Berbagai Prosesi Menyambut Bulan Puasa: ‘Nyadran’, ‘Mapak Poso’, ‘Sedekah Arwan’, ‘Megengan’, dan Lain Sebagainya


Ada seorang sahabat dari Jambi kirim message ke friendster saya hari ini. Ini isinya:

“Assalamu’alaikum. Piye kabare mas? Apik to? Aku di Jambi sekeluarga sehat. Menjelang puasa, minta maaf lahir batin ya. Mumpung lagi ngomongin tentang puasa, aku sedikit ‘tergelitik’ dengan salah satu adat masyarakat Jambi menjelang puasa, yaitu “Sedekah Arwah”. Pasti Mas Misbah akan tersenyum mendengarnya. Kalau orang Jawa Tengah terutama daerah Rembang dan sekitarnya biasa menyebutnya “Mapak Poso”.
Kalau di Jawa ritual Mapak Poso biasanya ditandai dengan menghantar makanan (berupa nasi urapan beserta lauk telur) ke tetangga-tetangga (setidaknya itu yang sering dilakukan eyangku). Kalau di Jambi lain lagi ceritanya. “Sedekah Arwah” yang intinya adalah mengirim doa kepada para arwah leluhur, dilakukan secara prasmanan. Undang tetangga kerabat, dengan suguhan panganan yang tidak bisa dibilang sederhana, tapi juga tidak mewah. Ibu-ibu yang datang terkadang berpenampilan seperti hendak kondangan pesta kawinan saja.
Saya jadi “Mikir” bukankah Islam itu tidak memberatkan, tapi sepertinya tradisi sebagian masyarakat kita memandang beberapa peristiwa penting dalam Islam sebagai sesuatu yang mesti disambut dengan syukuran (kalau tidak bisa dibilang perayaan) yang bisa meningkatkan prestise si empunya yang punya acara, di mata masyarakat. Lha wong di Jambi ini mas, syukuran anak saja pakai undang organ tunggal (dan kayaknya hukumnya wajib gitu). Seperti orang kawinan aja ya?
Kalau menurut Mas Misbah gimana? Perlu ga sih, kita generasi yang muda, meneruskan tradisi nenek buyut kita yang seperti itu? Sebab kalau mereka ditanya kenapa mesti begitu? Jawabannya pasti “sudah turun temurun dari nenek moyang” Salam,”

Oke, jawaban saya lebih kurangnya begini:

“Sukma, ahamdulillah berkat doamu diriku sehat selalu. Apik buanget. Semoga kamu dan keluarga sehat dan tak kurang suatu apapun ya. Mohon maaf lahir batin juga atas semuanya yang kurang berkenan.
Kalau di Jambi ada “Sedekah Arwah”, Jawa Tengah ada “Mapak Poso”, maka di Jogja, Klaten, Solo dan sekitarnya, ada yang namanya “Nyadran”. Kalau di Jawa Timur daerah Tuban dan sekitarnya ada “Megengan”. Prosesi dan tujuannya hampir sama semua. Bahkan, di Jogja ada “Padusan” segala.
Kalau ditanya itu gimana, ya, terserah masing-masing orang saja. Bila kita berpegang teguh dengan ke-Islam-an kita, ya, yang seperti itu pasti gak ada. Tidak dituntunkan oleh Nabi. Apalagi, kalau orang Muhammadiyah, yang seperti itu Syirik hukumnya. Jadi, kesimpulannya, terserah masing-masing keyakinan saja. Mana yang terbaik menurut tuntunan mereka saja deh.
Dalam sebuah literature menyebutkan, bahwa salah satu sumber pengetahuan (knowledge) adalah mitos, takhayul, dan tradisi. Jadi, biarlah itu berlangsung sesuai waktu dan jaman. Biarkan menjadi pemerkaya budaya Indonesia saja.
Kalau untuk pribadi kita, dari pada buang-buang uang buat beli jajanan atau masak-masak yang diniatkan seperti itu, mendingan lebih baik uangnya diberikan kepada fakir miskin atau anak yatim yang membutuhkan saja. Bagaimana pun bentuknya, baik uang cash langsung, atau dengan cara mempekerjakan mereka, atau apapun yang penting baik caranya. Mungkin akan lebih bermanfaat ya. Kalau mau berdoa, buat diri sendiri atau nenek moyang yang sudah mendahului kita, doa yang terbaik, ya, dilakukan di tempat yang terbaik pula, yaitu di tempat ibadah, masjid, atau musholla atau waktu-waktu tertentu yang telah dituntunkan dan dicontohkan oleh Rosul Muhammad SAW. Untuk mengkaji lebih dalam, coba cari di google dengan kata kunci ‘Nyadran’, banyak pendapat yang bisa kita petik”

Ini contoh artikelnya: opini 1, opini 2, cerita lain, artikel UNY, dari sisi etika filsafat, dan lain-lain.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: