya pun mulai asyik buka gadget untuk cek email, facebook, dll. Tak berapa lama, saya terkaget, karena mendadakan ada seseorang yang duduk disamping saya dan mendekap saya.

Puji Tuhan! Baca lebih lanjut

jika bisa menambah kawan, kenapa harus cari lawan?

jika sebuah kesendirian itu menyakitkan, mengapa harus sendiri?

Hai sahabatku semua, ketika bangun pagi ini, setelah siang dan malam harinya saya harus bergelut dengan beragam masalah pertemanan, saya terbersit untuk berbagi gairah untuk selalu hidup berdampingan dengan penuh kasih sayang dan cinta.

“Jika kita sudah pernah berjumpa, tidakkah akan menjadi lebih indah jika hati kita juga bersua. Bertaut satu dengan yang lain. Jika kita bisa menambah kawan, sahabat dan saudara, kenapa pula harus mencari lawan dan perkara? Jika kita bisa bergandeng tangan bersama menghadapi dan menjalani hidup bersama, mengapa kita harus mempersulit hidup dengan amarah dan nafsu durjana?”

Itulah kalimat yang kusampaikan dan kutekankan kepada diriku sendiri dan teman-teman seperjuangan saya. Alangkah akan begitu indah hidup ini jika semua di antara kita bisa bersinergi sehati demi membangun kehidupan yang kian indah menuju kehidupan berikutnya.

Kita coba dan terus coba lepaskan bejibun kepentingan. Kepentingan politik, ekonomis, golongan, etnis, agama, dan lain sebagainya. Tak ada lagi persaingan yang ditumpangi kebencian dan kedengkian. Tak ada lagi saling rangkul tapi hanya untuk membunuh karakter orang lain. Tidak ada lagi saling tuduh, saling tindih, saling sindir, saling sikut, dan saling-saling negatif lainnya. Baca lebih lanjut